Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Waspadai Banjir Susulan Lebih Parah, Wali Kota Minta Penduduk Bantaran Sungai Pindah ke Pandu

Desmi Babo • Minggu, 12 Februari 2023 | 01:33 WIB
NORMALISASI: 5 rumah pada bagian sempadan Sungai Mahawu telah berhasil dibersihkan dari sepadan sungai. Setelahnya, warga berbondong-bondong untuk menghentikan pekerjaan dari alat berat tersebut.
NORMALISASI: 5 rumah pada bagian sempadan Sungai Mahawu telah berhasil dibersihkan dari sepadan sungai. Setelahnya, warga berbondong-bondong untuk menghentikan pekerjaan dari alat berat tersebut.
MANADOPOST.ID- Upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Manado bersama instansi terkait yakni Balai Wilayah Sungai Sulawesi I (BWSS I) untuk menuntaskan banjir khususnya di kelurahan Mahawu terus digodok. Hal ini diperkuat dengan turunnya surat Pemerintah Kota Manado melalui Camat Tuminting perihal Pembongkaran 54 Rumah di Lingkungan 3, 4 dan 5. di sepanjang bantaran sungai tersebut. Walikota Manado Andrei Angouw (AA) ketika dihubungi Manado Post mengatakan bahwa masyarakat harus pindah dari lokasi tersebut. “Intinya keluar dari lokasi bencana,” tegas AA.
Photo
Photo
Walikota Manado Andrei Angouw Saat dikonfirmasi bahwa masyarakat lokasi tersebut meminta ingin bertemu dan berdiskusi dengan Walikota Manado, Mantan Ketua DPRD Sulut pun menjawab dengan bijak “Intinya pindah aja dulu ke pandu, sebelum banjir ulang, lia jo ini cuaca. Nanti diskusi setelah pindah di pandu. Bencana nyanda ja tunggu diskusi,” kata Angouw dengan dialeg Manado. Pernyataan AA bukan tanpa alasan, diketahui Kota Manado pada tahun 2021 pernah dilanda Banjir besar, dimana banjir susulan dengan dampak yang jauh lebih dahsyat terjadi hanya dengan rentang waktu beberapa hari setelah terjadinya banjir pertama. Pantauan Manado Post dilokasi kelurahan Mahawu tersebut, banyak bangunan diatas sungai mempersempit aliran air dan banyak puing bangunan di sungai akibat banjir 27 Januari lalu. Dikawatirkan saat Hujan deras terjadi, dapat menyebabkan penyumbat di sungai. Akibatnya banjir yang lebih besar dapat terjadi. Kepala BWSS I, I Komang Sudana saat dikonfirmasi mengatakan bahwa hal tersebut sudah dirapatkan, bersama Kadis PUPR Manado dan Kepala BPBD. “Kami bekerja bukan keputusan kami, tapi itu dimediasi, difasilitasi oleh pihak Pemkot. Kesepakatan kemarin itu, Balai (BWSS I) mau menormalisasi mengangkat di badan sungai, dan tetap bekerja sama dengan Pemkot. Ketika Pemkot katakan bahwa lahan itu sudah clear, maka Balai kerjakan. Balai maju, tapi saya bilang ke teman-teman, bahwa yang bergerak di muka itu Pemkot, bukan Balai. Jadi kami telah melakukan penggusuran, tapi masalah Ada gejolak penolakan, itu biar Pemkot yang ngurus”, urai Sudana.
Photo
Photo
I Komang Sudana Lanjutnya terkait penertiban itu harus dibicarakan bersama dengan masyarakat. “Kalau misalnya rumah-rumah itu harus digusur, kan ada rumah yang sudah disediakan oleh Pemkot Manado di pandu. Nah kalau rumah di pandu itu mereka mau, ya mereka pindah. Kita sudah siap untuk menggusur, tapi Itu h.arus dikomunikasikan karena kan ini juga untuk kepentingan bersama,” tutur Kepala Balai berdarah Bali ini. Terkait masih adanya penolakan dari masyarakat, Sudana pun mengatakan Intinya harus dibicarakan baik-baik dengan warga, disosialisasikan, diberikan pengertian, agar supaya ketika terjadi kejadian banjir, tidak bisa saling menyalahkan. “Masyarakat masih mau tinggal di situ, ya kita harus carikan solusinya seperti apa. Soal banjir itu berbicara soal dari hulu ke hilir. Penataan ruangannya seperti apa, penanganannya seperti apa. Kalau tidak ada pengendalian dan setiap orang tinggal di bantaran sungai, ya jadilah bencana seperti Itu," urai Sudana. Senada, Kepala Satker OP-SDA BWSS I, Iskandar Rahim mengatakan bahwa hanya mengikuti apa yang diminta oleh Pemkot Manado. “Kalau pemkot minta robohkan kita robohkan. Jadi di situ itu harus dibuat pelebaran karena ada bagian sungai yang tinggal 2 meter malah tidak sampai 3 meter,” kata Rahim. Rahim pun menjelaskan bahwa di bagian Sungai Mahawu itu harus segera dikerjakan karena ada titik yang mengalami penyumbatan dan air tidak bisa lewat. “Bukan hanya di satu titik tapi kalau saya lihat di postingan, ada banyak titik yang mengalami penyumbatan. Saran saya, ketika sekarang ini masih terjadi curah hujan yang tidak menentu dan kadang juga masih mengalami curah hujan yang cukup tinggi, masyarakat harus pindah cepat. Karena yang bahaya adalah sungai yang tidak teridentifikasi, ada bagian-bagian yang mengalami penyumbatan atau ta prop sehingga apabila ada arus