MANADOPOST.ID - Bermain di kompetisi elit Eropa memang bisa memberikan keuntungan finansial yang besar. Namun, tidak semua klub mampu mengelola keuangan mereka dengan baik.
Beberapa klub besar yang pernah berjaya harus menghadapi kebangkrutan akibat manajemen yang buruk. Meskipun demikian, ada yang berhasil bangkit kembali dan meraih kejayaan. Berikut adalah enam klub besar yang pernah mengalami kebangkrutan, termasuk mantan klub Zinedine Zidane, Girondins Bordeaux.
Leeds United, klub bergengsi di Liga Inggris, pernah mengalami kebangkrutan. Tim berjuluk The Whites ini pernah meraih tiga gelar Liga Divisi Satu Inggris, satu Piala FA, dan satu Piala Liga.
Namun, investasi besar dalam pembelian pemain dan manajemen yang buruk memaksa mereka menjual pemain untuk melunasi utang. Gagal masuk kualifikasi Liga Champions musim 2002/2003 menjadi awal kehancuran mereka.
Rio Ferdinand adalah salah satu pemain yang pindah ke Manchester United pada 2002 akibat kebangkrutan Leeds United. Penjualan beberapa bintang membuat Leeds United terpuruk dan akhirnya terdegradasi pada musim 2003/2004. Leeds United harus berjuang keras untuk kembali ke kasta tertinggi sepak bola Inggris.
Hal serupa terjadi pada Glasgow Rangers, klub besar di Liga Skotlandia. Rangers dinyatakan bangkrut oleh Otoritas Liga Skotlandia pada musim 2012/2013 karena gagal membayar utang sebesar 33 juta poundsterling.
Nasib Rangers bisa aman jika klub peserta Premier League Skotlandia melakukan voting terkait nasib mereka. Namun, mayoritas klub menolak proposal Rangers.
Glasgow Rangers resmi bangkrut dan harus memulai kompetisi dari kasta ketiga Liga Skotlandia. Meskipun kehilangan segalanya, Rangers menunjukkan kualitas mereka sebagai tim papan atas dengan langsung mendapatkan promosi ke kasta kedua setahun kemudian. Pada akhirnya, Rangers berhasil menjadi juara Scottish Championship dan kembali ke kasta teratas Liga Skotlandia pada 2016.
Pada era 90-an, Parma menjadi langganan di kompetisi Eropa dan berstatus tim papan atas di Liga Italia Serie A. Sayangnya, kendala finansial menghambat konsistensi mereka. Pada 2015, manajemen Parma tidak mampu membayar para pemain dan staf. Para pemain Parma harus mencuci baju dan sepatu mereka sendiri.
Kondisi tidak membaik, dan Parma dinyatakan bangkrut oleh otoritas sepak bola dan pengadilan Italia. Parma harus menata ulang klub dari awal dan memulai kompetisi dari kasta terendah di sepak bola Italia, yaitu Serie D. Dengan kerja keras dan manajemen yang baik, Parma perlahan bangkit dan kembali ke Serie A.
Napoli, klub raksasa yang pernah menguasai Liga Italia, juga mengalami kebangkrutan. Setelah era Diego Maradona, prestasi Napoli menurun. Strategi transfer yang sering melepas pemain bintang untuk menutupi keuangan klub yang terpuruk menyebabkan Napoli dinyatakan bangkrut pada 2004 setelah gagal membayar utang sebesar 70 juta euro.
Status bangkrut membuat Napoli gagal memenuhi syarat administrasi untuk bermain di Serie B musim 2004/2005. Namun, Napoli bangkit sejak diambil alih oleh pengusaha TV Italia, Aurelio De Laurentiis. Di bawah kepemimpinan De Laurentiis, Napoli kembali menjadi kekuatan yang diperhitungkan di Liga Italia.
Fiorentina, klub Italia lainnya, juga pernah bangkrut. Pada 2002, La Viola memiliki utang sebesar 70 juta euro yang gagal dibayar. Hal ini membuat Fiorentina harus bermain di Serie B dan mengubah nama menjadi Florentia Viola. Setahun kemudian, mereka kembali menggunakan nama Fiorentina.
Keterpurukan Fiorentina berakhir setelah klub diambil alih oleh keluarga Della Valle. Sang pemilik baru membawa Fiorentina kembali ke kasta tertinggi Liga Italia, yaitu Serie A. Bahkan, mereka sempat tampil di Liga Champions dan lolos hingga perempat final musim 2007/2008.
Terakhir adalah Girondins Bordeaux, klub legendaris Prancis yang menyatakan diri bangkrut pada 2024, beberapa hari setelah terdegradasi ke divisi tiga sepak bola Prancis. Pernyataan bangkrut disampaikan pihak Bordeaux melalui media sosial pada Jumat (26/7) dini hari WIB.
Les Girondins mengajukan kebangkrutan di Pengadilan Niaga Bordeaux untuk memulai restrukturisasi yang diperlukan.
Keputusan ini diambil setelah Bordeaux gagal mengajukan banding atas putusan Direktorat Nasional untuk Pengendalian Manajemen (DNCG) yang menjatuhkan sanksi degradasi ke divisi tiga. Bordeaux juga mencabut status profesional klub yang telah dipegang sejak 1937. Kontrak seluruh pemain dihapus, dan mereka bisa pindah dengan status bebas transfer.
"Menyusul konfirmasi keputusan DNCG untuk mendegradasi FC Girondins de Bordeaux ke National 1, klub mengajukan kebangkrutan di Pengadilan Niaga Bordeaux pada Selasa untuk memulai restrukturisasi yang diperlukan," demikian pernyataan resmi Bordeaux.
Sebelumnya, pemilik Liverpool, Fenway Sports Group, sempat dikabarkan akan mengambil alih klub yang memiliki enam gelar juara Ligue 1 itu. Namun, Fenway Sports Group kemudian menarik diri dari pembicaraan. "Ini adalah keputusan sulit yang mengantisipasi konsekuensi tak terelakkan dari proses restrukturisasi yang sedang berlangsung," tulis pihak Bordeaux.
Klub yang berdiri pada 1920 itu sudah mengalami krisis finansial sejak pandemi Covid-19. Bordeaux kemudian menjadi tim kunci dan degradasi ke Ligue 2 pada 2022. Musim lalu, Bordeaux finis di posisi 12 klasemen Ligue 2, tetapi dinyatakan degradasi ke divisi tiga karena masalah administrasi.
Bordeaux merupakan klub legendaris tempat banyak legenda dan pemain bintang Prancis bermain. Selain Zidane, pemain bintang yang pernah berseragam Bordeaux adalah Bixente Lizarazu, Christophe Dugarry, Sylvain Wiltord, dan yang terbaru Aurelien Tchouameni serta Jules Kounde. Kendati mengalami kebangkrutan, Bordeaux diharapkan mampu bangkit kembali seperti klub-klub besar lainnya yang pernah mengalami nasib serupa.
Itulah daftar enam klub besar yang pernah bangkrut. Meskipun pernah terpuruk, dengan manajemen yang baik dan dukungan dari berbagai pihak, mereka mampu bangkit kembali dan meraih kejayaan di dunia sepak bola. Kisah mereka menjadi pelajaran berharga bahwa di balik setiap krisis, selalu ada peluang untuk bangkit dan meraih sukses. (*)
Editor : Toar Rotulung