Oleh: Srinanda Lamadau, Anggota DPRD Manado
BEBERAPA bulan terakhir ini aksi kriminalitas dan tarkam di Manado tersaji intens di hadapan mata kita. Kekerasan di mana-mana hingga menghilangkan nyawa orang lain seolah pelan-pelan menjadi biasa saja di negeri yang katanya kota pariwisata dunia ini.
Sebagai seorang wakil rakyat, saya sudah berkali-kali menyuarakan keadaan ini. Saya sangat menitik beratkan problem anarkisme massal ini sebagai problem dekadensi moral yang tentu sumber masalahnya cukup kompleks dan variatif. Mulai dari kesenjangan sosial yang ditandai krisis ekonomi hingga minimnya lembaga atau instansi yang mau menyisihkan waktu untuk giat melakukan pembinaan terhadap generasi pelanjut Kota Manado ini.
Menurut saya pribadi, akhir-akhir ini Manado alami pandemi kriminalitas. Dan seolah tarkam serta kekerasan, pelan tapi pasti berubah wujud menjadi tradisi. Semua ini ditenggarai karena mudahnya mengakses minuman keras dan minimnya pengawasan orang tua, guru, tokoh masyarakat bahkan pemerintah, dalam hal ini dinas yang membidangi pemberdayaan masyarakat dan anak muda tentunya.
Entah mengapa, saya merasa problem-problem klasik ini terkesan dibiarkan dan seolah tidak dianggap penting oleh kita. Padahal ini terkait wajah negeri kita yang pada gilirannya dapat berdampak kepada minimnya animo investasi oleh karena kerawanan sosial. Dan lebih jauh dari pada itu, harapan negara dalam menyambut bonus demografi bisa tercoreng jika ini terus diabaikan. Inikah generasi Indonesia emas itu??
Melalui tulisan ini saya, mengetuk nurani kita semua bahwa problem tarkam dan kriminalitas ini bukan hanya menjadi pekerjaan rumah aparat penegak hukum saja. Jangan biarkan polisi, tentara bekerja sendirian tanpa peran serta pemerintah dan kita semua yang berada di kota ini.
Saya mendesak Pemerintah Kota Manado agar berani menggelontorkan anggaran guna sumber daya manusia melalui program program pro anak muda yang berbasis pada kegiatan-kegiatan positif yang bukan hanya happy hura belaka.
Pola hidup bebas dan tuntutan validasi eksistensi publik, telah mempengaruhi mayoritas anak muda kita menjadi keras dalam kehidupan sosial. Bahkan tak jarang, pilihan melukai orang seperti menjadi fashion dan kebanggaan tersendiri.
Saya pernah menemukan seorang pemuda melakukan penganiayaan terhadap orang lain. Dan saat saya tanyakan apa motivasinya melakukan hal tersebut, dengan mudah dan sombongnya dia menjawab 'mo suka cari nama'. Ini kan gila. Apa kewarasan mereka ini terganggu dengan peran-peran ekstrim yang dianggap itu keren dan kekinian?
Sungguh apa yang terjadi di Manado ini bentuk amoral dan kemunduran di tengah bumi bergerak maju ini.
Untuk itu, sekali lagi saya mendesak pemerintah turun tangan langsung. Kita punya perangkat sampai di lorong-lorong. Kita punya Sat Pol PP. Maksimalkan semua yang ada dan berdayakan semua sekaligus menggerakkan kembali karang taruna.
Tulisan ini juga saya tujukan kepada KNPI dan organisasi-organisasi kepemudaan di Manado.
Saya bersedia ikut memberi diri bersama yayasan yang saya pimpin untuk turun langsung ke lapangan mengedukasi pemuda pemudi kita. Saya meyakini bahwa mereka hanyalah kelompok yang butuh perhatian dan penghargaan sembari diluruskan cara mereka yang saat ini berada di persimpangan jalan.
Kepada Polrestabes Manado, saya mengapresiasi kerja keras kepolisian. Saya berharap kita lebih maksimal lagi dalam menghadapi berbagai masalah sosial kemasyarakatan di Manado. (***)