Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Roma 15:1-13, Terimalah Satu Akan yang Lain Untuk Kemuliaan Allah

Clavel Lukas • Kamis, 3 Juli 2025 | 07:43 WIB

Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Kitab Roma ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, sekitar tahun 57 Masehi.

Paulus belum pernah mengunjungi Roma saat itu, tetapi ia menulis surat ini sebagai pengantar ajaran Injil yang lengkap.

Salah satu isu utama dalam jemaat Roma adalah perbedaan antara orang Yahudi dan bukan Yahudi (bangsa-bangsa lain) dalam komunitas Kristen.

Paulus ingin menekankan bahwa keselamatan oleh iman dalam Kristus mempersatukan semua orang, dan bahwa penerimaan satu terhadap yang lain menjadi tanda nyata dari kehidupan Kristen yang sejati.

Pembahasan Ayat per Ayat:

Ayat 1-2: Paulus menasihati agar orang yang kuat dalam iman menanggung kelemahan orang yang tidak kuat.

Ini berarti umat Kristen yang lebih dewasa secara rohani dipanggil untuk sabar, tidak menghakimi, dan membangun sesama dengan kasih, bukan menyenangkan diri sendiri.

Di tengah gereja yang majemuk, ini sangat relevan. Banyak jemaat yang berbeda cara berpikir dan latar belakangnya. Orang percaya diajak untuk tidak menuntut keseragaman, tapi saling menopang dalam kasih.

Ayat 3: Kristus menjadi teladan utama. Ia tidak menyenangkan diri-Nya sendiri, tetapi menanggung celaan manusia demi keselamatan mereka.

Jika Yesus saja rela berkorban untuk menyelamatkan yang lemah, mengapa kita sebagai pengikut-Nya tidak bersedia menerima dan mengasihi sesama?

Ayat 4: Segala sesuatu yang ditulis dalam Kitab Suci adalah untuk pengajaran. Melalui firman, kita menerima pengharapan.

Maka, hidup dalam kasih dan penerimaan bukan hanya soal moral, tetapi bagian dari spiritualitas yang bertumbuh lewat firman.

Ayat 5-6: Paulus berdoa agar Allah memberi semangat dan damai sejahtera supaya umat hidup dalam sehati sepikir.

Persatuan bukanlah hasil usaha manusia semata, tapi anugerah dari Allah. Tujuannya adalah agar umat memuliakan Allah dengan satu suara.

Gereja bukan tempat untuk bersaing atau memaksakan kehendak, tetapi tempat memuliakan Allah secara bersama.

yat 7: Puncak dari bagian ini: "Terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus telah menerima kamu, untuk kemuliaan Allah."

Ini bukan sekadar saran, tapi perintah. Kita menerima sesama bukan karena mereka sempurna, tapi karena Kristus telah lebih dulu menerima kita dalam segala kelemahan kita.

Ayat 8-12: Paulus menunjukkan bahwa penerimaan Allah tidak terbatas pada orang Yahudi saja. Yesus datang untuk menggenapi janji kepada nenek moyang Yahudi, tetapi juga supaya bangsa-bangsa lain memuliakan Allah karena belas kasihan-Nya.

Ia mengutip beberapa bagian Perjanjian Lama untuk menegaskan bahwa sejak awal, rencana Allah adalah mempersatukan semua bangsa dalam pujian kepada-Nya.

Ayat 13: Paulus menutup bagian ini dengan doa agar Allah memenuhi umat dengan sukacita dan damai sejahtera dalam iman. Dengan begitu, mereka akan melimpah dalam pengharapan oleh kuasa Roh Kudus.

 

Penutup

Saudara-saudara yang terkasih dalam Kritus Yesus

Ketika Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Roma, ia bukan hanya memberi nasihat praktis, tetapi menegaskan visi Allah tentang kesatuan umat-Nya.

Dalam Roma 15:1–13, kita belajar bahwa menerima satu sama lain adalah buah dari kasih, tanda kedewasaan rohani, dan jalan menuju kemuliaan Allah.

