Bendungan Kuwil Selamatkan Manado dari Air Bah, Ini Saran Praktisi-Akademisi Agar Bebas Banjir
Desmi Babo• Sabtu, 28 Januari 2023 | 10:07 WIB
PhotoMANADOPOST.ID---Cuaca ekstrem yang melanda sebagian Wilayah Sulawesi Utara (Sulut) sejak Kamis (26/1) malam, dimana curah hujan dengan intensitas tinggi dan lebat mengguyur sebagian besar kota Manado dan sekitarnya menyebabkan banjir dan tanah longsor di beberapa titik. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geogisika (BMKG) pun beberapa kali meng-update peringatan cuaca ekstrim. Terpantu Manado Post daerah Bailang, Mahawu, Buha, Ternate Tanjung, Kampung Tubir, Banjer, Taas, Tikala, Paniki, Malalayang, Sario merupakan daerah terparah yang dilanda banjir dan tanah longsor tersebut. Untung saja ada Bendungan Kuwil yang menyelematkan Kota Manado dari 'Air Bah'. “Banjir yang terjadi saat ini memang cukup parah, namun tak separah waktu 2014. Tinggi air di rumah satu meter, kalau tidak ada Bendungan Kuwil, mungkin so anyor (hanyut) kita pe rumah," ungkap Masodik mengisahkan cerita peristiwa banjir bandang pada Tahun 2014 lalu. "Bersyukur dengan keberadaan bendungan ini dapat meredakan banjir. Tapi posisi saat ini juga kita menunggu agar direlokasi,” tambah Masodik warga Kelurahan Ternate Baru yang berdomisili di samping Sungai Tondano kepada Manado Post. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapelitbangda) Manado Liny Tambajong menguraikan bahwa dampak banjir yang terjadi di Manado telah direduksi melalui Bendungan Kuwil. Meski secara keseluruhan banjir di Manado, menurut Liny tidak dapat dikendalikan oleh Bendungan Kuwil tersebut. Photo REDAM BANJIR: Saat hujan deras melanda Kota Manado, Bendungan Kuwil tengah menampung debit air dari Sungai Tondano. Terpantau hingga Pukul 17.00 WITA (27/1), Bendungan Kuwil tengah menampung air hingga elevasi 98. “Kalau Bendungan Kuwil, dapat menahan air dari Airmadidi, Danau Tondano dan dari bagian atas, karena fungsinya menahan air yang ada di hulu. Sedangkan yang terjadi di Manado, dengan intensitas curah hujan 300 milimeter per detik itu sangat besar. Jadi bukit-bukit yang masuk wilayah Manado juga berkontribusi run off nya tertampung di Sungai Tondano yang letaknya sesudah Bendungan Kuwil. Dan ini susah tidak bisa dikendalikan oleh Bendungan Kuwil,” ungkap Tambajong. Ia pun menyebutkan bahwa jika tak ada Bendungan Kuwil, kemungkinan banjir yang lebih besar dapat melanda Kota Manado. “Kalau tidak ada Bendungan Kuwil, berarti akan ketambahan air yang masuk ke hilir di Kota Manado. Jadi sesuai data intensitas curah hujan yang sangat tinggi di Manado bahkan sangat ekstrim tidak dapat dikendalikan oleh Bendungan Kuwil yang berada di atas Manado,” urai Doktor lulusan Pengembangan Sumber Daya Alam dan Lingkungan ini. Photo Terpantau oleh Manado Post, hingga Pukul 21.00 WITA (27/1), air yang menggenangi jalan dari arah Tikala menuju Pumorouw masih tergenang. Kendati pada ruas jalan samping Sungai Tikala, air sudah mulai surut. Untuk itu, dia pun menguraikan beberapa langkah yang wajib dilaksanakan pemerintah selaku pemangku kepentingan agar dapat mengendalikan banjir sedini mungkin agar tidak menyebabkan kerugian bagi masyarakat maupun pemerintah. “Jadi langkah yang harus dilakukan oleh pemerintah saat ini adalah penertiban bangunan di garis sempadan sungai, kemudian pengendalian bangunan. Karena masyarakat sudah membangun tanpa ijin mendirikan bangunan. Untuk itu dalam penanganan bencana, yang dibutuhkan bukan hanya recovery pada