Saudara-saudaraku yang Tuhan Yesus kasihi ….
Slamat baku dapa lagi dalam persekutuan Ibadah Minggu di saat ini. Torang tentunya bersyukur karena kasih sayang Tuhan, torang samua sehat, kuat dan diberkati sehingga boleh datang beribadah di rumah Tuhan ini.
Ada syair pujian dalam KJ. 19: Tuhanku Yesus, Raja alam raya, Allah dan Manusia… Kalimat dalam syair lagu ini hendak memberi penekanan bahwa Tuhan Allah dalam Yesus Kristus adalah “Raja alam semesta”, Ia adalah Pencipta dan Pemelihara alam semesta.
Sebagai Pencipta, maka tentunya Tuhan Allah bukan hanya sekedar mencipta, tetapi Ia juga menata ciptaan-Nya tersebut sehingga kelihatan sungguh indah yang menggambarkan kemegahan-Nya. Segala ciptaan Tuhan itu baik adanya, seperti ditulis dengan jelas dalam penciptaan langit dan bumi beserta isinya dalam kitab Kejadian 1:1-2:7.
Kisah penciptaan ini harus terus diceritakan dari generasi ke generasi agar setiap umat dalam lintas generasi selalu memiliki kesadaran bahwa alam semesta di mana manusia hidup diciptakan oleh Tuhan dan perlu dilestarikan.
GMIM juga melalui pengakuan imannya menegaskan bahwa: “orang percaya terpanggil mengelola dan memelihara alam semesta dengan bertanggung-jawab, dengan bekerja keras dan dengan jujur”, hal mengungkapkan bahwa pentingnya manusia/orang percaya menjaga kelestarian hidup.
Mazmur 104 ini menggambarkan kekaguman pemazmur yang telah menyaksikan bagaimana Tuhan mencipta, dan terus memelihara ciptaan-Nya. Kisah penciptaan-pun dituturkan dalam bentuk lain yaitu himne/pujian dalam ibadah. Dengan kisah penciptaan dijadikan bentuk pujian ibadah membantu mengingatkan umat akan kebesaran dan kemuliaan Tuhan dalam ciptaan-Nya.
Jemaat yang diberkati oleh Tuhan Yesus ….
Untuk memahami teks ini, maka bacaannya dibagi dalam dua bagian, yakni:
Bagian pertama, yaitu ayat 1-9. Dalam bagian ini, pemazmur hendak menegaskan Tuhan sebagai Sang Pencipta yang memiliki kebesaran dan kekuasaan. Hal ini dibahasakan pemazmur dengan ungkapan: “yang membentangkan langit” (ayat 2), “yang mendirikan kamar-kamar loteng di air, yang menjadikan awan-awan, yang bergerak di atas sayap angin” (ayat 3), “yang membuat angin dan api” (ayat 4) dan “yang mendasarkan bumi” (ayat 5).
Kuasa Tuhan-pun digambarkan dengan begitu menakjubkan: awan-awan menjadi kendaraan-Nya (ayat 3), angin menjadi pesuruh (ayat 4), nyala api menjadi pelayan-Nya (ayat 4), mendasarkan bumi hingga tak goyah (ayat 5) dan air pun taat pada suara hardikan-Nya (ayat 7-8).
Selanjutnya bagian kedua, yaitu ayat 10-18. Pada bagian ini pemazmur mengungkapkan Tuhan Sang Pemelihara segala yang diciptakan-Nya. Manusia dan alam adalah sesama ciptaan yang menerima kehidupan langsung dari penciptanya.
Anugerah Tuhan-lah yang membuat manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan mempunyai kehidupan. Terlihat jelas maksud pemazmur bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu dalam satu lingkaran kehidupan yang saling memberikan manfaat dan membutuhkan. Semuanya terikat dan terhubung satu sama lain; mata air yang keluar dari dalam lembah, dialirkan untuk memberikan minum bagi segala binatang (ayat 10), menumbuhkan rumput bagi makanan hewan, dan selanjutnya tersedianya makanan dari alam untuk manusia (ayat 14-15), dan berbagai pohon sebagai rumah bagi burung yang berbeda serta pegunungan sebagai rumah bagi kambing, dan batu sebagai rumah bagi pelanduk (ayat 16-18). Melalui alam ciptaan-Nya, Tuhan menyediakan apa yang dibutuhkan oleh semua mahkluk hidup, yaitu soal makan-minum dan tempat tinggal. Haleluya, sesungguhnya Tuhan itu baik.
