Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan kita Yesus Kristus,
Kita bersyukur kepada Tuhan yang Maha Kasih yang senantiasa memberkati dan menolong kita sehingga kita boleh bersekutu dalam persekutuan yang beribadah kepada Tuhan. Kita masih dalam suasana tahun baru 2024 dengan berbagai pengalaman dan telah menetapkan program pelayanan di jemaat dan rencana-rencana dari keluarga-keluarga dan pribadi.
Tahun ini juga kita akan diperhadapkan dengan pesta demokrasi untuk memilih pemimpin-pemimpn kita di negara Indonesia. Kita harus mengenal dan cerdas memilih pemimpin dengan berbagai karakter yaag dapat kita lihat di media sosial dan mengenal secara langsung yang akan kita pilih yaitu DPR-RI, DPD-RI, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dan Presiden dan Wakil Presiden. Ketika kita mengenal dan cerdas memilih maka siapapun yang terpilih kita harus yakin itu berasal dari pilihan Tuhan.
Saudara-saudara yang diberkati Tuhan.
Teks bacaan kita minggu ini terdapat dalam Kitab Injil Matius 7: 15–23 yang merupakan bagian dari Khotbah Tuhan Yesus di Bukit (pasal 5-7). Secara khusus perikop ini, berkaitan menghadapi pengajaran sesat dan tentang kapasitas iman orang percaya.
Di mana perikop ini dimulai dengan kalimat peringatan yaitu, “waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” (ayat 15). Waspadalah adalah suatu peringatan untuk selalu berhati-hati terhadap nabi-nabi palsu terutama pengajarannya yang menyesatkan.
Nabi palsu mempunyai ciri-ciri antara lain: penampilan yang menarik tetapi kemudian menipu serta bersikap munafik (Matius 24:24-25), yang sering mengajak orang untuk percaya kepada Allah tetapi sesungguhnya melakukan penipuan, bersifat seperti serigala yang ganas (Kisah para rasul 20:29-30)
Mereka mengajarkan ajaran sesat yang membinasakan (2 Petrus 2:1), menubuatkan sesuatu yang hanya menyenangkan telinga (2 Timotius 4:3-4) dan oleh rasul Paulus menyebut mereka adalah iblis yang menyamar sebagai malaikat terang (2 Korintus 11:13-15 )
Perkataan Tuhan Yesus dalam ayat 16-20 menggunakan metafora buah anggur dan buah ara. Artinya buah anggur harus dipetik dari pohon anggur dan buah ara dari pohon ara, sehingga sangat mustahil bila buah anggur dipetik dari semak duri demikian juga buah ara dari rumput duri. Maksud dari perkataan ini ialah Tuhan Yesus ingin memberi gambaran antara nabi palsu dan nabi yang sesungguhnya.
Dari buahnya kamu mengenal mereka, artinya nabi palsu tidak pernah memberikan pengajaran yang benar karena kehadiran mereka selalu hanya untuk memenuhi kepentingan diri mereka sendiri, yang oleh Paulus menyebut bahwa nabi palsu bukan melayani Tuhan kita Yesus Kristus, melainkan melayani perut mereka sendiri (Roma 16:18)
Tuhan Yesus memberi contoh bahwa apa yang dikerjakan dan dihasilkan oleh seseorang bagaikan pohon, yaitu “setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.” (ayat 17-18).
Dari ucapan Tuhan Yesus ini telah tergambar bahwa tidak ada teori yang dapat menyimpulkan tentang nabi palsu dan nabi yang sesungguhnya, selain dari hasil yang dinampakkan, yaitu nabi palsu pasti akan menghasilkan sesuatu yang tidak baik sedangkan nabi yang sesungguhnya selalu menghasilkan sesuatu yang baik (ayat 20).
Selanjutnya dalam ayat 21-23 dengan tegas Tuhan Yesus memperingatkan bahwa bukan mereka yang berseru-seru “Tuhan, Tuhan” akan beroleh selamat dalam arti masuk ke dalam Kerajaan Sorga dan juga bukan karena melakukan perbuatan (amal) baik seperti bernubuat, mengusir setan dan membuat mujizat kendatipun menggunakan nama Tuhan Yesus.
Nasihat dan peringatan Tuhan Yesus ini sebenarnya ditujukan kepada nabi-nabi palsu yang menyesatkan umat Tuhan. Kemudian Tuhan Yesus mengecam mereka sebagai pembuat kejahatan. Sebaliknya Tuhan Yesus mengatakan bahwa yang akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga adalah dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Sorga.
Saudara-saudara yang diberkati Tuhan,
Perintah dan ajakan Yesus Kristus, “waspadalah” sebenarnya bukan hanya berjaga-jaga tetapi lebih dalam maksudnya ialah kita harus jelih dan kritis menanggapi berbagai bujukan baik dari orang yang kita kenal maupun orang yang tidak kita kenal, termasuk berbagai bujukan di media sosial.
Cermatilah, apakah hal-hal yang kita lihat dan dengar mengarah kepada kesejahteraan hidup atau hanya sebuah janji manis yang tidak memberi makna? Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus “dari buahnya kamu akan mengenal mereka”.
Sekarang ini bangsa kita sedang ada di masa persiapan Pemilu dan pada minggu ini kita banyak mendengar berbagai ulasan dan pidato kampanye, baik dari pimpinan partai politik, para calon anggota legislatif maupun eksekutif (Presiden dan wakilnya). Firman Tuhan yang kita renungkan minggu ini sebenarnya mengajak kita untuk selektif memilih pemimpin.
Firman Tuhan menasihatkan bahwa seorang pemimpin bukan dilihat dari janji-janji politik atau penampakan perbuatan baik, melainkan yang melakukan kehendak Allah (taat pada Firman). Kita sebagai orang percaya telah diamanatkan untuk melaksanakan tugas kenabian yaitu memberitakan perbuatan Allah yang besar (1 Petrus 2:9).
Untuk itulah maka dalam rangka persiapan pemilu, kita diminta untuk mengenal dan cerdas memilih pemimpin, yang mampu menyampaikan suara kenabian, misalnya kalau ya katakan ya, kalau tidak katakan tidak (pasal 5:37).
Mengenal dan cerdas memilih pemimpin harus orang yang tidak munafik, tidak menipu dengan janji-janji palsu (menyenangkan telinga) dan yang berani berkorban untuk kepentingan bersama demi kesejahteraan semua orang. Karena itu, ingatlah bahwa ada peringatan dari Tuhan Yesus bahwa pengabdian kita sama seperti pohon, yang menghasikan buah yang baik dipelihara dan yang tidak menghasilkan buah yang baik pasti ditebang dan dibuang ke dalam api (ayat 19).
Karena itu Firman Tuhan mengajak kita sebagai orang Kristen tidak hanya terbatas pada soal percaya saja, tetapi harus memberi buah yang bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain, suka menolong, tidak menganggap diri lebih benar dari orang lain, rela melayani Tuhan tanpa pamrih, rela berkorban harga diri untuk mengampuni. Pendek kata kita hidup harus memberi manfaat, agar Yesus Kristus terus dimuliakan dari dan dalam kehidupan kita. Amin.
Sumber:
Disadur dari Buku MTPJ dan RHK GMIM Edisi Desember 2023 sampai dengan Januari 2024 dalam bahasa Khotbah.
Editor : Clavel Lukas