Bencana Momentum Ubah Wajah Manado. Program NUFRep, Bantuan Bank Dunia Segera Terealisasi
Desmi Babo• Kamis, 2 Februari 2023 | 09:43 WIB
DITATA: Tampak desain wajah Kota Manado di area perempatan Banjer, dengan dilaksanakannya pembebasan tanah serta pembangunan bangunan pengendali banjir dan sarana/prasarana pendukung lainnya. (Sumber foto: Bapelitbangda Manado). Foto lain: Tampak Sungai yMANADOPOST.ID—Setiap kali masuk musim penghujan, warga Kota Manado selalu was-was, dan berubah menjadi waspada saat hujan pun turun. Seperti sudah menjadi langganan, peristiwa banjir dan longsor menghantui. Sejak bencana banjir terparah tahun 2014 dengan total kerugian Rp 1,87 triliun dan menewaskan 19 orang, bencana yang sama terjadi tiap tahun dengan dampak berbeda-beda. Tercatat 10 Januari 2015, 15 Desember 2016, 17 Desember 2017, 29 April 2018, 1 Februari 2019, 2 Maret 2020, 16 dan 21 Januari 2021, 3 Maret 2022 dengan dampak luasan areal banjir yang variatif. Terbaru, 27 Januari 2023 banjir besar terjadi. Beruntung, Bendungan Kuwil-Kawangkoan (Kukaw) telah diresmikan dan digunakan. Di hari itu, bendungan ini berhasil menampung 2,3 juta kubik air untuk ditahan tidak mengalir ke Manado. Warga Manado angkat bicara terkait rencana-rencana pemerintah melakukan pencegahan terjadinya banjir lagi. Seperti dikatakan Willem Pakasi. Warga Ranotana ini mengatakan pelebaran sungai harus dilakukan menyeluruh. Dicontohkan Sungai Tondano dan Sungai Sawangan. Selain dikeruk, dilebarkan lagi. “Apalagi jika rumah-rumah di sepanjang bantaran sungai di Manado, sudah terima ganti untung, bukan ganti rugi. Dibayar dengan harga lebih tinggi dari harga NJOP. Dan mereka juga sudah disiapkan lokasi pemukiman baru. Sungainya sudah bisa diperlebar. Bisa ambil 10 meter ke kiri dan 10 meter ke kanan. Sehingga aliran sungai bertambah lebar 20 meter,” tuturnya. Lain lagi disampaikan Marie Rumengan. Menurutnya, jika bantaran sungai sudah dilebarkan, di tepi sungai sebaiknya dibangun taman sekaligus pedestrian. “Sehingga bisa jadi tempat warga bersantai, lari pagi, lari sore, dll. Ditanami juga pohon rindang dan di bawahnya ada tempat duduk. Setelah taman, dibuat jalan raya. Baru rumah penduduk,” tukasnya. Rumah penduduk juga dibuat rumah susun. Dan di bawahnya atau lantai dasarnya kosong. Bisa jadi tempat acara atau tempat ibadah bagi penghuni rumah susun. “Ini seperti ini di perbatasan Singapore-Malaysia. Sehingga jika ada warga yang tidak mau pindah ke lokasi yang disiapkan pemerintah karena jauh dari tempat mereka mencari nafkah, maka bisa tinggal di rumah susun,” tambahnya. Yang menjadi nilai plus lainnya, Sungai Tondano dan Sungai Sawangan bisa mirip Singapore River. Jadi jalur transportasi air. Bahkan lokasi wisata. Bisa juga ada cafe atau dinner di atas kapal sambil menikmati pemandangan Kota Manado di malam hari dari atas perahu yang jalan dari bawah Jembatan Soekarno atau Pasar Bersehati menuju Jembatan Kairagi dan balik lagi ke Pasar Bersehati. Terkait aspirasi masyarakat ini Direktur Sungai dan Pantai Ditjen Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR Bob Lombogia membeberkan, pihaknya sedang merancang penanganan banjir terhadap tiga sungai. Yakni Tikala, Sario, dan Tondano. Telah ada program pembangunan bangunan pengendali banjir melalui Bantuan Bank Dunia. Photo Bob Lombogia “Untuk mengatasi banjir di Sungai Tikala, Sario dan Tondano, kita sudah ada program bantuan loan NUFReP (National Urban Flood Resilience Project) dari World Bank dan Indonesia ada lima kota yang mendapat program salah satunya adalah kota Manado. Di mana kami telah mengusulkan program di tiga sungai ini untuk dibangun tanggul. Makanya bangunan pengendali banjir. Untuk di Sungai Bailang dan Mahawu, belum ada sama sekali masterplan ataupun SID (survei, investigasi dan desain) terkait penanganannya apakah akan dilebarkan atau seperti apa, makanya akan kita kaji sebagai langkah kedepan,” tutur Lombogia. Ia menambahkan bahwa pada Maret ini, pihak Kementerian PUPR akan segera melaksanakan penandatanganan untuk memulai program tersebut. "Kita loan agreement Bulan Maret, nanti pada saat itu kita