Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Lansia 1-7 OKTOBER 2023, Lukas 10:25-37 Wujudkan Belas Kasihan

Clavel Lukas • Sabtu, 30 September 2023 | 10:43 WIB
Logo BPMS GMIM
Logo BPMS GMIM

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Di antara berbagai kasih karunia yang Tuhan berikan kepada manusia, belas kasihan adalah salah satunya. Belas kasihan sangat diperlukan ketika manusia menjalin hubungan dengan sesamanya. Dengan belas kasihan kita dimampukan untuk berempati dengan mereka yang membutuhkan pertolongan. Belas kasihan merupakan jembatan bagi terciptanya hubungan yang saling menguatkan, menopang dan menghibur antar sesame manusia. Ada saat kita berada dalam posisi menolong, dan ada saat kita berada di sisi yang ditolong.

Kehidupan memang selalu penuh wama, pasang surut, suka-duka datang silih berganti. Persoalannya bagaimana kita senantiasa memiiki sifat belas kasihan dan bersedia mempraktikannya setiap saat. Kisah seorang yang mewujudkan belas kasihan dalam tindakan pertolongan diangkat Yesus dalam cerita tentang Orang Samaria yang baik hati. Yesus mengangkat cerita ini sebagai jawaban seorang ahli Taurat yang mengajukan pertanyaan: Pertama, ia bertanya apa yang harus dilakukannya untuk memperoleh hidup yang kekal.

Tampak di sini ia bermaksud mencobai Yesus dan bukan untuk memperoleh bimbingan dari pengajaran-Nya. Yesus menjawab secara normatif seperti yang berlaku di kalangan Yahudi, yakni memberlakukan Hukum Taurat.

"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri". Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup" (10:27-28). Tersirat di sini, si ahli taurat merasa ia belum dapat mengasihi Allah sepenuhnya.

Sebaliknya ia merasa telah melakukan hukurn kasih terhadap sesama manusia dengan cara berbuat baik dan menghormati orang lain di sekitarnya. Karena bangga dengan sikapnya itu dan bermaksud mendapat pembenaran dari Yesus, ia mengajukan pertanyaan: "Dan siapakah ses:unaku manusia?" (ayat 30). Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkoti Tuhan Yesus, Lalu Yesus menyampaikan sebuah kisah tragis perjalanan seorang yang mengadakan perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho.

Di Tengah perjalanan orang ini dirampok habis-habisan. Mereka tidak hanya mengambil barangnya, tetapi juga menyerang dia secara fisik sehingga dia mengalarni keadaan setengah matt. la sekarat dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ada yang menyebutkan keadaannya hampir telanjang. Orang merasa jijik melihatnya. Lalu lewatlah di situ seorang imam. melihatnya tetapi tetap saja berjalan terus dari seberang jalan.

Tak kemauan untuk mendekati orang itu. Tak lama kernudian seorang Lewi juga melewati jalan yang sama. Orang yang tergeletak menderita masih di sana. Iapun diacuhkan. Kemudian munculah seorang Samaria yang menunggang keledai. Ia tentu merasa sedikit nyaman dengan tunggangannya.

Tetapi apa yang dilakukannya? Ia berhenti Ketika melihat seorang yang tampak sangat menderita terbaring di jalan. Iapun turun dari keiedainya. Ia membungkuk dan menyentuh orang itu dengan hati-hati. Barangkali juga ada pertanyaan kepada korban kekerasan jalanan itu, mengapa sampai keadaanya begini. Ia menuangkan niinyak dan anggur seperlunya untuk

membersihkan luka-luka dan membalut luka-luka dengan kain yang lembut. Ia memapah serta menaikkan orang itu ke keledai. Mereka lalu menuju ke sebuah penginapan. Tempat paling aman untuk beristirahat tapi juga dapat melakukan tindakan perawatan seperlunya. Semalam di situ, keesokan harinya si Samaria bersiap melanjutkan perjalanan. Tetapi ia meninggalkan uang dua dinar kepada pemilik penginapan sambil berpesan supaya terus menjaga serta merawat orang itu.

Bila biaya perawatan masih kurang, ia berjanji akan membayar sepulang dari perjalanan. Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus, Melalui cerita "Orang Samaria yang Murah Hati" Yesus memberikan jawaban yang tentang "siapa sesamaku manusia".

Si ahli Taurat tentu tahu bahwa selama ini yang berlaku dalam pengalaman sosial dan keagamaan mereka, sesamaku adalah sesama orang Yahudi. Sesamaku adalah yang sebangsa dan seagama. Di luar itu bukan sesamaku. Akibatnya mereka sulit mewujudkan belas kasihan sebagai sesama manusia. Karena itu, ketika Yesus bertanya siapakah dari ketiga orang itu yang bertindak sebagai sesame, maka jawaban ahli sangat tepat, yaitu dia yang menurduldtan belas kasihan.

Demikianlah si ahli Taurat memperoleh pemahaman yang baru tentang apa dan bagaimana mewujudkan belas kasihan. Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus, Sebagai kaum lanjut usia, kita diberikan karunia pengalaman serta pemahaman untuk berada dalam perjalanan panjang berjumpa dengan begitu banyak orang dari berbagai latar belakang hidup yang berbeda, dari segi suku, agama, pekerjaan dan lain-lain.

Justru dengan itu kita dapat membagikan kasih Kristus yang melampaui perbedaan. Yesus mengajarkan, bahwa siapapun kita, saat ditimpa oleh musibah, penderitaan dan kepahitan hidup, maka kita sangat mengharapkan pertolongan orang lain. Siapapun itu, dari latar belakang apapun dia.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus, Jadi belas kasihan harus menjadi karakter setiap warga gereja yang dengannya orang dapat mengenal Kristus melalui kita. Bersikap ramah, bersahabat dan solider, akan memberikan kehangatan serta semangat bagi sesama kita. Inilah kekuatan cinta kasih Kristus yang menyembuhkan lukaluka batin yang bisa dialami siapapun.

Pesan firman ini juga harus kita ajar-ajarkan kepada anak cucu kita agar mereka selalu mengembangkan karakter belas kasihan yang sangat dibutuhkan dunia ini. Pesan ini jangan hanya sampai pada pengajaran, atau dibicarakan saja, melainkan harus dinyatakan, diwujudkan, diberlakukan. Niscaya, Tuhan memampukan! Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GMIM #Lansia #Renungan