saat bencana seperti membawa bantuan, pengungsian. Tapi harusnya ada tindakan awal yaitu mitigasi dan adaptasi sehingga akan mengurangi bencana. Makanya harus dilaksanakan mitigasi. Ini adalah jangka pendek yang harus secepatnya dilakukan pemerintah,” tegas Tambajong. Untuk melaksanakan kegiatan mitigasi bencana sedini mungkin, Tambajong menambahkan bahwa hal tersebut dibutuhkan ketegasan dari pemerintah. “Makanya, jalan-jalan air tidak boleh ditutup, karena kalau air meluap, maka dia akan mencari jalannya kembali. Makanya pemerintah harus tegas dalam menertibkan Perda, kadang-kadang harus bertangan besi juga. Jangan sampai hanya akibat beberapa orang yang melakukan penyempitan sungai dan drainase, banyak orang bahkan sebagian Kota Manado yang kena dampaknya,” urai Kepala Bapelitbangda Manado kepada Manado Post. Sementara itu, terkait program program pembangunan bangunan pengendali banjir untuk mencegah banjir di Kota Manado yang merupakan program pusat yang dibiayai oleh Bank Dunia untuk mencegah banjir di Manado, Liny pun menyamlaikan bahwa hal tersebut harus diseriusi pula oleh Pemkot Manado. “Untuk kegiatan pemerintah pusat dalam rencana pelebaran sungai dan pembangunan tanggul pengendali banjir, meskipun anggaran untuk pembebasan lahan itu dari pusat, tetapi harus disupport oleh daerah. Karena pemerintah daerah yang punya masyarakat sehingga supportnya itu pemerintah kota dapat melakukan pendekatan ke masyarakat yang masih menolak untuk dilaksanakan pembangunan pengendali banjir,” terang Tambajong, wanita lulusan S2 Pasca Sarjana Ilmu Manajemen Perkotaan Unsrat. Sementara itu, masyarakat bantaran sungai saat ditemui oleh Manado Post kerap mempertanyakan program relokasi rumah untuk dijadikan tanggul banjir. Dalam wawancara Manado Post dengan masyarakat bantaran sungai pada tiga sungai yang direncanakan akan direlokasi oleh pemerintah, sebagian besar menyinggung soal relokasi dan ganti untung yang telah dijanjikan oleh pemerintah. Yusni Datu warga yang berdomisili di Bantaran Sungan Tondano, ia mengaku saat ini sementara menunggu proses pembayaran tanah untuk selanjutnya dapat membeli rumah yang baru. “Saya sudah didata dan siap direlokasi. Mudah-mudahan cepat pembayaran ganti rugi supaya boleh beli rumah baru,” kata Datu seraya membersihkan rumah usai terjadi banjir. Hal yang sama pula diungkapkan Hairun Saing, warga yang bermukim di bantaran Sungai Tikala, di Kelurahan Banjer Lingkungan Dua. Kepada Manado Post, Saing mengaku telah bermukim sejak Tahun 1985 dan menanti untuk direlokasi. “Tahun 2020, juga terjadi satu hari full hujan. Jadi sama persis dengan ini dampaknya. Sehingga semua kelurahan di bantaran sungai ini sudah setuju untuk direlokasi. Makanya yang kita harapkan dari pemerintah agar program ganti untung ini cepat realisasinya. Selain itu, pemerintah juga mohon bisa sediakan dapur umum untuk masyarakat terdampak di Sungai Tikala ini,” kata Saing. Silvester Korompis dan Meidy Wenur, suami istri yang bermukim di Kelurahan Tanjung Batu Lingkungan 1, tepatnya di samping Sungai Sario juga turut menanti program ganti ungtung pemerintah. "Kita sudah sepakat dan sudah tanda tangan bersama 18 KK yang ada di lingkungan sini, berharap cepat diganti untung karena kita juga menunjang program pemerintah yaitu green line," kata Wenur didampingi sang suami saat diwawancarai oleh Manado Post. Menanggapi hal tersebut, terkait Program Ganti Untung untuk Pembangunan Bangunan Pengendali Banjir, Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kantor