sudah bisa mengadakan proses pengadaan, proses lelang yang biasanya enam sampai tujuh bulan. Jadi sambil proses lelang, kita proses pengadaan lahan atau orang bilang proses ganti untung," jelas Direktur Sungai dan Pantai kepada Manado Post. Photo I Komang Sudana Kepala BWS Sulawesi I Terkait proyek Bangunan Pengendali Banjir dikota Manado, Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi I I Komang Sudana mengukapkan, prosesnya masih dalam tahap pengadaan tanah oleh Panitia Pengadaan Tanah (P2T) yang dibentuk BPN Kanwil Sulut. “Sekarang telah berproses di BPN Sulut sudah ada P2T, jadi menunggu proses di situ” kata Sudana. Sementara Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kantor Wilayah Sulut Lutfi Zakaria ketika dikonfirmasi Manado Post menyebutkan program tersebut akan dimulai pada akhir Januari lalu. “Kita mulai kegiatan indentifikasi obyek dan subyek dengan dimulai sosialisasi 31 Januari 2023. Sebelumnya, kami menunggu tanda batas terpasang dulu,” kata Kepala Kanwil BPN Sulut. Photo Kakanwil BPN Sulut Lutfi Zakaria Praktisi sekaligus Ahli Monitoring Lingkungan Dr. Joy Albert Sumakul, PG.DipSc, MA. Mengatakan bencana alam banjir dan tanah longsor ini sebenarnya momentum untuk berbenah, mengubah wajah Kota Manado menjadi modern. “Sebenarnya elemen untuk modernisasi wajah kota Manado sudah ada, dan bencana banjir inilah momentumnya. Tinggal mendorong saja dan butuh komitmen kuat dari pimpinan daerah serta stakeholder untuk mewujudkannya. Bantuan dari Bank Dunia untuk menata 3 sungai besar sudah ada 2 triliun. Nah disitu bisa skalian ditata dengan objek wisata seperti kawasan Pantai Malalayang. Jadi bukan cuman banguan pengendali banjir tapi bisa buat wisata airnya disitu,” ungkap Sumakul. Photo Joy Sumakul Lanjut alumnus the University of Queensland’s Australia ini, pemerintah bisa membuat spot-spot wisata karena Presiden RI telah menetapkan KSPN Likupang-Manado-Bitung dan diuntungkan dengan pemerintah yang seirama tegak lurus. “Kan Jokowi fokus menjadikan Manado sebagai Bali baru di Indonesia dengan menetapkan KSPN itu di sini. Artinya menjadikan tujuan wisman di sini nah itu harus didorong dan untungnya wali kota dan gubernur segaris, separtai, dan seirama jadi apa yang diusulkan dan didorong Pemerintah Daerah pasti didukung oleh pusat kan” terang Sumakul. Ia berharap masyarakat selalu mendukung program pemerintah yang ada termasuk relokasi warga bantaran sungai.”Jadi kalau mau daerah kita itu maju dan menjadi pusat wisata, warga yang tinggal di bantaran sungai harus patuh dan taat pada aturan kan sudah ada Perdanya juga. Nanti yang merasakan kebaikannya itu kita juga. Terhidar dari banjir kota jadi indah, ramai pengunjung ekonomi pasti tumbuh dan kesejahteraan masyarakat pasti tercapai,” kunci Sumakul. Diketahui Singapore River atau Sungai Singapura adalah sebuah sungai kecil yang mempunyai nilai historis yang tinggi karena merupakan awal mula peradaban di Singapura. Sungai ini mengalir sepanjang kawasan tengah Singapura di daerah selatan Singapura sebelum bermuara ke laut. Karena nilai historisnya sangat tinggi, sungai ini menjadi salah satu sungai terkenal di Singapura. Sungai ini begitu terkenal bagi wisatawan dan merupakan salah satu tempat wisata di Singapura yang paling ramai dikunjungi wisatawan. Yang cukup menarik, pemerintah di sana mampu mengemas Kawasan ini menjadi lokasi wisata andalan. Salah satu wisata yang terkenal adalah menyusuri Sungai Singapura yang indah dengan Singapore River Cruise. Atraksi ini akan membawa wisatawan ke warisan peradaban Singapura yang indah. Seperti berbagai bangunan yang tinggi menjulang yang mencerminkan pesatnya pembanguanan yang dilakukan di Kota Singapura. Singapore River Cruise membawa penumpang menyusuri sungai yang sangat bersih dan tertata dengan berbagai bangunan penunjang sungai yang terawat dengan baik. Lalu ada jembatan warisan kolonial yang sudah dibangun sejak abad ke-19 lalu. Sementara deretan bangunan tinggi semakin menambah indah suasana dengan taman yang asri yang tetap dipertahankan keberadaanya. Selain Singapore River yang layak dicontoh, di Korea Selatan