Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Obor GMIM 1 Oktober 2023, Lukas 10:25-37 Wujudkan Belas Kasihan

Clavel Lukas • Sabtu, 30 September 2023 | 10:48 WIB
LOGO PEMUDA GMIM.
LOGO PEMUDA GMIM.

IBARAT peluru keburu mendekam di dalam jantung. Kalau misalnya tidak membawa maut, itu namanya sungguh-sungguh beruntung. Tapi jangan disangka tidak membawa bingung. Demikian sajak ini menggambarkan kisah kehidupan orang Samaria.

Mula-mula, Samaria dikenal sebagai Ibu Kota kerajaan Israel Utara. Ketika sepuluh suku Israel dibawah menjadi tawanan ke Asyur, Raja Asyur rnengirim orang dari Babel, Kuta, Awa, Flamat dan Sefarwaim untuk mendiami Samaria (2 Raj 17:24; Ezr 4:2-11).

Orang-orang asing ini kemudian menikah dengan penduduk Israel yang masih tinggal di sekitar Samaria. Terjadilah kawin campur antara penduduk Israel yang menyembah Allah dan orang asing yang menyembah berhala. Mereka disebut "orang-orang berdarah campur".

Mereka dibenci oleh seluruh orang Yahudi. Akibatnya, lambat laun Samaria tidak lagi diasosiasikan dengan sebuh wilayah, tapi dengan sebuah ras baru. Orangorang Samaria menjadi orang-orang Yahudi non pribumi, tidak asli, keturunan asing, kafir, najis dan wajib dijahui. Masalahnya mulai, takkala orang-orang Yahudi asli kembali dari pengasingan di luar negeri. Dan mereka segera bertekad untuk membangun kembali tembok Yerusalem dan Bait Suci.

Di sini orang-orang Samaria yang merasa tetap Yahudi menawarkan diri bekerja sama dengan tulus hati. namun tawaran itu ditolak. Sebab yang akan dibangun adalah bangunan suci. Dan tidak pantas jika yang turut membangun adalah mereka yang daranhnya tidak suci lagi.

Sejak itulah jurang mulai tergali. Samaria menjadi tempat pengungsian bagi para pelanggar hukum Yahudi. Orang Samaria bersedia menerima para penjahat Yahudi yang dikucilkan. Hal ini semakin menambah kebencian di antara keduanya. Situasi ini berkembang terus sampai zaman Yesus. Sehingga pasti bukan kebetulan, kalau dalam salah satu perumpamaan-Nya, Yesus malah menokohkan seorang Samaria sebagai pusat cerita.

Sobat obor, dalam perikop ini Yesus bercerita mengenai seorang yang dira mpok di tengah jalan.

Bukan saja hartanya yang habis, tapi sekujur tubuhnya penuh dengan luka. Dia terkapar dijalan sambil menahan sakit. Lalu, lewat seorang Imam. Seorang tokoh Yahudi yang pribumi. Namun Imam tak mau menolong. Yesus bercerita kernbali, tentang orang lain yang lewat. Dia seorang Lewi, seorang Yahudi asli. Dalam cerita, orang Lewi juga tak mau menolong.

la lewat begitu saja. Orang yang ketiga lewat adalah orang Samaria. la bukan seorang tokoh, juga bukan penduduk pribumi asli. la orang Samaria, yang dianggap sebagai ras manusia terburuk oleh orang Yahudi (Yoh 8:48). Namun justru yang dianggap buruk itulah yang menghentikan keledainya, membungkuk dengan ramah, dan membantu sesamanya.

Dia tidak bertanya apakah korban yang terluka itu orang Yahudi, Romawi, atau Yunani. Baginya, orang yang telanjang, terluka, dan setengah mati itu adalah saudara yang membutuhkan pertolongan. Ceritanya sampai disitu tapi Yesus berkata: "Siapakah diantara ketiga orang ini, menurut pendapatmu adalah sesama manusia? Merekapun menjawab, "orang-orang yang telah menunjukan belas kasihan".

Mereka adalah orang-orang Samaria. Sobat obor, ingatlah bahwa orang Samaria menjadi "sesama manusia" karena ia melakukan lebih baik dan lebih banyak daripada yang dilakukan oleh sang Imam dan sang Lewi.

la diterima sebagai "sesama manusia" bukan karena ia dekat dengan para pejabat dan penguasa tapi justru karena ia bertindak konkrit tanpa pamrih bagi orang yang menjadi korban kejahatan, yang terkapar di pinggir jalan.

la menjadi simbol kehidupan harmonis ditengah segala perbedaan yang mejemuk. Salah satu kenyataan Indonesia yang unik adalah kemajemukan. Ada sekitar 300 suku bangsa di Indonesia, masing-masing dengan bahasa dan budayanya.

Ada enam agama yang di akui di Indonesia. Dan dalam segala kemajemukan itulah kita diajak untuk hidup harmonis. Jurang memang ada. Perbedaan antara kaya miskin, antar suku, antar agama, antar ras selalu nampak. Tapi dipundak kita sebagai kaum muda terletak tugas dan panggilan untuk tidak membiarkan jurang itu menganga kian dalam.

Diatas bahu kita jua diletakkan suatu tugas dan panggilan untuk berusaha sekuat mungkin memperkecil jaraknya. Sebab teras begitu perlu kita menemukan simbol kehidupan harmonis. Dan hari ini kita temukan dalam sosok seorang Samaria. Amin (MT)

Editor : Clavel Lukas
#GMIM #lukas #pemuda #Renungan #obor