Wilayah Sulut Lutfi Zakaria menyebutkan bahwa terkait program tersebut, akan dimulai pada akhir bulan ini. Photo Terpantau hingga Pukul 22.00 WITA (27/1), tampak rumah disamping Jembatan Sario masih tergenang air. “Kita akan mulai kegiatan indentifikasi obyek dan subyek dengan dimulai sosialisasi tanggal 31 Januari 2023. Sebelumnya, kami menunggu tanda batas terpasang dulu,” kata Kepala BPN. Adapun banjir yang terjadi di Manado kemarin (27/1) juga mendapatkan perhatian berbagai kalangan Praktisi, Akademisi dan Pemerhati Lingkungan. Salah satunya Dr. Joy Albert Sumakul, PG.DipSc, MA. Praktisi sekaligus pemerhati lingkungan ini, ketika dimintai keterangan terhadap penyebab banjir, kepada Manado Post dia menguraikan bahwa curah hujan yang tinggi dengan intensitas yang lama mengakibatkan daya tampung sungai tidak mencukupi. “Jadi kan hujan yang lebat dan lama mengakibatkan tanah menjadi jenuh, maka tanah itu tidak bisa menyerap air lagi, sehingga air tergenang dan ketika turun ke sungai dan sungai juga penuh maka meluaplah air ini. semakin lama, semakin besar meluapnya. Ini yang mengakibatkan banjir besar di Manado,” ungkap Alumnus The University of Queensland’s Australia ini. Ia-pun menjelaskan bahwa selain faktor alam, ada faktor prilaku manusia juga yang menyebabkan banjir tersebut. “Dengan maraknya pembangunan dengan tidak memperhatikan dampak terhadap lingkungan juga bisa menjadi penyebabnya, misalnya hutan lalu dibuat pemukiman. Budaya orang membuang sampah sembarang juga bisa jadi penyumbatan pada anak sungai juga bisa menjadi penyebabnya,” urai Sumakul Adapun dikatakan Ahli Rekayasa Lingkungan dari The University of Queensland’s Australia ini bahwa faktor yang sangat berpengaruh terhadap banjir yang terjadi yakni penyempitan area hilir sungai. “Ini karena hilirnya sungai kelaut semakin mengecil. Jadi, seperti di Jembatan Sukarno, jadi sungai disitu jadi Bottleneck, maka air susah keluar ke laut yang artinya terjadi penyumbatan disitu. Nah begitu juga saya lihat di Sungai Bailang ketika dibangun Jembatan Boulevard 2, maka disitu juga terjadi bottleneck. Jadi jangan heran kalau yang lalu banjirnya di situ sekarang jadi parah,” jelas Sumakul. Saat dimintai solusinya, Master of Arts dari Mohidol University Thailand ini mengatakan bahwa dibutuhkan muara sungai baru untuk menuju ke laut. “Jadi kan di muara sungai menuju ke laut, di sungai Tondano dan Sungai Bailang itu sudah dibuat jembatan, jadi sudah tidak bisa diperlebar. Maka solusinya pemerintah harus membuat muara baru di sampingnya. Jadi di sungai itu harus ada dua muara sungai menuju ke laut. maka airnya akan lebih mudah mengalir dari hulu ke hilir laut. Maka langkah pertamanya, pemerintah harus bebaskan lahan untuk jalur sungai baru di sebelah jembatan itu. Kan Kalau ada dua jalur menuju ke laut maka kemungkinan banjir akan berkurang karena air sudah lancar ke laut, tidak tertahan lagi di muaranya,” terang Sumakul. Hal yang sama juga diuraikan Prof Dr Treesje K Londa MSi. Peneliti sekaligus Pemerhati Lingkungan ini menyebutkan bahwa banjir di Manado disebabkan oleh masalah yang kompleks, yakni akibat alih fungsi lahan untuk pembangunan sementara tempat untuk serapan air sangat minim. “Pada saat hujan, terjadi peningkatan volume air permukaan sehingga daya serap tanah tidak berfungsi lagi akibat betonisasi, drainase tersumbat sampah dan tertutup gulma dan sedimentasi. Akibatnya, dikala curah hujan tinggi, terjadilah banjir akibat tergenangnya air di