ada Sungai Han, terletak di Seoul. Ini menjadi salah satu destinasi wisata terkenal bagi turis mancanegara, karena kerap dijadikan lokasi syuting drama korea. Sungai Han merupakan sungai besar yang mengalir melalui pusat Kota Seoul. Dikenal akan keindahannya, sungai ini menjadi salah satu ikon ibu kota Korea Selatan. Tak heran bila banyak wisatawan lokal maupun asing sering mengunjungi tempat ini untuk sekadar bersantai ataupun berolahraga. Lokasi ini juga sangat sempurna untuk mengambil foto karena tempatnya instagramable. Selain itu, ada sejumlah aktivitas seru di sungai ini. Mulai dari berkema, olahraga air, seperti kayak, water skiing, windsurfing, dan flyboarding, piknik, menikmati taman-taman di sepanjang Sungai Han, seperti Ttukseom Hangang Park hingga Jamwon Hangang Park, hingga makan ramyeon. Peran Pemerintah Kota dalam mewujudkan hal ini pun telah terlihat dari solusi dan penanganan yang segera akan dilakukan pada warga bantaran sungai. Walikota Manado Andrei Angouw menyebutkan bahwa dirinya akan bertindak tegas terhadap warga yang bermukim di bantaran sungai. “Jadi kita mohon dukungan dari masyarakat untuk jangan tinggal di bantaran sungai. Karena kalau tinggal di bantaran, cerita banjir seperti ini akan berulang lagi yang kita upayakan yaitu tindakan persuasif, tapi harus tegas,” kata Angouw. Walikota pun menyebutkan bahwa bagi masyarakat yang sebelumnya telah mendapatkan rumah relokasi di Pandu (masyarakat terdampak banjir bandang 2014), maka diimbau untuk menempati rumah relokasi tersebut, tanpa harus menempati kawasan bantaran sungai. “Yang tinggal di bantaran sungai banyak. Banyak juga yang sudah dapat rumah di Pandu, tetap tinggal di bantaran sungai. Maka upaya utama yang akan kita lakukan yaitu kita pindahkan. Karena tidak bisa masyarakat tinggal di bantaran sungai. Jadi upaya grand strateginya, pemerintah harus menyediakan tempat tinggal. Baik rumah susun maupun rumah di Pandu dan yang harus kita dorong bahwa yang seharusnya sudah ada tempat tinggal di Pandu, sudah harus tinggal di Pandu,” jelas Angouw. Adapun disebutkan Angouw bahwa pada tahun ini, Pemkot akan melaksanakan program prioritas yakni menyiapkan fasilitas penunjang untuk kebutuhan masyarakat di Pandu. “Di Pandu ada 2.000 lebih rumah. Tapi yang tinggal hanya 400 an. Saat ini Pemkot lagi melengkapi fasilitas di Pandu. Kita sudah menyiapkan angkutan umum dan kita juga akan benahi supaya masyarakat mau tinggal di Pandu, sehingga program relokasi akan menjadi prioritas di tahun 2023. Apalagi dengan kejadian seperti ini kita sudah koordinasi dengan BNPB- BPBD karena kebetulan yang bangun itu adalah BPBD pada Tahun 2015,“ terang Walikota. Setali tiga uang, Menteri Sosial Tri Rismaharini saat mengadakan kunjungan ke Kota Manado, Selasa (31/1) dalam rangka melihat langsung Keadaan pasca Bencana Alam Banjir dan Tanah Longsor yang terjadi pada 27 Januari 2023 lalu. Dalam peninjauan Menteri Risma pun mengingatkan kepada Walikota dan Wakil Walikota, agar warga di bantaran sungai dan lokasi rawan longsor dapat direlokasi. “Rekomendasinya masyarakat di rawan longsor atau banjir harus pindah. Ya untuk rumah pemerintah juga, Pak Walikota sudah siapkan 3.000 rumah yang bisa ditempati. Kalau sekarang memang masih sepi, tapi kalau nanti semua korban banjir, longsor berbondong-bondong pindah ke sana kan ramai,” jelas Risma. Diketahui, dari ribuan Rumah Relokasi Pandu, hanya 400 rumah yang baru ditempati. Menteri Risma pun merespon akan memperbaiki ribuan rumah dan kawasan permukiman relokasi di Pandu yang agar supaya mau ditempati oleh warga yang akan direlokasi. “Saya bertanya kepada Pak Walikota Kenapa masyarakat tidak mau pindah di-Pandu Ternyata kualitas rumahnya dan infrastrukturnya jelek. Saya akan bantu untuk perbaikan rumahnya, tapi ada data nolnya” kata mantan Walikota Surabaya. Menteri Risma berharap dengan pindahnya warga ke rumah relokasi di Pandu tersebut, maka kawasan sungai yang terdampak banjir dapat dinormalisasi dan warga yang rumahnya rawan longsor dapat pindah sehingga warga tidak akan merasakan lagi bencana alam serupa. (des/gel) Editor : Desmi Babo