MANADOPOST.ID - Sektor hortikultura di Kota Tomohon menunjukkan dinamika yang kuat dalam empat tahun terakhir. Data terbaru Kota Tomohon Dalam Angka 2025 yang diterbitkan BPS Tomohon, memperlihatkan bahwa perubahan luas panen berbanding lurus dengan fluktuasi produksi berbagai komoditas sayuran semusim. Kondisi ini mencerminkan bagaimana petani terus menyesuaikan strategi tanam di tengah tantangan iklim, efisiensi lahan, dan perubahan permintaan pasar.
Cabai tetap menjadi komoditas paling menonjol sekaligus paling berisiko. Cabai rawit mencatat luas panen terbesar pada 2021 dengan 198 hektare dan produksi mencapai 18.676 kuintal. Setelah itu, baik luas panen maupun produksi mengalami penurunan tajam pada 2022, sempat pulih pada 2023, lalu kembali merosot drastis pada 2024. Pola serupa juga terlihat pada cabai keriting yang mencapai puncak produksi pada 2023 sebelum anjlok pada tahun berikutnya. Fluktuasi ini menegaskan posisi cabai sebagai komoditas bernilai tinggi namun sangat sensitif terhadap cuaca dan harga.
Bawang daun memperlihatkan hubungan yang jelas antara luas panen dan produksi. Peningkatan luas panen pada 2023 mendorong produksi hingga di atas 23 ribu kuintal, namun penyusutan lahan pada 2024 berimbas langsung pada penurunan produksi menjadi 13.743,75 kuintal. Bayam dan buncis juga menunjukkan karakter berbeda. Bayam sangat fluktuatif dengan lonjakan produksi pada 2023 yang tidak bertahan lama, sementara buncis relatif lebih stabil dan sempat mencatat produksi tertinggi pada 2023 meskipun turun kembali pada 2024.
Sejumlah sayuran daun lain menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Kangkung menjadi contoh paling jelas dengan luas panen yang terus menyusut dari 2021 hingga 2024, diikuti penurunan produksi yang tajam hingga hanya sekitar seribu kuintal pada tahun terakhir. Kacang panjang juga mengalami penurunan produksi seiring berkurangnya luas panen, meskipun sempat membaik pada 2023.
Baca Juga: Potensi Besar Pertanian Kota Tomohon, Sayuran Ini Jadi Andalan
Pada kelompok sayuran dataran tinggi, kembang kol tampil sebagai pengecualian. Meskipun luas panennya tidak meningkat drastis, produksi kembang kol justru mencapai titik tertinggi pada 2024. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan produktivitas lahan dan efektivitas budidaya. Kentang masih dibudidayakan dalam skala terbatas, dengan produksi yang sempat meningkat pada 2023 sebelum kembali menurun pada 2024.
Komoditas labu siam, terung, tomat, dan petsai cenderung mengalami penurunan baik dari sisi luas panen maupun produksi. Labu siam dan terung menunjukkan penurunan tajam pada 2024, sementara tomat relatif stabil namun berada pada tren menurun. Petsai tetap menjadi salah satu komoditas dengan luas panen dan produksi besar, meski angka 2024 menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Wortel masih menjadi komoditas dengan cakupan lahan terluas dan produksi terbesar di antara sayuran semusim lainnya. Namun tren yang terlihat adalah penyusutan yang konsisten dari tahun ke tahun, baik dari sisi luas panen maupun produksi. Meski demikian, peran wortel dalam struktur hortikultura Tomohon masih sangat dominan.
Untuk kelompok buah-buahan semusim, data luas panen dan produksi melon serta semangka belum tercatat sepanjang 2021 hingga 2024. Kondisi ini menandakan bahwa subsektor buah buahan semusim belum menjadi fokus utama pengembangan pertanian di Kota Tomohon.
Secara keseluruhan, data luas panen dan produksi ini menggambarkan wajah pertanian hortikultura Tomohon yang tengah berada dalam fase adaptasi. Fluktuasi lahan dan hasil panen menjadi cerminan upaya petani dalam mengelola risiko dan peluang. Informasi ini menjadi pijakan penting bagi perencanaan kebijakan pertanian daerah agar pengembangan komoditas unggulan dapat diarahkan secara lebih berkelanjutan dan berdampak langsung pada perekonomian lokal.(pr)
Editor : Pratama Karamoy