MANADOPOST.ID- Cuaca panas menyengat disertai angin kencang melanda sejumlah wilayah Indonesia dalam sepekan terakhir, dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan serangkaian peringatan dini sejak awal Juli 2026 hingga hari ini, Senin (13/7/2026).
BMKG mencatat kondisi ini dipicu masa peralihan menuju puncak musim kemarau yang bertepatan dengan aktivitas Bibit Siklon Tropis 97W di Samudra Pasifik timur laut Papua, yang memicu daerah konvergensi dan konfluensi di sejumlah wilayah timur Indonesia, menurut prakiraan resmi BMKG, Senin (13/7/2026).
Kombinasi dinamika atmosfer tersebut membuat BMKG mengeluarkan status Waspada hujan lebat untuk sejumlah provinsi pada hari ini, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi angin kencang di berbagai daerah, meski sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau.
Di Sulawesi Utara, BMKG Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado turut merilis peringatan dini tiga harian yang mencatat potensi angin kencang di sepuluh daerah pada Minggu (12/7/2026) dan berlanjut di lima daerah pada Senin (13/7/2026), meski tidak ada status Waspada, Siaga, atau Awas untuk potensi hujan di wilayah tersebut.
BMKG mengimbau nelayan, pelaku transportasi laut, serta warga yang beraktivitas di luar ruangan di Sulawesi Utara agar tetap waspada terhadap embusan angin kencang dan terus memantau informasi cuaca terbaru, menurut laporan Tribun Manado, Minggu (12/7/2026).
Secara nasional, BMKG turut mencatat sekitar 72,19 persen wilayah Indonesia berada pada kategori curah hujan rendah pada dasarian pertama Juli 2026, seiring makin dominannya musim kemarau, meski angin kencang tetap berpotensi terjadi secara lokal akibat pengaruh siklon tropis dan gelombang atmosfer seperti Kelvin dan Rossby Ekuatorial, menurut laporan RRI, Minggu (12/7/2026).
Meski kondisi ini terasa menyengat, BMKG menegaskan fenomena gelombang panas atau heatwave secara teknis tidak terjadi di Indonesia, karena gelombang panas umumnya hanya terjadi di wilayah lintang menengah-tinggi akibat udara panas yang terperangkap dalam sistem tekanan tinggi berskala luas dan persisten selama berhari-hari.
Sebaliknya, suhu panas yang dirasakan di Indonesia disebabkan kombinasi cuaca cerah, rendahnya tutupan awan pada siang hari, serta posisi geografis Indonesia di wilayah ekuator yang memiliki dinamika atmosfer dan variabilitas cuaca yang jauh lebih cepat berubah dibanding wilayah subtropis.
Kendati suhu absolut di Indonesia jarang menyentuh angka ekstrem seperti di Eropa, faktor kelembapan udara tropis yang tinggi berperan sebagai pengali tingkat bahaya suhu, karena kelembapan tinggi menghambat penguapan keringat dari kulit yang menjadi cara utama tubuh manusia mendinginkan diri, sehingga risiko kelelahan panas dan heatstroke tetap perlu diwaspadai.
Selain ancaman panas dan angin kencang, BMKG turut memperingatkan potensi banjir rob yang mengancam 18 wilayah pesisir Indonesia selama periode 8 hingga 22 Juli 2026, menurut laporan Kompas.com, menambah daftar kewaspadaan cuaca yang perlu diperhatikan masyarakat pesisir dalam beberapa pekan ke depan.
Untuk mengantisipasi dampak cuaca panas dan angin kencang, BMKG mengimbau masyarakat menjaga hidrasi tubuh dengan cukup minum air, menghindari paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama terutama pada siang hari, serta menggunakan pakaian ringan dan pelindung seperti topi atau payung saat beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat yang berada di wilayah pesisir, nelayan, dan pengguna transportasi laut maupun udara diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi pohon tumbang, kerusakan ringan bangunan non-permanen, hingga gelombang laut yang lebih tinggi akibat embusan angin kencang.
BMKG menegaskan bahwa kondisi atmosfer bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga masyarakat diimbau terus memantau pembaruan informasi cuaca resmi melalui kanal BMKG sebelum beraktivitas di luar ruangan atau melakukan perjalanan dalam beberapa hari ke depan.
Editor : ALengkong