Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Mari Berbenah & Jangan Menyerah

Clavel Lukas • Jumat, 17 April 2020 | 15:35 WIB
Oleh: Marlon Sumaraw  msumaraw@yahoo.com
Oleh: Marlon Sumaraw msumaraw@yahoo.com
KITA mestinya sudah mempersiapkan hari kemerdekaan dari penjajahan Covid-19. Apakah 20 Mei bertepatan Hari Kebangkitan Nasional? Atau 1 Juni di Hari lahir Pancasila?Bisa juga 17 Agustus pada Hari Kemerdekaan. Atau hari apalah. Seperti China. Mereka telah “memerdekakan diri” dari Covid-19. Perkantoran, persekolahan, transportasi, mal, dll sudah dibuka. Walau sesungguhnya, hingga sekarang ini masih ada Corona di Negeri Tirai Bambu itu. Pembaca budiman. Bukan apa-apa. Belajar dari kemunculan virus-virus, Covid-19 ini takkan berakhir. Kita menunggu corona berakhir, itu percuma dan buang waktu. Mungkin pembaca akan menyebut, penulis ini ngawur, mabuk, goblok, bodoh, dungu, tumpul, sombong, dll. No problem. Tapi logikaku sederhana. Covid-19 ini kurang lebih sama atau 11-12 dengan HIV/AIDS, Malaria, Demam Berdarah (Dengue), Influenza, Flu Burung, SARS, MERS, dll. Pertama kali ditemukan begitu heboh nan menakutkan. Setelah itu, biasa-biasa saja. Silahkan disearching/digoogling sejarah kemunculan pertama virus-virus itu. Lalu berapa korbannya. Hampir tidak keliru, HIV/AIDS telah “sukses” mencabut nyawa hampir 40 juta penduduk bumi. Dan apakah virus-virus itu sudah game over? Sampai detik ini, TIDAK. Begitupun Corona. Setelah diluncurkan, dilaunching, atau ditemukan pada Desember 2019, mungkin akan ada terus sampai dunia ini kiamat. Takkan pernah berakhir. Persis seperti HIV/AIDS dll, yang hingga kini tetap hidup. Atas dasar itu. Marilah kita mempersiapkan diri, berbesar hati, berjiwa besar dan membiasakan diri menyambut kehadiran virus corona di dunia fana ini. Sekaligus kita belajar menangkalnya. Kita petik hikmah sajalah. Corona memberi pelajaran kepada semua makluk di bumi ini agar hidup sehat alias berpola laku bersih. Jangan lalai. Jangan malas. Ikut anjuran pemerintah physical distancing: jaga jarak dan pakai masker. No 1 dan terutama, jangan stres. Apalagi depresi. Bergembiralah. Biar imunmu terjaga, kuat, tangguh dan sakti melawan virus. Ingat, hati gembira adalah obat termanjur. Iyesss. Selain itu. Kibarkan, kobarkan, kabarkan semangatmu. Sebab semangat yang patah, remukkan tulang. Sekali lagi Thanks God. Lewat Covid-19 ini kita semua diajarkan introspeksi diri. Lihat. Tak pandang pangeran, perdana menteri, wali kota, konglomerat, olahragawan, dokter ahli, legislator, semuanya terserang Covid-19. Begitupun perekonomian. Negara maju, perusahaan raksasa, besar, menengah, kecil, plat merah, semuanya merana. Omzet tiarap. PHK mewabah dan mendunia. Demikian pula agama dan kepercayaan. Semua terdampak. Tak bisa kumpul beribadah. Saya teringat lagu Ebiet G Ade berjudul: Untuk Kita Renungkan.. Baiknya sejenak kita dengarkan lagu ini. Search saja di google atau youtube. Lalu dengarkan dan resapi. *** Saya ada cerita. Di kompleks tempat tinggal, ada seorang pemuda bernama Andik, pengangkut sampah. Setiap hari dia keliling perumahan dengan gerobak sampahnya. Baru-baru ini saya lihat dia pakai masker. Maaf, masker bekas. Tapi..., tak terlintas kekhawatiran Covid-19 di raut wajahnya. Dia ceria. Apalagi setiap mendapat jasa Rp2 ribu dari orang-orang kompleks yang sampahnya diangkut. Dan si Andik ini tak pegang Android atau IOS. Sehingga tak tahu berseliwerannya informasi Covid-19 dari banyak orang yang sudah ahli corona. Seperti tulisan salah satu guru jurnalistik, Dahlan Iskan. Dalam disway edisi 8 April berjudul “Covid Apalagi”, Dahlan menyebut: Banyak orang sudah ahli Covid-19, bahkan lebih ahli dari dokter.” Sekarang banyak orang serba tahu Covid-19. Daripada capek-capek, poin penting beliau berpesan, move on sajalah dan jangan depresi. Jalani hidup bersih dan sehat. Ikuti baik-baik physical distancing. Kini saatnya kita harus beradaptasi atau hidup baru pasca penemuan Covid-19. Misalnya, tinggalkan dan lupakan saja model jabat tangan. Ganti salam Jepang. Atau salam lain. Terserah Anda. Lalu ke mana-mana, wajib pakai masker. Di tempat pertemuan banyak orang atau kerumunan, selalu jaga jarak. Kalau perlu, buat aturan pemerintah: jaga jarak dan dilarang tidak pakai masker. Pun pemerintah lewat perusahaan air minumnya, baiknya mengadakan tempat cuci tangan. Seperti adanya tong sampah di mana-mana. Kemudian di rumah sakit, pemerintah wajib mensyaratkan atau membantu peralatan canggih. Seperti ramai terjadi sekarang ini akibat kekurangan peralatan. Pasien meninggal bukan Covid-19, tapi dimakamkan dengan cara-cara Corona. Sedih nian. Belum lagi terjadi saling curiga. “Jangan-jangan si dia corona.” Stop itu. Anggaplah semua orang sudah Covid-19. Sehingga kita mawas diri untuk menangkalnya. Enjoy saja. Pendek kata, tidak ada masalah yang tidak bisa dipecahkan. Tinggalkan dan tanggalkan rasa takut berlebihan. Setelah itu, beraktivitaslah seperti sedia kala. Nah, poin penting berkreasilah. Mari sama-sama mencari peluang sekalipun diteror Corona. Tentu, tidak boleh lupa dan abai menerjemahkan peringatan pemerintah untuk pakai masker, jaga jarak, cuci tangan, dll. Masih takut dengan Covid-19 ? Tidak perlu. Saya 1000 persen tak takut. Yang pasti, semua anjuran pemerintah wajib diikuti. Kecuali satu, saya tak akan diam di rumah, atau work from home. PNS/ASN oke-oke saja alias wajib. Sebab para abdi negara itu digaji negara. Swasta ? Tidak! Sama saja bunuh diri jika tak kerja. Wkwkwkwkwkwk. Akhir kata, mari kita nyanyi tembang d”Masiv beberapa penggal. Lagu berjudul: Jangan Menyerah Syukuri apa yang ada Hidup adalah anugrah Tetap jalani hidup ini Melakukan yang terbaik Tuhan pasti kan menunjukkan Kebesaran dan kuasaNya Bagi hambaNya yang sabar Dan tak kenal putus asa Jangan menyerah Jangan menyerah Jangan menyerah (*) Editor : Clavel Lukas
#Marlon Sumaraw #Covid-19