Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Meggy Kaunang dan Jembatan Perubahan: Kisah tentang Pengabdian dan Hidup yang Bermakna

Foggen Bolung • Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:52 WIB
Albert Dirk Tendean (suami) bersama istri tercinta Meggy Kaunang semasa hidup yang sering melakukan traveling melihat keindahan Indonesia.
Albert Dirk Tendean (suami) bersama istri tercinta Meggy Kaunang semasa hidup yang sering melakukan traveling melihat keindahan Indonesia.

MANADOPOST.ID—Nama Kundap Onsay Maghohunoy Kaunang atau akrab disapa Meggy Kaunang mungkin tidak sering terdengar di ruang publik. Namun bagi mereka yang pernah bekerja bersamanya, belajar darinya, atau disentuh oleh caranya melayani, Meggy meninggalkan jejak yang dalam. Ia tidak membangun pengaruh lewat sorotan, melainkan melalui kerja sunyi, pilihan hidup yang konsisten, dan kesetiaan pada makna.

Jejak itu kini kembali hadir melalui buku Jembatan Perubahan HIDUP SEHAt: Jantung Kuat – Hidup Bermakna, dari Ciracas untuk Indonesia, yang diluncurkan pada 30 Desember 2025 di Gramedia Manado. Buku ini berangkat dari skripsi Meggy, sebuah penelitian lapangan yang ia lakukan saat bertugas di Puskesmas Ciracas. Lebih dari karya ilmiah, buku ini menjadi penanda perjalanan hidup dan pengabdian Meggy.

Albert Dirk Tendean, suami Meggy, mengenang awal pertemuan mereka dengan sederhana. “Pertemuan kami sebenarnya singkat,” katanya. Awal 1989, Meggy dikenalkan oleh tante Albert. Keduanya sudah dewasa dan bekerja, Meggy di Kanwil Kesehatan, Albert di Bank Dagang Negara. Mereka tidak berlama-lama dalam masa pacaran. November di tahun yang sama, keduanya menikah. Sebuah keputusan cepat yang kelak menuntut keteguhan.

Pernikahan itu berjalan seiring dinamika penugasan. Tahun 1997, Albert dipindahkan ke Jakarta, sementara Meggy sedang menempuh pendidikan spesialis mata. “Saya sadar saya memberatkan Meggy,” ujar Albert. Namun Meggy ikut. "Meggy sempat mencoba berusaha melanjutkan pendidikan spesialis mata di Universitas Indonesia (UI) di Jakarta, tetapi tidak berhasil," kenang Albert. Pada akhirnya, pendidikan itu akhirnya ia lepaskan, sebuah pilihan yang diambil tanpa banyak keluhan.

Belum lama di Jakarta, penugasan kembali datang. Sekitar tahun 2000, Albert dipindahkan ke Denpasar. Lagi-lagi Meggy menyesuaikan. Di Bali, ia memilih jalur baru dengan menempuh pendidikan lanjutan di bidang psikologi. Tak lama berselang, mereka kembali ke Jakarta. Di sanalah Meggy menyelesaikan studi magister psikologi di Universitas Indonesia. Perjalanan akademiknya tidak lurus, tetapi penuh ketekunan, mengikuti keadaan tanpa kehilangan arah.

Di Jakarta pula Meggy menjalani peran penting sebagai aparatur sipil negara di Pusat Pelayanan Kesehatan Pegawai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ia beberapa kali ditugaskan ke wilayah, termasuk Puskesmas Ciracas. Dari pengalaman langsung melayani masyarakat itulah Meggy melakukan penelitian tentang senam jantung sehat, penelitian yang sederhana, aplikatif, dan berpihak pada upaya pencegahan.

Penelitian itu sempat tersimpan sebagai karya akademik. Hingga kemudian Albert mulai memikirkan cara untuk mengenang Meggy. “Saya mencari cara yang baik untuk mengenangnya,” katanya, terlebih saat memasuki tahun pertama kepergian Meggy pada tahun ini. Ia berdiskusi dengan dr Dolly Kaunang, kakak Meggy yang juga dokter spesialis jantung. Dari sanalah lahir gagasan membukukan skripsi Meggy. Dolly menyusunnya kembali dan bertindak sebagai editor. Buku ini kemudian diluncurkan dalam diskusi akhir tahun di Manado, sebuah cara sederhana, namun bermakna, untuk menjaga ingatan tentang Meggy tetap hidup.

Bagi Albert, Meggy adalah sosok yang tegas dan jujur. “Perkataannya tidak bersayap. Langsung ke inti,” ujarnya. Bahkan saat menerima hasil pemeriksaan medis saat ia jatuh sakit, Meggy memilih menyampaikannya apa adanya. Kabar itu membuat Albert kaget dan khawatir. Namun Meggy justru menenangkan. Mereka sepakat berserah kepada Tuhan, sambil tetap berusaha sebaik mungkin. Hingga akhirnya, Tuhan memanggil Meggy pada 8 Agustus 2025.

Di luar keluarga, Meggy dikenal mampu bergaul dengan berbagai kalangan. Ia memberi semangat dan hadir tanpa menggurui. Satu sisi lain dari Meggy bahkan baru diketahui Albert setelah istrinya berpulang. Ternyata Meggy aktif di organisasi Alumni Fakultas Kedokteran Unsrat angkatan 1980 dan menjabat sebagai sekretaris umum. “Saya juga baru tahu setelah teman-teman FK 80 datang melayat,” katanya. Meggy berperan mengatur program, merangkul mereka yang sempat menjauh, bahkan mereka yang tidak menyelesaikan studi. Ia menjadi penghubung yang membuat angkatan itu tetap kompak, tanpa pernah menonjolkan diri.

Meggy lahir di Manado, 5 September 1961. Ia menempuh pendidikan di SD GMIM 4 Ranotana, SMPN 1 Manado, SMAN 2 Manado, hingga Fakultas Kedokteran Unsrat. Masuk FK Unsrat tahun 1980 dan lulus pada 1988. Diangkat sebagai PNS pada 1 Maret 1989, menikah pada 11 November 1989 di Gereja GMIM Bethesda Manado. Meggy pensiun sebagai PNS Pemda DKI Jakarta pada 10 Oktober 2021.

Meggy telah berpulang, namun gagasannya hidup kembali. Melalui buku ini, melalui penelitian yang kembali dibaca, dan melalui cerita orang-orang terdekatnya, Meggy terus membangun jembatan, dari Ciracas, dari ruang pelayanan kesehatan, menuju hidup yang lebih sehat dan lebih bermakna.(fgn)

Editor : Foggen Bolung
#Kundap Onsay Maghohunoy Kaunang #Meggy Kaunang