Menerima satu sama lain bukan berarti kita harus setuju dalam segala hal. Paulus tidak meminta keseragaman pendapat, tetapi kesatuan hati.

Dalam konteks kehidupan jemaat yang beragam—baik dari latar belakang sosial, ekonomi, etnis, maupun spiritual—Allah memanggil kita untuk mempraktikkan penerimaan yang sejati.

Ini bukan sekadar bersikap sopan, tetapi mengasihi dengan tulus seperti Kristus telah menerima kita.

Mengapa ini penting? Karena dunia saat ini penuh dengan penolakan, eksklusivitas, dan polarisasi.

Di tengah arus yang cenderung memecah-belah, gereja dipanggil untuk menjadi tempat yang menyatukan, menyembuhkan, dan menguatkan.

Ketika orang melihat umat Tuhan saling menerima meskipun berbeda, itulah kesaksian Injil yang hidup.

Firman Tuhan hari ini menegaskan bahwa kita semua disatukan oleh belas kasihan Kristus. Baik yang kuat maupun yang lemah dalam iman, semua dipanggil untuk membangun dan menanggung satu sama lain.

Ini adalah wujud pelayanan sejati. Penerimaan yang tidak didasarkan pada prestasi atau latar belakang, tetapi pada kasih Allah yang lebih dulu menerima kita dalam Kristus.

Sebagaimana Roma 15:7 menyatakan, "Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah." Inilah inti dari hidup Kristen. Kristus adalah model sempurna penerimaan.

Dia datang kepada dunia yang menolak-Nya, mengasihi mereka yang membenci-Nya, dan menyambut mereka yang tersesat. Bila kita mengaku pengikut Kristus, maka gaya hidup kita pun harus mencerminkan semangat penerimaan yang sama.

Ayat 5–6 juga memberi kita gambaran bahwa kesatuan hati dan suara dalam memuliakan Allah hanya terjadi jika kita mau menerima satu sama lain: "Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kepada kamu sekalian sehati sepikir sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, supaya dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus."

Penerimaan menghasilkan kesatuan. Kesatuan menghasilkan pujian. Pujian membawa kemuliaan bagi Allah.

Aplikasi Ajakan:

  1. Bangunlah relasi yang sehat dalam keluarga, jemaat, dan masyarakat dengan semangat penerimaan.

    Mulailah dengan keluarga sendiri—suami, istri, anak, menantu, cucu. Latihlah untuk menerima mereka dalam kasih.

  2. Latihlah diri untuk sabar dan rendah hati saat berhadapan dengan perbedaan. Tidak semua harus seperti kita. Allah menciptakan keberagaman untuk memperkaya tubuh Kristus.

  3. Jadilah teladan dalam berjemaat dan bermasyarakat bahwa kasih Kristus nyata lewat penerimaan tanpa syarat. Sambut anggota baru, bantu mereka merasa diterima, bukan dihakimi.

  4. Berdoalah agar Roh Kudus memampukan kita menanggung kelemahan sesama dan membangun mereka.

    Dalam Roma 15:1, dikatakan "Kita yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat, dan jangan kita menyenangkan diri kita sendiri."

  5. Hiduplah dalam pengharapan dan sukacita sebagai buah dari hidup bersama dalam kasih.

    Roma 15:13 menutup bagian ini dengan indah: "Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan."

Saudara-saudaraku terkasih, marilah kita menjadi gereja dan keluarga yang bukan hanya berbicara tentang kasih, tetapi hidup dalam kasih yang menerima satu sama lain.

Jangan sampai keberadaan kita justru menjadi batu sandungan bagi orang lain. Sebaliknya, jadilah pelita yang memberi terang dalam bentuk penerimaan, pengampunan, dan semangat persatuan.

Kiranya kita semua dimampukan oleh kuasa Roh Kudus untuk hidup seperti Kristus—yang telah lebih dulu menerima kita. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#roma #MTPJ #khotbah #GMIM #Renungan GMIM #Renungan