mana-mana,” Kata Londa kepada Manado Post. Ia pun memberikan solusi agar pemerintah dapat menseriusi kasus banjir yang kerap terjadi secara rutin di Manado. “Solusinya yang paling utama adalah keseriusan pemerintah terhadap komitmen dalam upaya mengelola lingkungan hidup termasuk upaya mengatasi banjir, jangka pendek dan jangka panjang. Program pemerintah sudah ada, tapi sangat dibutuhkan yaitu keseriusan terhadap komitmen pemerintah dalam mengelola lingkungan hidup di wilayahnya. Selain itu, pemerintah juga perlu mempertimbangkan masukan-masukan para akademisi, peneliti dan pemerhati lingkungan hidup,” tegas Londa yang juga merupakan Dosen Pasca Sarjana Universitas Negeri Manado. Sementara itu, Dr Sunny Rumawung, Ketua Aliansi Masyarakat Anti Korupsi (AMAK) Sulut sekaligus Pemerhati Lingkungan, menyebutkan bahwa ketika Bendungan Kuwil telah diresmikan, tapi Kota Manado masih banjir akibat hujan deras yang mengguyur sejak (27/1) subuh, maka langkah yang perlu dilakukan pemerintah Provinsi bahkan Kota Manado yakni menormalisasi sungai. "AMAK meminta kepada Pemprov Sulut maupun Pemkot Manado untuk segera melakukan revitalisasi menyeluruh terhadap pemukiman-pemukiman warga disekitar bantaran sungai dengan melakukan normalisasi terhadap sungai-sungai besar maupun anak-anak sungai yang masuk ke Kota Manado," kata Sunny. Ia pun mengimbau agar langkah cepat perlu dilaksanakan pemerintah untuk mengatasi dampak curah hujan yang notabene merugikan masyarakat. "Pengerukan sungai-sungai tersebut sudah harus secepatnya dilakukan agar banjir tidak terjadi lagi. Apalagi selama ini Manado sering dilanda banjir ketika masuk musim penghujan tiba. Harusnya ini harus diatasi sedini mungkin agar tidak merugikan masyarakat," tambah Ketua AMAK sekaligus pemerhati lingkungan ini. Ia juga mendesak agar pembuatan talud sebagai pengendali banjir dan longsor harus segera direalisasikan oleh pemerintah. "Demikian juga dengan pembuatan talud di sungai-sungai dan di tebing-tebing yang rawan longsor agar dipercepat. Karena selain banjir, Manado juga terkenal dengan rawan longsor yang bahkan sering mengakibatkan korban jiwa bagi penduduk yang mendiami daerah-daerah rawan tersebut," pungkas Rumawung. Sebelumnya, Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi I (BWSS I) Ir I Komang Sudana MT, juga menyebutkan bahwa banjir yang terjadi diakibatkan oleh curah hujan yang ekstrim. “Jadi seperti yang sudah dirilis oleh BMKG curah hujannya ekstrim dan menyebar merata di seluruh wilayah Sulut,” kata Sudana. Sementara itu, untuk langkah penanggulangan banjir melalui Bandungan Kuwil, Sudana menyebutkan bahwa BWSS I telah melaksanakan tindakan dengan menutup pintu air, sehingga dapat tertampung melalui Bendungan Kuwil. “Tindakan yang telah dilakukan BWS Sulawesi I, yakni pada Sungai Tondano sudah dikendalikan, dengan menutup pintu bendungan. Jadi muka air Bendungan Kuwil, tadi pagi berada di elevasi 96, sore ini sudah di elevasi 98. Dengan volume tampungan dari 26.89 juta meter kubik, sekarang sudah menampung 22 juta meter kubik. Kalau misalnya tidak ada bendungan ini, banjir di bawah itu akan lebih luas lagi,” ungkap Sudana. Ia pun menguraikan bahwa curah hujan tinggi tersebut telah mengakibatkan genangan air yang bersumber dari beberapa aliran sungai lainnya terutama masuk melalui permukiman. “Hanya kita tidak bisa 100 persen mencegah banjir, karena fungsi bendungan cuma mereduksi banjir 25 persen. Adapun situasi di hilir Kota Manado, intensitas curah hujannya itu 