MANADOPOST.ID—Dari Seattle hingga Sulawesi Utara, perjalanan Kenz adalah bukti bahwa mimpi bisa terwujud di mana saja, asal ada tekad dan dedikasi. Lahir di Seattle pada 16 Agustus 2000 dari keluarga Goni-Mamuaya, Kenz membawa darah Minahasa dalam setiap langkah hidupnya. Meski tumbuh besar di AS, Kenz tidak pernah melupakan akar budayanya. Terbukti, Kenz selalu memasukkan unsur budaya Sulawesi Utara. Di setiap lagunya, selalu disisipkan sepenggal bahasa Manado, bahasa kedua yang dia kuasai selain bahasa Inggris.
“Masa kecil bolak-balik AS-Indonesia. Bahkan di umur 9 tahun, sempat pulang ke Tondano, sekolah di sana (Tondano) sekitar dua tahun, sebelum kembali ke AS,” cerita Kenz saat diwawancarai Manado Post di tengah kesibukannya, akhir pekan lalu. Karenanya, dia mengaku cukup fasih berbahasa Manado karena sempat menghabiskan masa kecil di Tondano. “Ditambah, di rumah di AS, mama papa selalu berbahasa Manado, jadi aku malah lebih tahu bahasa Manado daripada bahasa Indonesia,” ungkap Kenz.
Kecintaan Kenz pada musik tidak muncul tiba-tiba. Ia sudah terpapar dunia musik sejak kecil, mulai dari mendengarkan band pop Indonesia seperti Peterpan hingga menyanyi di gereja bersama sang ibu sejak usia enam tahun. Pengalaman pertama bernyanyi di gereja itulah yang menanamkan benih kecintaannya pada panggung. Setelah kembali ke AS, Kenz semakin terjun dalam dunia musik ketika mulai mengenal YouTube dan mendalami video musik, yang memperkuat hasratnya untuk berkarya. Hip-hop menjadi jalan bagi Kenz untuk mengekspresikan diri, dan lirik-lirik mendalam dari musisi seperti Eminem dan Soulja Boy menjadi pelariannya dalam memahami dunia.
Keunikan Kenz tidak hanya terletak pada bakat musiknya, tetapi juga bagaimana ia merangkul identitas lokalnya. Ia adalah contoh nyata seorang musisi yang memadukan pengaruh global dengan unsur-unsur kedaerahan. Sejak usia 9-10 tahun, Kenz bahkan sudah mulai menulis lirik dan membuat musik sendiri. Ketika anak-anak lain seusianya meminta mainan saat ulang tahun, Kenz justru meminta peralatan studio untuk mengembangkan bakatnya. Bermodal peralatan sederhana, ia menciptakan studio kecil di kamarnya, dan sejak saat itu, tidak ada hari tanpa musik bagi Kenz. Bahkan, ia mengaku telah mengumpulkan lebih dari 3.500 file beat hasil karyanya hingga kini.
“Di tahun 2020, saya ingin kembali ke Indonesia lagi, mencoba ingin berkarya, tapi ada pandemi,” kata Kenz, yang kemudian akhirnya harus kembali ke AS. Lagu pertamanya yang dirilis pada 2020 berjudul "Sulawesi", langsung menarik perhatian karena menyelipkan bahasa Manado dalam rap bergaya Amerika. “Lagu ini awalnya mau dibuatkan video klip di Manado, karena lagu ini menceritakan tentang aku bolak-balik AS-Indonesia, tapi saat pulang kampung ke Sulawesi (Manado), rasanya sangat menyenangkan. Aku ingin video klipnya syuting di Manado tapi karena pandemi akhirnya syuting dilakukan di AS,” jelas Kenz.
