Ketika Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Roma, jemaat pada saat itu dalam ketakutan dan ketidakpastian, menghadapi tekanan dari pemerintah yang tidak mengenal belas kasihan terhadap iman mereka.
Dalam situasi ini, Paulus tidak meminta mereka untuk memberontak atau menentang kekuasaan, tetapi justru menasihati mereka untuk melihat pemerintah sebagai alat yang diatur oleh Allah untuk mengatur kehidupan manusia.
Roma 13:1-7, Paulus memberikan panduan yang jelas tentang hubungan antara orang percaya dan otoritas pemerintahan. Bagian ini tidak hanya relevan bagi orang Kristen di zaman Paulus, tetapi juga sangat relevan bagi kita saat ini.
Ayat pertama menekankan bahwa "tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah, dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah." Ini adalah pernyataan yang sangat mendalam dan menantang.
Allah yang berdaulat menetapkan pemerintah, baik itu yang adil maupun yang tampak tidak adil. Artinya, keberadaan pemerintah bukanlah kebetulan atau hasil dari kekuatan manusia semata, melainkan bagian dari rencana Allah yang lebih besar.
Ini memberikan kita perspektif teologis bahwa Allah bekerja melalui struktur-struktur pemerintahan, meskipun sering kali kita tidak dapat melihat kebaikan-Nya secara langsung dalam keputusan-keputusan yang diambil oleh pemimpin-pemimpin kita.
Paulus melanjutkan dengan mengajarkan bahwa pemerintah adalah "hamba Allah untuk kebaikanmu" (ayat 4). Ini menandakan bahwa meskipun pemerintah mungkin tidak sempurna, fungsi dasar mereka adalah untuk menegakkan keadilan dan ketertiban.
Dalam teologi Kristen, ini berkaitan dengan pemahaman tentang keadilan Allah. Allah adalah Allah yang adil, dan Dia menetapkan pemerintah untuk menjadi alat dalam menjalankan keadilan-Nya di dunia ini.
Namun, perlu diingat bahwa pemerintah manusia tidak selalu mencerminkan keadilan Allah secara sempurna. Oleh karena itu, kita perlu memiliki keseimbangan dalam memahami bahwa meskipun pemerintah adalah alat di tangan Allah, mereka tetaplah entitas yang terdiri dari manusia berdosa dan tidak sempurna.
Ini tidak membebaskan kita dari kewajiban untuk tunduk kepada pemerintah, tetapi mengingatkan kita bahwa ketaatan kita kepada pemerintah harus selalu dilandasi oleh iman dan ketaatan kita kepada Allah terlebih dahulu.
Dalam ayat-ayat selanjutnya, Paulus menekankan pentingnya tunduk kepada pemerintah bukan hanya karena takut akan hukuman, tetapi karena alasan hati nurani (ayat 5).
Hati nurani yang dipimpin oleh Roh Kudus akan mendorong kita untuk hidup dalam ketaatan, bukan hanya kepada Allah tetapi juga kepada otoritas yang ditetapkan oleh-Nya. Ini adalah bentuk integritas dan kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan.
Paulus juga menyebutkan pentingnya memenuhi kewajiban kita sebagai warga negara, seperti membayar pajak dan memberikan penghormatan yang semestinya kepada pemimpin kita (ayat 6-7).
Dalam konteks teologis, ini adalah pengakuan bahwa segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Allah, dan kita dipanggil untuk menggunakan sumber daya yang kita miliki—termasuk uang dan waktu kita—dalam cara yang memuliakan Allah dan mendukung tatanan yang telah Dia tetapkan.
Salah satu pertanyaan besar yang muncul dari bagian ini adalah, bagaimana kita harus bersikap ketika pemerintah yang ada bertindak tidak adil atau melanggar prinsip-prinsip kebenaran yang ditetapkan oleh Allah? Ini adalah pertanyaan yang tidak mudah dijawab, tetapi Alkitab memberikan beberapa panduan.
Kisah Rasul Petrus dan Yohanes dalam Kisah Para Rasul 4:19 memberikan satu jawaban yang jelas: "Apakah benar di hadapan Allah untuk lebih taat kepada kamu daripada kepada Allah? Silakan kamu putuskan!"
Ketika perintah pemerintah bertentangan dengan perintah Allah, orang percaya dipanggil untuk lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia.
Ini tidak berarti bahwa kita harus memberontak secara fisik, tetapi kita dipanggil untuk berdiri teguh dalam iman kita, bahkan jika itu berarti kita harus menghadapi konsekuensi yang sulit.
Kisah Daniel dalam Perjanjian Lama juga memberikan contoh tentang bagaimana seorang percaya harus bertindak ketika dihadapkan pada pemerintah yang tidak adil.
Ketika Daniel diperintahkan untuk berhenti berdoa kepada Allah dan menyembah raja, ia dengan tegas menolak dan tetap setia dalam doanya kepada Tuhan.
Ini membawa kita kepada pemahaman bahwa ketaatan kepada pemerintah harus selalu dilihat dalam kerangka ketaatan kita kepada Allah yang lebih tinggi.
Bapak/Ibu yang diberkati Tuhan, Roma 13:1-7 mengajarkan kita tentang pentingnya tunduk kepada pemerintah sebagai bagian dari ketaatan kita kepada Allah.
Pemerintah adalah alat yang ditetapkan Allah untuk membawa kebaikan dan keadilan, meskipun mereka tidak sempurna.
Namun, dalam menghadapi ketidakadilan, kita dipanggil untuk tetap setia kepada Allah dan memprioritaskan perintah-Nya di atas segala sesuatu.
Marilah kita menjalani kehidupan ini dengan penuh integritas, menghormati otoritas yang ada, sambil tetap memegang teguh iman kita kepada Tuhan. Amin.
Editor : Clavel Lukas