Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Eddy Martono Ungkap Strategi Baru Perdagangan dan Tata Kelola Sawit Nasional dalam IPOC 2025

Angel Rumeen • Kamis, 13 November 2025 | 17:29 WIB
Ketua GAPKI Eddy Martono saat membuka IPOC 2025.
Ketua GAPKI Eddy Martono saat membuka IPOC 2025.

MANADOPOST.ID–Industri sawit nasional terus menunjukkan daya tahannya di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono menegaskan tantangan besar seperti perubahan peta perdagangan dunia, pengetatan tata kelola, serta kebijakan energi baru harus dijawab dengan strategi yang konkret dan kolaboratif.

Berbicara pada pembukaan  21st Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) 2025  di  Bali , Kamis 13 November 2025, Eddy menegaskan bahwa GAPKI telah menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat fondasi industri sawit nasional.

“Inilah strategi yang akan GAPKI terapkan,” ujarnya membuka paparan mengenai arah baru industri sawit Indonesia yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.

Eddy menjelaskan performa industri sawit sepanjang Januari hingga September 2025 menunjukkan sinyal positif. Produksi nasional mencapai  43 juta ton, meningkat  11 persen  dibanding tahun sebelumnya.

Sementara ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya menembus  25 juta ton, naik  13,4 persen, dengan nilai devisa mencapai  27,3 miliar dolar AS  atau meningkat  40 persen.

Konsumsi domestik juga tetap kuat di angka  18,5 juta ton  , naik dari  17,6 juta ton  tahun lalu. Capaian ini menurut Eddy menjadi bukti sektor sawit tidak hanya bertahan tetapi juga mulai bergerak menuju fase pertumbuhan baru. “Kinerja industri sawit menunjukkan percepatan, dan ini harus kita baca sebagai wake up call untuk menyusun langkah yang lebih terarah,” ujarnya.

Tema konferensi tahun ini,  “Navigating Complexity, Driving Growth: Governance, Biofuel Policy and Global Trade”, merefleksikan arah baru industri sawit yang dihadapkan pada tantangan tata kelola dan perdagangan global.

Dalam konteks perdagangan, Eddy menyinggung terkait peluang dari perjanjian  Indonesia–EU CEPA  yang membuka akses lebih luas ke pasar Eropa. Namun ia juga menegaskan perlunya strategi khusus menghadapi  EU Deforestation Regulation (EUDR)  yang berpotensi memengaruhi penerimaan produk sawit Indonesia.

“EUDR bukan hanya regulasi, tetapi juga cermin sistem yang harus kita bangun,” kata Eddy. Ia menegaskan bahwa informasi keliru tentang sawit Indonesia harus diluruskan dengan data dan fakta, serta dijawab dengan peningkatan  tata kelola industri  yang berkelanjutan.

Tata kelola menjadi salah satu fokus utama GAPKI. Eddy menekankan pentingnya memperkuat sertifikasi  Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO)  agar menjadi standar emas global, bukan sekadar simbol administratif. “Sustainability adalah komitmen GAPKI,” tegasnya.

Selain tata kelola, Eddy juga mengapresiasi dukungan pemerintah terhadap kebijakan energi terbarukan, termasuk implementasi  mandat B35 dan B40.

Menurutnya, kebijakan ini menciptakan permintaan domestik yang stabil sekaligus membantu menurunkan emisi nasional. Namun ia mengingatkan bahwa stabilitas regulasi harus dijaga agar pelaku industri dapat bergerak cepat dan adaptif terhadap perubahan global.

“Untuk mendorong pertumbuhan, kita membutuhkan setiap bagian dari mesin pemerintahan kita bekerja secara harmonis,” ujar Eddy. Ia menambahkan, sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan petani menjadi kunci menjaga daya saing sawit Indonesia di pasar dunia.

GAPKI berkomitmen memastikan  petani kecil  merasakan manfaat langsung dari kemajuan industri. Tahun ini, penghargaan  koperasi pekebun paling produktif  diberikan kepada kelompok tani dari  Kutai Timur, Kalimantan Timur  dengan produktivitas  37,4 ton TBS  , naik 9 persen dari tahun sebelumnya.

Semangat inovasi generasi muda pun menjadi perhatian GAPKI. Dalam  Hackathon Minyak Sawit Nasional 2025, tim  BiFlow dari ITS Surabaya  tampil sebagai juara lewat proyek  RAPIDS, sistem pendeteksi dini penyakit  Ganoderma Boninense  menggunakan radar non-invasif dan pembelajaran mesin.

Selain itu, GAPKI memperkenalkan  Konsorsium Elaeidobius, kolaborasi dengan lembaga riset dan pemerintah untuk memperkuat penyerbukan alami kelapa sawit melalui kerja sama dengan  Tanzania Agricultural Research Institute.

Program ini memperkenalkan tiga spesies baru serangga penyerbuk yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas di masa mendatang.(*)

Editor : Pratama Karamoy