MANADOPOST.ID—Setiap kali melewati simpang padat antara Jalan Matraman Raya dan Jatinegara Barat, banyak yang mungkin hanya sekilas memandang dua patung perunggu di depan Gereja Koinonia. Sosok ayah memegang senapan dan anak lelaki berkalung ketapel itu seakan membeku dalam waktu. Namun, di balik monumen yang diresmikan pada 7 Juni 1982 oleh Gubernur Tjokropranolo ini, tersimpan kisah heroik tentang keluarga pejuang asal Minahasa: Martinus Runtunuwu dan putranya, Bernard. Keduanya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata bersama dengan ratusan Pahlawan Nasional lainnya.
Menurut arsip dan berbagai catatan sejarah, kedua sosok tersebut adalah anggota Kebaktian Rakjat Indonesia Soelawesi (KRIS), sebuah laskar Minahasa pimpinan Evert Langkay yang aktif di wilayah Jakarta pada masa revolusi 1945–1946. Mereka terlibat langsung dalam pertempuran sengit di kawasan Meester Cornelis (kini Jatinegara), melawan serdadu Inggris dan Belanda.
“Martinus Runtunuwu dan anaknya, Bernard, adalah simbol keberanian rakyat Sulawesi Utara di tanah perantauan. Mereka bukan hanya berjuang untuk Indonesia, tapi juga meninggalkan teladan tentang cinta tanah air lintas generasi,” ujar Willy Rawung, tokoh Kawanua di Jakarta sekaligus pelopor Perhimpunan Tou Minahasa, didampingi Teddy Matheos dan sejumlah Kawanua yang meletakan bunga di depan patung dalam rangka Hari Pahlawan, Senin (10/11).
Ia menambahkan, kutipan ini diambil dari berbagai sumber sejarah yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun.
Bernard, yang baru berusia 13 tahun saat itu, ikut bertempur bersama ayahnya di sekitar Stasiun Rawabangke dan Viaduct Jatinegara, hanya bersenjata sebuah ketapel. Ia kemudian gugur di Rawa Buaya, Karawang, pada Februari 1946. Kisah tragis ini menjadi lambang keberanian anak bangsa dari Minahasa yang ikut mempertahankan kemerdekaan di tanah Jawa.
Monumen yang dirancang oleh pematung Haryadi itu berdiri tegak setinggi tiga meter, menampilkan dua figur manusia bergaya realis.
“Generasi muda Kawanua harus tahu bahwa darah pahlawan kita turut mengalir dalam sejarah perjuangan ibu kota,” tambah Willy.
Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Matraman, patung ini tetap menjadi pengingat akan perjuangan rakyat lintas suku dan daerah, termasuk putra-putra Minahasa yang mengorbankan segalanya demi republik.
Kisah Martinus dan Bernard Runtunuwu kembali menggema, bukan sekadar nama, tapi nyawa yang abadi dalam patung ayah dan anak di Jatinegara, yang terus berdiri sebagai penanda keberanian orang Minahasa di tengah sejarah Indonesia. (fgn)