Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Kisah Para Rasul 18:18–28, Peran Suami Istri Mengajar Tentang Jalan Allah

Clavel Lukas • Kamis, 12 Juni 2025 | 10:37 WIB
Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Kitab Kisah Para Rasul ditulis oleh Lukas sebagai kelanjutan dari Injil Lukas. Kitab ini mendokumentasikan pertumbuhan dan penyebaran gereja mula-mula melalui kuasa Roh Kudus setelah Yesus naik ke surga.

Salah satu tokoh sentral dalam kitab ini adalah Rasul Paulus, namun juga menampilkan banyak tokoh-tokoh penting lainnya seperti Petrus, Barnabas, dan dalam perikop ini, pasangan suami istri Akwila dan Priskila.

Kisah Para Rasul 18 menunjukkan kehidupan pelayanan Rasul Paulus di Korintus, kemudian Epesus, dan memperkenalkan tokoh Apolos, seorang pengkhotbah yang penuh semangat namun membutuhkan pembinaan lebih lanjut.

Di sinilah muncul sosok Akwila dan Priskila, pasangan suami istri yang memainkan peran penting dalam mengajarkan "jalan Allah" dengan lebih tepat.

Baca Juga: Konsep Khotbah Kisah Para Rasul 18:18-28, Peran Suami Istri Mengajar Tentang Jalan Allah

Baca Juga: MTPJ GMIM 15-21 Juni 2025, Kisah Para Rasul 18:18-28 Peran Suami Istri Mengajar Tentang Jalan Allah

Pembahasan Ayat Per Ayat

Ayat 18-21
Paulus, setelah tinggal cukup lama di Korintus, pergi ke Siria bersama Akwila dan Priskila. Ini menunjukkan bahwa pasangan ini bukan hanya rekan kerja sekuler Paulus (mereka semua adalah pembuat kemah), tetapi juga rekan sepelayanan.

Mereka bersedia meninggalkan kenyamanan hidup demi ikut melayani bersama Paulus. Dalam konteks masa kini, kita diingatkan bahwa pelayanan bukan hanya tugas rohaniwan atau hamba Tuhan, tetapi juga keluarga Kristen – suami istri – dipanggil untuk aktif dalam pelayanan bersama.

Baca Juga: Renungan Kisah Para Rasul 18:18-28 untuk P/KB, Peran Suami Istri Mengajar Tentang Jalan Allah

Baca Juga: Renungan Kisah Para Rasul 18:18-28 untuk W/KI, Peran Suami Istri Mengajar Tentang Jalan Allah

Ayat 22-23
Paulus melanjutkan perjalanannya dan kembali meneguhkan jemaat. Ini memperlihatkan bahwa pekerjaan pelayanan itu adalah berkesinambungan – bukan hanya menabur benih, tetapi juga membina.

Demikian juga pasangan Kristen masa kini dipanggil untuk tidak hanya menjadi panutan iman, tetapi juga menjadi pembina rohani bagi keluarga lain, anak-anak muda, bahkan sesama jemaat.

Ayat 24-25
Apolos, seorang Yahudi yang fasih berbicara dan memahami Kitab Suci, datang ke Efesus. Ia sudah mengenal Yesus, tetapi hanya sampai pada baptisan Yohanes.

Ini menggambarkan bahwa ada banyak orang yang memiliki semangat, kemampuan, bahkan ilmu Alkitab, tetapi masih membutuhkan pendalaman pengajaran.

Sama seperti saat ini, banyak orang Kristen aktif yang mungkin semangat melayani, tetapi belum memiliki pemahaman Alkitab yang utuh. Di sinilah peran pembinaan sangat penting.

Ayat 26
Apolos mulai mengajar di rumah ibadat, tetapi Akwila dan Priskila mendengarnya, dan dengan kasih, mereka membawanya ke rumah mereka dan "menerangkan jalan Allah lebih teliti kepadanya." Ini ayat kunci untuk tema kita. Perhatikan bahwa:

Hal ini menegaskan bahwa suami istri dalam Kristus adalah tim yang kuat, yang mampu membimbing dan membina orang lain dalam kebenaran. Keluarga Kristen dipanggil menjadi "rumah pengajaran" yang terbuka dan penuh kasih.

Ayat 27-28
Setelah dibina, Apolos menjadi lebih efektif dalam melayani dan mengajar. Buah dari pembinaan pasangan ini adalah lahirnya pemimpin Kristen yang lebih kuat. Ini adalah hasil nyata dari kesetiaan dalam pelayanan bersama.

