MANADOPOST.ID - Nama Gusti Arya Asim atau yang akrab disapa Supergaas kian dikenal di dunia beladiri nasional.
Lahir di Manado, 24 Februari 2000, pemuda asal Tongkaina Lingkungan I ini kini berprofesi sebagai atlet sekaligus coach di Bali.
“Saya lahir dari keluarga sederhana dan sejak kecil mencintai olahraga,” ujar Gusti Arya saat ditemui.
Ia bercerita, kecintaannya pada beladiri tumbuh dari lingkungan yang keras dan pengalaman menjaga diri dari perundungan semasa sekolah.
“Saya melihat banyak bully di depan mata. Dari situ saya memilih beladiri,” katanya.
Perjalanan itu dimulai dari karate, lalu berlanjut ke pencak silat, muaythai, kickboxing, wushu sanda hingga MMA. “Semua cabang itu saya jalani latihan dan kejuaraan,” ucapnya.
Namun jalan yang ditempuh tak selalu mulus. Gusti Arya mengaku sempat berada di titik terendah ketika ayahnya meninggal dunia.
“Itu cobaan paling berat. Bertahun-tahun hidup terasa sulit dan saya sempat berpikir berhenti,” tuturnya.
Ia memilih melepas pekerjaan dan kembali fokus sebagai atlet.
“Saya tidak senang melihat keluarga, terutama ibu, diremehkan atau dipandang sebelah mata. Itu yang menguatkan saya,” katanya.
Keputusan itu berbuah manis. Prestasi demi prestasi diraih di berbagai ajang.
Pada Porprov 2019 di Bitung, ia meraih emas wushu sanda. Tahun 2022, Gusti Arya membawa pulang perak muaythai di Porprov Bolmong, emas MMA amatir, dan emas kickboxing di Bali.
Ia kembali mengukir emas di Porprov Bali untuk wushu sanda, menjuarai K1 profesional di Batam, serta merebut sabuk juara MMA Hybrid Jakarta kelas 63 kilogram.
“Alhamdulillah sampai hari ini saya masih bisa membanggakan orang tua,” ujarnya.
Dengan deretan prestasi tersebut, Gusti Arya menatap target berikutnya. “Atlet nasional dulu, next pasti go international,” katanya optimistis. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos