PhotoMANADOPOST.ID-Ironi yang tersembunyi dalam selubung pandemi global ini berhasil terindentifikasi. Namun, proses identifikasi ini sendiri berakhir ironi. Inilah kesan penulis setelah menelusuri Pandemic! Covid-19 Shakes the World. Buku ini ditulis oleh Slavoj Žižek, seorang filsuf dan kritikus budaya asal Slovenia. Penemuan yang tak terelakkan dalam tulisan ini merujuk pada gema komunisme “baru”. Žižek mengusulkannya sebagai salah satu alternatif jawaban terhadap rekonstruksi sosial di masa pandemi. Seiring dengan menguapnya jejak komunisme “lama”, sebagai lawan tanding kapitalisme dan demokrasi liberal di abad ke-20, Žižek mendesak format baru komunisme. Gerakan konseptual ini, menurut Daniel J. Gunkel, mengadopsi proses dekonstruksi. Dekonstruksi merujuk pada analisis semiotik yang diusung oleh Jacques Derrida, seorang filsuf Prancis kelahiran Aljazair. Sebagai sebuah konsep yang cenderung memberontak terhadap kungkungan definisi, dekonstruksi bukanlah sebuah penghancuran makna “lama” demi makna “baru”. Bagi Derrida, “de-” pada dekonstruksi lebih mengungkapkan apa yang senantiasa menuntut definisi. Ia melampaui batasan konseptual konstruksionisme dan dekonstruksionisme sendiri. Makna ini mengasumsikan proses interpretasi berkelajutan. Ia menabrak tirani kebenaran tunggal dan universal. Ironi Pertama Menurut Žižek, konsep komunisme “lama”, yang bersandar pada absensi kelas sosial, kepemilikan bersama, dan kontrol absolut negara telah mengalami dekonstruksi. Namun, proses interpretasi ini tidak berhenti pada penjungkirbalikkan konseptual semata. Konsep komunisme “lama” tidak hanya mengalami negasi. Žižek mendorong strategi kedua. Proses interpretasi strategis ini menghasilkan kehadiran makna baru yang tak kekal. Makudnya, kehadiran konsep ini justru membuka gugusan kemungkinan pemaknaan baru yang mengelak pembatasan. Dengan strategi dekonstruksi ini, Žižek mengarusutamakan pentingnya bentuk baru komunisme. Ia menghidupkan kembali term “komunisme” namun menelanjanginya dari kungkungan makna lama sebagai warisan perang ideologis abad ke-20. Makna baru yang digali Žižek menekankan bentuk ekonomi yang terkontrol secara global oleh sejenis organisasi global (hlm. 45). Organisasi global ini pun berkapasitas untuk membatasi kedaulatan negara tertentu saat berhadapan dengan kondisi luar biasa (hlm. 45). Kondisi ini tersusun oleh desakan-desakan di atas batas kedaulatan dan kemampuan negara. Žižek kemudian merujuk pandemi global ini beserta segala dampaknya sebagai wajah nyata kondisi luar biasa tersebut. Berhadapan dengan pandemi ini, kebutuhan akan kedaulatan negara tak sebanding dengan kemendesakan solidaritas global dan kerja sama universal. Žižek juga mengidentifikasi relevansi desakannya dalam pergeseran logika ekonomi pasar menuju ke moral universal. Pergeseran logika ini menyeruak di tengah kungkungan pandemi melalui mobilisasi masif dari sumber daya negara untuk melayani publik. Baginya, pandemi ini telah mendesak negara untuk mencipta kebijakan yang radikal dan melampaui intuisi ekonomi kapital. Praktisnya, negara-negara umumnya rela menempuh penalaran logika antiekonomi kapital dengan menerapkan “lock down” dan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar di beberapa daerah di Indonesia. Logika ini turut mendasari kehati-hatian dalam menetapkan proses “new normal” atau adaptasi kebiasaan baru dengan acuan fundamental pada ukuran kesehatan publik. Bagi Žižek, ironi pertama dari solidaritas global mewujud dalam protokol ketat untuk menjaga jarak fisik dengan orang lain, bahkan isolasi dan karantina mandiri. Wujud kepedulian sosial kini secara ironis justru terungkap nyata dalam aktivitas “menyendiri” dan “menjauhkan diri secara fisik” dari orang lain. Namun, strategi dekonstruksi Žižek juga tak lolos dari jebakan ironi. Dekonstruksi, sebagai interpretasi tanpa batas, tidak akan berhenti pada keyakinan Žižek akan kemedesakan hadirnya komunisme “baru”. Baginya, komunisme “baru” ini bersemangatkan solidaritas global yang melampaui keangkuhan batas kedaulatan negara dan kepongahan pilar ekonomi kapitalis. Justru, desakannya ini membuka pintu bagi segala kemungkinan interpretasi tentang format kerja sama internasional dan pemaknaan kemanusiaan global. Salah satu interpretasi baru atas konsep Žižek merujuk pada penegasan Iraj Harirchi, Deputi Menteri Kesehatan Iran. “Virus ini sifatnya demokratik, dan tidak membedakan antara miskin dan kaya atau antara pemerintah dan rakyat” (hlm. 42). Alih-alih menggunakan term komunisme, karakter virus tersebut lebih selaras dengan term demokrasi. Rupanya, karakter demokrasi lebih mengangkat ke permukaan nilai kesederajatan manusia dan menjadikannya sebagai nilai jangkar praktik solidaritas universal, daripada term komunisme “baru”. Lagipula, konsep Žižek ini tidak mampu menyelamatkan nasib kelas pekerja. Nyatanya, dampak pandemi ini sangat riil bagi kelompok ini. Bagi mereka, kondisi ini menihilkan nafsu untuk mencari kemewahan dan sesuatu yang “lebih”. Bagi mereka, ini menyangkut kelangsungan hidup dan pemenuhan kebutuhan dasar. Konsep komunisme “baru” ini pun justru abstrak di tengah negara dengan komunitas padat dan kumuh (di mana jarak fisik tidak mungkin), negara yang mempunyai legislator lebih banyak daripada fasilitas kesehatan, serta negara yang tidak mampu mengontrol dunia perbankan dalam kebijakan relaksasi pinjaman. Ironi Kedua Buku ini tidak hadir di tengah sepinya kritik. Bentangan bandul diskusi berayun di antara para pendukung pemikiran Žižek, di ujung yang satu, dan para pengagum konsep liberalisme dan ekonomi kapitalisme, sebagai kritikus tajam dari pemikirannya, di ujung yang lain. Namun, apresiasi tetap meluncur di tengah kritik. Para pembaca dan kritikus buku ini tak mampu menyangkal rasa takjub akan antisipasi fenomena dan akselerasi penulisan buku Pandemic! Faktanya, 31 Desember 2020: China menginformasi the World Health Organization (WHO) akan adanya kasus pneumonia tanpa deteksi penyebab. 20 Januari: transmisi antarmanusia terkonfirmasi. 24 Januari: para ilmuwan mempublikasikan virus ini sebagai “pandemic potential”. 9 Maret: Italia menerapkan karantina nasional dan lock down. 24 Maret: Publikasi Pandemic! Rentang waktu antara munculnya kasus dan publikasi buku ini kurang lebih 100 hari! Dua kritikan tajam datang dari Yohan Koshy (The Guardian) dan Ed Cumming (inews.co.uk). Resepsi mereka simpatik, namun menukik sampai ke hakikat penulisnya. Kecenderungan Žižek mengantisipasi fenomena global dalam buku ini menghadirkan ironi bagi dirinya sebagai filsuf. Bagi Koshy, interpretasi Žižek sebagai wujud antisipasi pandemi dari perspektif filsafat patut dilupakan. Kekurangan ini dipicu oleh sifat dasar buku ini yang mengantisipasi even yang sedang beraktualisasi. Sedangkan, Cumming melihat usaha Žižek surut dalam informasi baru dan refleksi terukur. Kemadekan ini merefleksikan takdir sebuah buku yang tergesa-gesa dalam kelahirannya. Di sini, penegasan Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831), seorang filsuf Jerman, tentang hakikat filsafat sangatlah sepadan. Baginya, filsafat selalu “terlambat” sebagai pelayan bagi dunia demi menghadirkan instruksi yang tepat dalam menciptakan “tatanan yang seharusnya”. Sebagai interpretasi tentang dunia, filsafat muncul ketika sebuah even telah mencapai kepenuhan aktualisasinya. Deskripsi elegen Hegel tentang kerja filsafat: “the owl of Minerva begins its flight only with the onset of dusk (Burung Sang Dewi Minerva terbang ketika senja hadir). Demikian, fenomena pandemi belum mencapai kepenuhan aktualisasinya. Ia masih bergeliat. Puncak dan ekor kehadirannya masih luput dari indentifikasi dan intervensi manusia. Pencarian wujud penuh pandemi melalui penelitian dan interpretasi masih akan memenuhi ruang penelitian dan interpretasi ilmu pengetahuan, serta diskusi publik. Sebagai pemicu nalar dan empati global, buku ini jelas punya andil. Namun, ia tidak ditakdirkan sebagai titik henti interpretasi. Epilog Strategi dekonstruksi sebagai pembuka keluasan kemungkinan menyiratkan nasib dasar buku ini. Ia hanyalah pembuka bagi keluasan kemungkinan interpretasi bagi teks “pandemi global” yang terbuka dan sedang “menjadi penuh”.(*) Editor : Clavel Lukas