MANADOPOST.ID – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengeluarkan pernyataan mengejutkan soal potensi penguatan nilai tukar rupiah. Menurutnya, jika Indonesia serius membangun hilirisasi komoditas ekspor, khususnya pertanian, nilai tukar bisa menyentuh Rp1.000 per dolar AS.
Amran mencontohkan kelapa bulat yang saat ini diekspor dalam bentuk mentah senilai Rp20 triliun per tahun. Jika diolah penuh dalam negeri, nilainya bisa melonjak fantastis hingga Rp2.000 triliun. Ia pun menyebut, bila semua komoditas diekspor dalam bentuk olahan, potensi ekonomi Indonesia bisa menembus Rp20.000 hingga Rp50.000 triliun.
Namun, pernyataan optimistis tersebut ditanggapi lebih hati-hati oleh Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede. Ia menilai target itu belum realistis, terlebih jika hanya mengandalkan satu sektor seperti pertanian.
Menurut Josua, hilirisasi memang penting dalam mendorong nilai tambah ekspor dan memperkecil impor. Tapi penguatan nilai tukar rupiah dipengaruhi banyak faktor lain: mulai dari neraca perdagangan, inflasi, suku bunga, iklim investasi, hingga kebijakan fiskal dan moneter.
Josua memproyeksikan ekspor kelapa akan naik dari 1,56 miliar dolar AS (2023) menjadi 5,23 miliar dolar AS (2045). Namun tantangannya tidak ringan: produktivitas petani masih rendah, akses teknologi dan pembiayaan terbatas, serta persoalan pemasaran masih jadi pekerjaan rumah besar.
Ia menegaskan, penguatan rupiah hanya bisa dicapai jika Indonesia punya strategi ekonomi jangka panjang dan komprehensif. Salah satunya dengan menjaga stabilitas makro, meningkatkan produktivitas lintas sektor, dan memperkuat daya saing industri. (*)
Editor : Tanya Rompas