300 milimeter artinya curah hujannya sangat ekstrim. Sedangkan dihulu hanya 30 millimeter. Dengan demikian, meski pintu air sudah ditutup, namun air itu tidak hanya dari Sungai Tondano. Tapi juga masuk dari permukiman, sumbatan-sumbatan drainase bahkan air sungai juga meluap dari sungai dan anak sungai lainnya seperti Mahawu dan Bailang,” jelas Sudana. Adapun sebagai langkah penanganan banjir di Manado, Sudana menyebutkan hingga kini BWSS I telah melaksanakan penanganan bersama BPBD. “Kita sudah turunkan Satgas Bencana untuk terjun langsung dan mengirimkan perahu karet juga membantu merelokasi warga yang terkena untuk kemudian diamankan di tempat pengungsian. Kita juga sudah turun untuk berkoordinasi dengan BPBD Sulut dan Manado,” jelas pria berdarah Bali ini, seraya menguraikan kegiatan lanjutan yang akan dilaksanakan yakni meliputi jangka pendek dan jangka panjang. “Sebagai jangka pendek kita rutin akan terus menormalisasi Sungai Tikala, Sario dan Tondano. Kedua, melakukan pola pengoperasian bendungan serta kita akan koordinasi untuk perbaikan pola buangan air. Bukan hanya sungai tapi saluran pembuangan dari permukiman juga harus diatur sehingga kita berupaya untuk mengendalikan banjir ini,” terang Sudana. Ia pun mengajak agar keterlibatan aktif semua pihak diimbau untuk dapat mengendalikan banjir secara menyeluruh. “Keterlibatan dari semua pihak itu solusinya. Sebagai langkah jangka panjang untuk pengendalian banjir Manado pun telah diprogramkan di BWSS I melalui Pembangunan Bangunan Pengendali Banjir dengan bantuan Bank Dunia NUFReP yang sementara berproses pembebasan lahannya di BPN,” ungkapnya. Sementara itu terpisah, hal senada diungkapkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulut Joy Oroh. Saat dihubungi Manado Post, Oroh mengatakan bahwa banjir diakibatkan oleh curah hujan tinggi. “Terutama di Manado Utara yaitu Bailang dan sekitarnya. Yang parah ada juga di Tikala, Taas dan titik lainnya yang sementara kita himpun datanya,” jelas Oroh. Terkait langkah penanggulangan yang dilaksanakan BPBD Sulut, Oroh mengatakan bahwa pigaknya telah menerjunkan tim reaksi cepat untuk mengamankan warga terdampak banjir dan longsor. “Langkah awal, kita mengamankan warga yang terkena musibah ke tempat pengungsian dan untuk sementara ditempatkan di gedung pemerintahan atau di tempat ibadah yang aman, kemudian diberikan makanan tentunya,” kata Oroh. Lanjut kepala BPBD Sulut ini pun bahwa semua SKPD telah digerakkan untuk membantu masyarakat yang terdampak. “Jadi 40 SKPD juga telah dimintakan untuk membantu dan semuanya dihimpun di Kantor Gubernur dan kemudian diantar ke tempat pengungsian,” terang oroh. Ditambahkan pula Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sulut John Wangow bahwa lamanya curah hujan di Manado telah berdampak pada genangan air di permukiman warga. “Memang kalau sudah 10 jam nonstop, curah hujannya sudah dapat menyebabkan banjir, karena daya tampung di sungai sudah tidak mencukupi. Untuk sementara ini yang paling rawan di Bailang, Buha, Malalayang, Ternate Tanjung dan Tikala,” kata Wangow. Senada dengan Kepala BPBD, Wangow pun menyebutkan bahwa hingga kini pigaknya telah melaksankan beberapa langkan evakuasi untuk mengamankan masyarakat. “BPBD saat ini melakukan penyelamatan dan evakuasi dengan mengungsikan warga di daerah yang aman. Kita terus berkoordinasi agar warga dapat dievakuasi di gedung gedung yang layak untuk tempat pengungsian sementara,” jelas Wangow. (Desmianti Babo) Editor : Desmi Babo