MANADODOPOST.ID – RSUP Prof Dr RD Kandou Manado menegaskan komitmennya menciptakan lingkungan pendidikan tenaga kesehatan yang aman, sehat, dan bebas dari praktik perundungan atau bullying.
Penegasan tersebut disampaikan Direktur Utama RSUP Kandou, Prof Dr dr Starry H Rampengan SpJP (K) FIHA MARS MHKes, saat membuka kegiatan Orientasi Pendidikan dan Pelatihan bagi peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado dan mahasiswa D-IV Gizi Poltekkes Kemenkes Gorontalo, Selasa (1/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, peserta didik mendapatkan pembekalan mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD), Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP), Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS), pelayanan prima, hingga ketahanan mental.
Starry mengatakan, pembekalan menjadi tahap penting sebelum peserta didik berinteraksi langsung dengan pasien. Selain keterampilan teknis, mereka perlu memahami budaya keselamatan pasien serta membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan tenaga kesehatan, pendidik, pasien, maupun masyarakat.
“Sebelum peserta didik bersentuhan dengan pasien, kami akan membekali adik-adik dengan pelatihan dasar. Kami ditugaskan untuk mendidik dan mengajar adik-adik sampai cita-cita sebagai tenaga kesehatan maupun kompetensi lainnya tercapai,” ujar Starry.
Ia menegaskan, keselamatan pasien merupakan prinsip utama yang harus dipahami sejak peserta didik memasuki lingkungan rumah sakit. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada penguasaan skill, tetapi juga pembentukan karakter, etika, disiplin, dan kemampuan berkomunikasi.
“Rumah Sakit Kandou mengutamakan prinsip keselamatan pasien di atas segala-galanya. Peserta bukan hanya belajar soal skill, tetapi juga bagaimana cara berinteraksi dengan guru-guru, sesama sejawat tenaga kesehatan, pasien dan masyarakat. Itu nantinya akan kalian terapkan dalam menjalankan tugas,” tegasnya.
Di sisi lain, Starry secara khusus mengingatkan agar proses pendidikan di lingkungan kesehatan tidak diwarnai praktik bullying. Menurutnya, peserta didik harus memperoleh ruang yang sehat untuk berkembang, meningkatkan kompetensi, dan belajar dari pengalaman tanpa tekanan berupa tindakan yang merendahkan.
“Dalam proses pendidikan tidak boleh ada bullying. Pendidikan harus berjalan dengan saling menghormati, membangun dan mendidik. Kalau ada persoalan, harus diselesaikan melalui mekanisme yang benar, bukan dengan tindakan yang merendahkan atau melakukan perundungan terhadap peserta didik,” tegasnya.
Meski demikian, Starry mengingatkan bahwa lingkungan pendidikan yang bebas bullying harus diimbangi dengan tanggung jawab peserta didik untuk menjaga disiplin, etika, dan perilaku selama menjalani pendidikan.
Ia meminta para peserta memanfaatkan masa pendidikan untuk memperkaya pengetahuan dan meningkatkan keterampilan sesuai bidang keahlian masing-masing.
“Tugas kalian adalah mencari ilmu sebanyak-banyaknya, jangan membuat masalah dan selesaikan pendidikan tepat waktu. Tingkatkan skill sesuai keahlian, serta jaga sikap, perilaku dan etika. Etika selama menjalani pendidikan sangat penting,” pesannya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Dekan Fakultas Kedokteran Unsrat Dr. dr. Billy Kepel, M.Med.Sc., Sp.KKLP, serta Wakil Direktur II Poltekkes Kemenkes Gorontalo Fitri Yani Arbi, S.ST., M.Kes.(***)
Editor : Tanya Rompas