Pembicara diskusi online mengenai New Normal Tatanan Baru Bergereja, Senin (25/5).MANADOPOST.ID--Meningkatnya kasus Covid-19 di Sulut membuat jemaat harus mulai perbiasakan ibadah ‘new normal’. Karena kemungkinan tidak akan kembali 100 persen ibadah seperti dulu. Hal ini terungkap dalam diskusi online mengenai New Normal Tatanan Baru Bergereja, Senin (25/5) kemarin. Ketua KGPM Gembala Fetricia Aling MTh mengatakan, pandemi Global SARS COV 2 (Virus) atau Covid 19 telah mengguncang sendi-sendi kehidupan yang belum terpikirkan sebelumnya. Bahkan, selama dua bulan boleh dibilang sudah menciptakan situasi normal baru (abnormal berkepanjangan) dan merubah relasi sosial antara manusia itu sendiri. “Situasi ketidak-pastian berkepanjangan ini, bukan hanya menghajar negara-negara miskin, tetapi juga menghantam negara dengan sistem kesehatan yang sudah mampan seperti USA, Inggris, Jerman, Spanyol dan Italia. Selain tentu saja China, Jepang, Korea, Taiwan, Australia, Swedia dan masih banyak negara lain dengan sistem jaminan kesehatan yang baik,” sebutnya. Akan tetapi lanjutnya, negara dengan sistem kesehatan buruk seperti Indonesia, Brazil, Equador dan negara lainnya, juga ikut menjadi korban. Perubahan gaya hidup mau tidak mau harus dilakukan, diawali dengan social distancing (jaga jarak sosial) hingga physical distancing (jaga jarak fisik). “Kemudian juga penganjuran pola hidup sehat, selalu cuci tangan, menggunakan masker, kini menjadi new normal atau normalitas baru yang belum dipraktikkan sebelumnya," sebutnya. Menurut dia, kehidupan sosial yang terpukul juga mempengaruhi pelayanan gereja secara mendasar. Konsep persekutuan, kesaksian dan pelayanan mengalami satu interupsi luar biasa ketika ibadah harus dilakukan secara online atau dengan mempergunakan sistem pengeras suara (Toa). “Ini tentu situasi yang tak terprediksikan oleh gereja, dan karena itu meskipun sulit tetapi Gereja mesti melakukan penyesuaian,” ungkapnya. Pdt David Tular mengatakan, bukan hanya ekspresi pelayanan, termasuk teologi dan pemahaman jemaat terhadap ibadah, persembahan, persekutuan dan katekisasi, juga mau tidak mau mesti dipikirkan berubah. “Mengapa? bukan karena gereja siap berubah, tetapi karena Gereja dipaksa dan terpaksa berubah oleh tuntutan perubahan. Ibadah lebih sering dilaksanakan melalui media internet meski belum semua mampu memanfaatkannya karena keterbatasan jaringan maupun hal itu masih terhitung cukup mahal,” sebutnya. Sementara itu, Pemantik diskusi Audy Wuisang, Sekjen DPP PIKI mengungkapkan, gereja dipaksa untuk melakukan sebuah perubahan mendasar atas situasi yang dihadapi. Gereja yang gagal dan tidak mampu menjawab tuntutan kebutuhan yang berubah di tingkat masyarakat, lamban dan birokratis, sejak zaman Voltaire hingga penelitian Prof Linda Woodhead, menunjukkan gelagat deklinasi atau penurunan yang signifikan. “Pengalaman di Inggris sebagaimana penelitian Prof Linda membuktikan bahwa jika lembaga agama gagal beradaptasi dan terlalu berorientasi kepada dirinya dan organisasi gereja, dia akan ketinggalan. Akan digilas zaman," ujarnya. Senada juga akademisi Philep Regar. Dia mengatakan, dramatisnya perubahan dewasa ini, mau tidak mau gereja mesti berubah supaya tidak menjadi irrelevan (menjadi tidak punya makna). Ini menuntut perubahan cara bergereja, penatalayanan dan juga sekaligus teologi, pengajaran serta cara melakukan pelayanan dan ibadah. "Tanpa melakukan semua itu, maka Gereja akan terasa tidak penting bagi jemaatnya. Karena kini ibadah ibarat hadir di dunia market place, mana yang menarik dan relevan akan dilirik, dan yang kurang relevan akan ditinggal," ungkapnya. Menurut dia, fenomena ini dikritisi oleh diskusi online ini. Menganalisis perubahan-perubahan pola relasi sosial, perubahan cara beribadah dan implikasinya bagi gereja dan penatalayanan. Tetapi, secara khusus mengenai gereja dan penatalayanannya, memang membutuhkan pendalaman lebih jauh mengingat perbedaan di level jemaat. "Masih banyak jemaat pedesaan yang kurang mampu beradaptasi dengan situasi new normal ini. Dan ini tentu membutuhkan pemikiran lebih guna melibatkan mereka dalam proses peribadatan, entah cara lama ataupun baru," pungkasnya. Diketahui, Host diskusi vitual ini yaitu Joice Worotikan, Moderator Dofie Angkouw, Pembicara: Audy Wuisang (Sekjend DPP PIKI), Pdt Sapta (Ketsi GMIST), Prof Dr Grace Kandouw (Ahli Epidemiologi), Gbl Fetricia Aling (Ketua KGPM). Dengan penanggap Tommy Waworundeng (Pemred Manado Post) dan Sandra Rondonuwu (Politisi).(ite/gnr) Editor : Clavel Lukas