PENUTUP

Dalam dunia yang terus berubah dan penuh tantangan seperti saat ini, peran keluarga—terutama pasangan suami istri—tidak lagi hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan jasmani dan emosional di dalam rumah tangga.

Lebih dari itu, Tuhan memanggil setiap pasangan Kristen untuk mengambil bagian aktif dalam pelayanan rohani, khususnya dalam hal mengajarkan jalan Allah kepada orang lain, baik di dalam keluarga mereka sendiri maupun dalam lingkup gereja dan masyarakat.

Itulah yang dengan sangat jelas kita temukan dalam kisah Akwila dan Priskila dalam Kisah Para Rasul 18:18–28.

Ketika kita merenungkan bacaan ini, kita menemukan bahwa Allah tidak membutuhkan pasangan yang sempurna, kaya, atau memiliki gelar akademis tinggi.

Ia mencari pasangan yang bersatu hati dalam kasih kepada-Nya dan bersedia dipakai menjadi alat-Nya untuk memperlengkapi orang lain dalam kebenaran.

Akwila dan Priskila adalah contoh nyata bagaimana Tuhan memakai sebuah keluarga biasa untuk menghasilkan dampak luar biasa.

Melalui pembinaan mereka, seorang pengkhotbah besar bernama Apolos semakin memahami kebenaran dan menjadi lebih efektif dalam memberitakan Injil.

Tema renungan ini—"Peran Suami Istri Mengajar Tentang Jalan Allah"—bukan sekadar ajakan bagi pasangan Kristen untuk menjadi guru atau pengajar dalam pengertian formal.

Ini adalah panggilan mendalam untuk menjadikan rumah tangga sebagai pusat pertumbuhan rohani, tempat di mana firman Tuhan bukan hanya dibicarakan, tetapi dihidupi.

Dalam dunia yang mengalami kekeringan rohani dan kebingungan moral, keluarga Kristen yang bersinar dalam pengajaran dan teladan akan menjadi terang yang memandu banyak jiwa kepada Kristus.

Apa saja makna penting dari tema ini dalam terang Kisah Para Rasul 18:18–28?

  1. Kesatuan iman dalam pernikahan membuka jalan pelayanan yang lebih besar.
    Akwila dan Priskila tidak berjalan sendiri-sendiri. Mereka satu dalam visi, satu dalam iman, dan satu dalam tindakan nyata untuk membina orang lain dalam kebenaran. Keluarga seperti inilah yang menjadi garam dan terang dunia.

  2. Mengajar jalan Allah dimulai dari rumah sendiri.
    Sebelum menjadi berkat bagi orang lain, pasangan suami istri dipanggil untuk terlebih dahulu mengajarkan kebenaran kepada anak-anak mereka, melalui perkataan dan teladan. Rumah menjadi ladang pertama pelayanan.

  3. Membina orang lain adalah tindakan kasih, bukan kesombongan rohani.
    Akwila dan Priskila tidak mengecam Apolos yang belum memahami sepenuhnya.

    Mereka mendekatinya dengan kasih, mengundangnya ke rumah, dan membimbingnya dengan rendah hati. Di tengah budaya yang suka menghakimi, pendekatan seperti ini menjadi sangat relevan.

  4. Tuhan memakai pasangan biasa untuk menghasilkan pemimpin luar biasa.
    Apolos, setelah dibina, menjadi pemberita Injil yang kuat dan berhasil.

    Ini membuktikan bahwa pelayanan kita sebagai keluarga tidak pernah sia-sia, sekalipun mungkin tidak langsung terlihat hasilnya.

Ajakan bagi kita hari ini:

Sebagai umat percaya, kita harus menyadari bahwa pengajaran tentang jalan Allah bukan hanya dilakukan oleh pendeta atau guru injil, tetapi oleh setiap orang yang telah mengalami kasih dan kebenaran Kristus, terutama keluarga Kristen.

Dunia tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan keluarga-keluarga yang hidup dalam firman dan bersedia membagikannya dengan kasih.

Marilah kita menjadikan hidup rumah tangga kita seperti rumah Akwila dan Priskila—tempat di mana kebenaran Tuhan diajarkan, kasih Kristus dibagikan, dan orang lain dibangun untuk melayani.

Karena setiap pasangan Kristen, bila bersatu dalam Roh, akan menjadi alat luar biasa di tangan Tuhan.

Kiranya kita semua, para pasangan Kristen, mau melangkah bersama, melayani bersama, dan mengajar bersama, demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan banyak jiwa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#MTPJ #khotbah #GMIM #Renungan GMIM #Renungan #kisah para rasul