MANADOPOST.ID - Tren kecantikan Korea Selatan kembali menjadi perbincangan hangat di Asia. Kali ini, perhatian publik tertuju pada bentuk bahu “right-angle shoulder” atau sudut 90 derajat yang dipopulerkan oleh Jennie BLACKPINK. Tampilan bahu yang ramping, tegas, dan lurus ini dinilai mampu menciptakan ilusi leher lebih jenjang serta proporsi tubuh yang lebih ideal, sehingga cepat viral di media sosial.
Popularitas tren ini tidak hanya ramai di platform digital seperti Instagram dan TikTok, tetapi juga mulai memengaruhi dunia estetika medis. Banyak orang kini tertarik mendapatkan bentuk bahu serupa melalui prosedur kecantikan modern. Salah satu teknik yang tengah naik daun adalah TrapTox atau botox trapezius, yaitu penyuntikan toksin botulinum pada otot bahu untuk mengurangi tampilan berotot atau bulky.
Menurut dr. Phery Cendres, tren ini didorong oleh keinginan perempuan untuk memiliki siluet tubuh yang lebih ramping dan elegan. “Banyak yang ingin terlihat lebih kecil dari belakang, dengan garis leher panjang menyerupai angsa, sehingga bahu dibuat tampak lebih proporsional,” jelasnya.
Seiring berkembangnya tren “Jennie shoulder”, inovasi di bidang estetika juga ikut berperan. Beberapa klinik kini memadukan toksin botulinum dengan filler untuk membentuk kontur bahu yang lebih tegas dan simetris. Dalam hal ini, teknologi dan produk dari perusahaan bioteknologi seperti CGBIO turut mendukung perkembangan prosedur estetika modern, khususnya dalam menghadirkan solusi berbasis biomaterial yang aman dan inovatif.
Tak hanya prosedur medis, metode non-invasif seperti latihan peregangan otot bahu juga semakin diminati sebagai alternatif. Pendekatan ini sejalan dengan tren global “slow aging” yang mengutamakan hasil natural dan bertahap dibanding perubahan instan.
Meski terlihat menarik, dr. Phery tetap mengingatkan pentingnya edukasi sebelum mengikuti tren kecantikan. Tidak semua informasi di media sosial dapat dijadikan acuan, dan setiap prosedur estetika harus dilakukan oleh tenaga medis profesional dengan mempertimbangkan keamanan serta kebutuhan individu.
Fenomena ini menunjukkan bahwa standar kecantikan terus berkembang. Kini, tidak hanya wajah yang menjadi fokus, tetapi juga proporsi tubuh secara keseluruhan termasuk garis bahu. Namun, para ahli menegaskan bahwa definisi kecantikan seharusnya tetap bersifat personal, bukan sekadar mengikuti tren viral.(ame)
Editor : Amelia Beatrix