MANADOPOST.ID—Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus melakukan peninjauan langsung ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung pada Kamis 30 April 2026. Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan pengembangan kawasan strategis tersebut berjalan sesuai arah kebijakan pembangunan ekonomi daerah.
Dalam peninjauan tersebut, gubernur menegaskan bahwa KEK Bitung memiliki peran penting dalam meningkatkan daya tarik investasi di Sulawesi Utara. Kawasan ini dinilai mampu memberikan nilai tambah karena menghadirkan ekosistem industri yang terintegrasi dan didukung infrastruktur yang terus berkembang.
“KEK ini adalah daya saing daerah. Wilayah yang memiliki KEK cenderung lebih dilirik investor dibandingkan yang belum memiliki sistem pendukung industri yang memadai,” ujar Yulius Selvanus.
Ia juga menyoroti dukungan pemerintah pusat dalam pengembangan kawasan tersebut, terutama melalui pembangunan infrastruktur oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Salah satu yang paling dirasakan manfaatnya adalah peningkatan akses jalan menuju kawasan KEK yang kini lebih representatif.
Dengan luas sekitar 534 hektare, KEK Bitung menjadi salah satu kawasan strategis di wilayah timur Indonesia. Sebagian lahan di kawasan ini juga merupakan aset Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, yang terus dioptimalkan untuk mendukung masuknya investasi baru.
Sebelumnya, kondisi geografis kawasan yang didominasi perbukitan sempat menjadi tantangan dalam menarik investor. Namun, dengan perbaikan infrastruktur yang signifikan, persepsi tersebut mulai berubah.
“Sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik. Infrastruktur yang memadai memberikan keyakinan kepada investor bahwa kawasan ini siap dikembangkan,” jelasnya.
Hingga tahun 2026, nilai investasi yang telah masuk ke KEK Bitung tercatat mencapai sekitar Rp10,5 triliun. Pemerintah daerah optimistis angka ini akan terus meningkat seiring dengan masuknya berbagai proyek baru di sektor industri.
Salah satu rencana pengembangan yang tengah dipersiapkan adalah pembangunan pabrik pengolahan pala. Program ini merupakan bagian dari strategi hilirisasi komoditas unggulan daerah, sehingga produk tidak lagi dijual dalam bentuk mentah, melainkan sudah memiliki nilai tambah.
Selain itu, sektor perikanan juga menjadi fokus pengembangan, termasuk pembangunan fasilitas cold storage dan industri pengalengan. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat posisi Sulawesi Utara sebagai daerah penghasil produk perikanan yang kompetitif.
Di sisi lain, gubernur juga menyoroti perkembangan layanan direct call yang memungkinkan aktivitas ekspor dan impor dilakukan langsung dari Bitung ke pasar internasional seperti Jepang dan China. Sistem ini dinilai mampu menekan biaya logistik serta meningkatkan efisiensi distribusi barang.
“Pelaku usaha tidak perlu lagi bergantung pada pelabuhan di luar daerah. Ini tentu membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi lokal,” katanya.
Ke depan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menargetkan Bitung menjadi pusat hub ekspor-impor utama di kawasan timur Indonesia. Dengan dukungan KEK, pelabuhan internasional, serta program hilirisasi industri, kawasan ini diyakini mampu menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi.(*)
Editor : Angel Rumeen