“SVR adalah guru politik saya. Saya banyak belajar dari beliau ketika sama-sama menjadi pimpinan dewan,” kata WL, sapaan akrabnya.
Dia mengaku, saat itu dia masih asing dengan aksi demonstrasi. Namun dirinya sering menerima demonstrasi dengan SVR.
“Jadi saya banyak belajar dari beliau cara menerima aksi demo. Bagaimana sikap Pak SVR dan apa yang biasa beliau sampaikan. Nah biasanya Pak SVR selalu mengawali sambutannya dengan kalimat I Yayat U Santi,” kenangnya.
Suatu hari, cerita WL, mereka berdua kembali menerima aksi demonstrasi.
“Ketika itu saya yang langsung ambil kendali dan meneriakkan I Yayat U Santi. Pak SVR kaget. Dia berbisik pada saya, wah kamu sudah duluan. Murid salib guru. Ini salah satu kenangan saya bersama Pak SVR yang tak akan saya lupakan,” tukasnya.
WL menilai politik bagi SVR tak hanya merebut kekuasaan atau jabatan. “Tapi betul-betul untuk kesejahteraan rakyat. Selamat jalan senior, selamat jalan guru politik, selamat jalan sahabat. Beristirahatlah dalam damai Kristus, bersama para Kudus di Sorga. Sampai jumpa di Yerusalem baru,” kunci politikus PDI Perjuangan ini.(gel)
Editor : Tanya Rompas