MANADOPOST.ID - Sumatera diproyeksikan menjadi wilayah paling rawan terdampak cuaca ekstrem di Indonesia hingga tahun 2040. Prediksi ini disampaikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) seiring meningkatnya suhu global yang memicu perubahan pola iklim secara signifikan.
Profesor Pusat Riset Klimatologi dan Perubahan Iklim BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa kenaikan suhu bumi sekitar 1,5 derajat Celsius berpotensi meningkatkan frekuensi dan intensitas hujan ekstrem serta angin kencang. Kondisi tersebut berisiko memicu banjir, longsor, dan bencana hidrometeorologi lainnya di berbagai wilayah Sumatera.
Menurut Erma, pembaruan data ilmiah secara berkala menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Data yang akurat dibutuhkan agar pemerintah dan masyarakat dapat merespons risiko iklim dengan lebih tepat dan berbasis sains.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora BRIN, M. Najib Azka, menyoroti bahwa fase pemulihan pascabencana kerap menjadi tahap paling krusial sekaligus rentan. Ia menilai masih sering terjadi kesenjangan antara bantuan darurat dan proses pemulihan jangka menengah, serta antara kebijakan nasional dan kebutuhan riil masyarakat di lapangan.
Najib menekankan bahwa pemulihan pascabencana harus dilakukan secara berbasis bukti, inklusif, dan berorientasi jangka panjang. Tidak hanya fokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga mencakup pemulihan ekonomi, sosial, serta kesehatan mental masyarakat terdampak.
Dari sisi kependudukan, BRIN juga mencatat bahwa bencana dapat memicu perubahan struktur rumah tangga, pola migrasi, serta meningkatkan kerentanan kelompok tertentu. Oleh karena itu, pendekatan penanggulangan bencana di masa depan perlu mengintegrasikan aspek iklim, sosial, dan kependudukan secara menyeluruh agar dampak risiko dapat diminimalkan. (*)
Editor : Jasinta Bolang