Saudara-saudara, jemaat yang diberkati Tuhan Yesus …
Tuhan Allah bagi pemazmur adalah Tuhan Allah yang tidak pernah lalai dalam menjaga dan merawat apa yang diciptakan-Nya. Pemeliharaan Tuhan Allah adalah bentuk kasih-Nya bagi dunia. Yohanes Calvin dalam buku Institutio mengungkapkan: setelah belajar bahwa Dialah Pencipta segala sesuatu, hendaklah disimpulkan segera bahwa Dia pun mengurus dan merawatnya untuk seterusnya. Dia tidak hanya menggerakkan dengan suatu gerak umum baik bangunan dunia maupun masing-masing bagiannya, tetapi Dia juga merawat, mengasuh dan mengurusi dengan pemeliharaan yang istimewa apa saja dari hal-hal yang telah diciptakan-Nya, sampai burung pipit yang paling kecil pun.
Tuhan Allah mempercayakan alam kepada manusia untuk dikelola supaya dipergunakan memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan kebutuhan lainnya. Namun oleh keserakahan manusia hal ini disalahgunakan sebagai bentuk eksploitasi berlebihan terhadap alam, contohnya: illegal logging (pembalakan liar atau penebangan liar pohon-pohon di hutan) menyebabkan hilangnya kesuburan tanah yang mengakibatkan tanah menyerap sinar matahari terlalu banyak sehingga menjadi sangat kering dan gersang.
Alam akhirnya sudah tidak ramah kepada manusia, hubungan yang tadinya saling memberi manfaat demi kehidupan, sekarang berubah saling membinasakan, contohnya: ketika banyak pohon di hutan ditebang, maka terjadilah banjir dan tanah longsong.
Hanya untuk mendapatkan untung ekonomis kita memperoleh rugi ekologis (hubungan timbal balik antara makhluk hidup dana lam sekitarnya) yaitu kerusakan lingkungan, ekosistem, tumbuhan, pencemaran air dan udara. Tak bisa dipungkiri bahwa krisis ekologi yang terjadi saat ini adalah hasil dari pandangan orang yang arogan terhadap alam.
Jemaat yang diberkati oleh Tuhan Yesus …
Sikap gereja (baik secara istitusi maupun pribadi orang percaya) adalah meneladani karakter Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara. Gereja pun harus melihat alam sebagai sesama ciptaan dalam mewujudkan syalom Allah. Alam memberikan manfaat bagi manusia; memberikan makanan, oksigen, mengurangi polusi udara, untuk kestabilan iklim, obat-obatan herbal, mengatur siklus air dan mencegah bencana.
Maka sudah seharusnya orang-orang percaya terpanggil untuk melestarikan lingkungan hidup dengan cara: tidak menebang pohon sembarang di hutan, tidak membuang sampah di sungai atau selokan/got. Merusak alam itu sama dengan merusak karya Tuhan. Dan sikap demikian merupakan sikap meremehkan dan tidak menghormati Sang Pencipta.
Sebagaimana Tuhan tidak ingin kita lalai dari ibadah ritual-seremonial (rajin ke gereja, memberikan persembahan, berdoa, berpuasa, dan sebagainya). Ia juga ingin kita tidak mengabaikan lingkungan sekitar. Kesalehan pribadi, harus juga tercermin dalam kesalehan secara sosial dan lingkungan. Gereja dalam persekutuan jemaat hendaknya membuat program penghijauan hutan dalam kerjasama dengan pemerintah.
GMIM juga sementara melaksanakan program menanam, bukan hanya menanam tanaman berjangka pendek saja, melainkan menanam pohon untuk melestarikan lingkungan yang ada. Begitu juga dengan program beternak adalah bagian dari implementasi untuk menjaga ekosistem yang ada, bahkan juga berdampak dalam pertumbuhan ekonomi warga jemaat sekaligus juga mengajarkan anggota jemaat untuk terus menjaga lingkungan hidup.
Hal ini juga untuk menghindarkan diri dari sikap dan tindakan yang tidak terpuji, yakni memburu binatang-binatang di hutan yang sudah mulai berkurang jumlahnya seperti rusa, babi hutan, monyet dan binatang lainnya yang dilindungi untuk dikonsumsi atau diperjual belikan.
Sebagai warga gereja yang dewasa, marilah kita terus mengupayakan kelestarian lingkungan hidup karena apa yang ada di alam ini bukan hanya untuk kita yang hidup di masa kini saja, melainkan juga harus kita wariskan kepada anak-cucu, generasi yang akan datang supaya mereka juga menikmati keindahan, kekayaan dan kebesaran ciptaan Tuhan seperti yang kita alami dan rasakan saat ini. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.
Soli Deo Gloria.
Salam dan doa dari kota sejuk Tomohon :
Pdt. DR. Djolly Sondakh, M.PdK.
Editor : Clavel Lukas