kuat, bisa jadi seperti banjir bandang, jadi titik Mahawu Bailang Itu sangat beresiko,” terang Kasatker OP-SDA Lanjutnya, sebagai saran juga sebaiknya dilakukan pengerukan di muara di laut karena di situ sudah banyak sedimen. “Seperti di muara sungai Bailang so tofor sekali, tapi itu butuh anggaran yang besar. Jadi setelah banjir ini solusi yang diperlukan adalah desain drainase perkotaan sungai-sungai kecil,” terang Rahim. Ditambahkan PPK OP 3 BWSS I, Frans Manampiring ketika dimintai keterangan terkait kegiatan Penangulangan Bencana di kelurahan Mahuwu pun mengatakan telah bertemu dengan Sekkot dan BPBD dan dikatakan masyarakat sudah siap. “Tapi memang kalau mau pindah, Pemkot harus fasilitasi. Kirim truck, supaya barang-barangnya bisa diangkat ke Pandu. Kita masih memberikan kesempatan warga untuk mengangkat apa yang masih bisa digunakan. Karena kalau alat berat sudah masuk, nanti barang-barang yang masih bisa digunakan sudah tidal bisa diambil kembali karena sudah dibongkar dengan alat berat,” kata Manampiring. Terkait teknis pelaksanaan pembongkaran PPK OP 3 ini menuturkan bahwa alat berat masuk dari Bailang dan telah lebih dahulu izin dengan warga. “Ada minta permisi di rumah warga. tapi sebatas mengangkat yang bisa dijangkau, karena untuk saat ini alat berat yang bisa bekerja di ruas sungai terbatas terhalang dengan akses masuk. Sedangkan untuk membuka jalur air sungai agar dapat dilakukan normalisasi secara maksimal, harus melewati rumah warga. Tapi konsekuensinya untuk memberikan akses masuk dalam proses pekerjaan, ada rumah-rumah warga yang harus dibongkar," terang Manampiring.
Photo
Photo
DITOLAK: Warga bantaran Sungai Bailang Kelurahan Mahawu Lingkungan Tiga menghentikan dan menolak alat berat yang sedang bekerja melakukan pembersihan dan pembongkaran bangunan di sepadan sungai, Kamis (9/2). Warga bantaran sungai yang rumahnya telah dibongkar, memberikan komentar beragam. Rahma Samiden mengatakan telah tinggal di bantaran sungai dari tahun 1979. kepada Manado Post, ia mengaku telah menimbun sekitar 3 meter dari bibi sungai untuk dibangun rumahnya. “Tahun 80an mulai ba tambung (menimbun) sungai, tapi saya cuman lihat dan ikut di sebelah sungai sana yang lebih duluan ba tambung. Jadi sebenarnya kami tidak menolak penertiban ini. Tapi sebenarnya harus tunggu kami baru bongkar ini Torang pe rumah, masak tidak ada orang terus dibongkar, ” tutur Rahma sambil berharap penertiban jangan tebang pilih, harus semuanya di kawasan tersebut. “Jadi torang minta, jangan cuma pa torang, di jalur sebelah sini yang ditertibkan kong itu disebelah (bagian bersebrangan sungai) dang kenapa tidak ditertibkan," pintah wanita ini. Lain juga pendapat dari Adi Suharjo yang mengaku tinggal lokasi tersebut sejak tahun 1999, mengatakan bahwa halaman dan rumahnya sementara ditertibkan dan setuju dengan program pelebaran sungai tetapi yang memiliki sertifikat harus ada kompensasi. "Sementara di pagar yang dibongkar 3 meter dari bibir sungai. Karena program pemerintah dan untuk kebaikan bersama kita tentu setuju. Cuman bagi kami yang ada sertifikat harus ganti rugi lah. Jadi harus ada pembicaraan serius bukan cuman asal bongkar,” ujar Suharjo. Lanjutnya, Ia juga merasa kecewa dengan beredarnya surat dari Pemkot terkait pembongkaran sendiri rumah warga di bantaran sungai “kami merasa surat dari Pemkot, Pembongkaran sendiri itu tidak manusia, karena kami, masih lelah, stress masak mo disuru bongkar sendiri,” ketus Suhajo. Saat di konfirmasi terkait rumah relokasi di Pandu, ia mengatakan bahwa telah mendapat rumah tetapi mengaku sering juga tinggal di pandu tapi menolak jika rumah di bantaran sungai di Mahawu ditukar dengan rumah di Pandu. “Tiap Minggu sekali ke rumah Pandu, tinggal dan masak di sana. Tetapi kami menolak jika rumah ini ditukar di pandu. Soalnya rumah kami disini jauh lebih besar dari pandu, harga rumah ini ratusan juta. di tempat kami dipandu juga belum layak jalan dan transportasi ke bagian atas blok K itu tidak ada. Barusan juga di sana ada longsolayak sampai sekarang belum ada pembersihan di sana," urai Suharjo. Pantauan Manado Post saat berada dilokasi (10/2), telah ada 5 bagian rumah di bantaran sungai yang berhasil dibongkar. Tetapi saat sementara berlangsungnya pembongkaran tiba-tiba datang sekelompok orang dari warga setempat, yang menolak dan menghentikan kerja dari operator alat berat. Akibatnya pekerjaan pembongkaran rumah dan normalisasi sungai di kelurahan Mahawu Lingkungan 3 terhenti. (Desmianti Babo) Editor : Desmi Babo
#Banjir 2023 #Sungai Mahawu #BWS Sulawesi I #Kementerian ATR/BPN #Rumah Relokasi Pandu