Tak hanya berhenti di sana, Kenz terus mengasah kemampuan dan menggali inspirasi dari lingkungan sekitarnya. Lagu "Cap Tikus" yang dirilis setelahnya juga menjadi sorotan, menampilkan perpaduan serupa antara hip-hop dan elemen budaya lokal. Yang menarik, video klip untuk lagu ini diambil di Sulawesi Utara, menegaskan bahwa Kenz selalu berusaha menghubungkan karyanya dengan kampung halaman. Termasuk dalam karya terbarunya, yang baru rilis dua bulan lalu berjudul “Heatwave”.
Ini juga yang menjadi pembeda dan membuat Kenz dikenal sebagai rapper dengan ciri khas lokal yang kuat. Lirik berbahasa Manado dalam lagu hip-hop membawanya lebih dekat dengan komunitas di tanah kelahiran orang tuanya, sekaligus memperkenalkan budaya Sulawesi Utara kepada audiens yang lebih luas. Lagu ini menjadi viral, dan Kenz semakin mantap dalam jalur karier musiknya.
Karya-karya yang memiliki keunikan ini membuka jalan bagi Kenz untuk bergabung dengan manajemen GOING NOODLES, co-signed by Ramengvrl, salah satu rapper kenamaan Indonesia. Kehadirannya di bawah manajemen profesional membawa Kenz ke proyek-proyek besar, seperti kolaborasi dengan Saykoji, Young Lex, Reza Arap, dan beberapa nama besar lainnya dalam video musik Team Tomodachi Indonesia.
Kenz menjadi satu dari sedikit anak muda daerah yang percaya diri dengan kedaerahannya. Di saat banyak musisi muda cenderung mengikuti arus musik internasional, Kenz justru menemukan kekuatannya dalam menjaga nilai-nilai lokal. Ia tidak pernah melupakan akar budaya Minahasa yang mengalir dalam darahnya, dan itu tercermin dalam setiap karya yang ia buat. Baginya, musik adalah alat untuk bercerita, dan cerita-cerita lokal dari tanah kelahirannya harus terus didengar. Ini menjadi salah satu alasan mengapa ia berkomitmen menyisipkan bahasa Manado dalam lagu-lagunya—bukan sekadar elemen tambahan, tapi sebagai bentuk kebanggaan pada jati diri dan budayanya. Tak hanya itu, dalam setiap video musiknya, elemen-elemen lokal sering diperlihatkan dengan kebanggaan.
Kenz mengakui bahwa musik tidak hanya tentang hiburan, tapi juga tentang pesan yang disampaikan kepada pendengar. Ia ingin karya-karyanya menjadi inspirasi bagi anak muda, terutama dari daerah, bahwa mimpi besar bisa dicapai tanpa harus mengorbankan identitas. "Kalau aku bisa, semua orang juga bisa," ungkapnya. Pesan sederhana ini memiliki makna yang kuat, terutama bagi mereka yang mungkin merasa bahwa peluang sukses hanya tersedia di kota besar atau di luar negeri.
Kenz memiliki visi besar untuk masa depannya. Selain bermimpi bisa lebih sering tampil di panggung nasional bahkan internasional, yang terdekat adalah merilis EP pertamanya dalam waktu dekat. “Mungkin awal tahun depan sudah selesai. Sekarang ada satu single yang akan segera dirilis, sedang dikerjakan. Single pertama ini akan membawa banyak hal baru baik dari musiknya hingga visualnya. Video klipnya full disyuting di Sulawesi Utara dan memiliki jalan cerita, tunggu saja,” kata Kenz.
Perjalanan Kenz membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil jika kita mau bekerja keras dan terus berusaha. Dari seorang anak yang belajar musik di kamar kecilnya hingga menjadi salah satu rapper yang diperhitungkan di Indonesia, Kenz adalah inspirasi nyata bagi generasi muda. Ia menunjukkan bahwa mimpi bisa diwujudkan tanpa harus melupakan siapa diri kita sebenarnya, dan bahwa identitas lokal bisa menjadi kekuatan di tengah dunia yang semakin global.(*)
Editor : Foggen Bolung