MTPJ GMIM 20-26 Juli 2025
Tema Bulanan: "Keluarga Basis Penginjilan dan Diakonia"
Tema Mingguan: "Allah adalah Pokok Pujian"
Bacaan Alkitab: Ulangan 10:12-22
ALASAN PEMILIHAN TEMA
Gereja sebagai persekutuan orang yang percaya kepada Yesus Kristus, dipanggil dan diutus untuk menghadirkan damai sejahtera Allah di tengah dunia dengan segala dinamikanya.
Dunia alamat pengutusan gereja oleh Yohanes Calvin dipandang sebagai "Theatrum Gloriae Dei" (Teater/Panggung kemuliaan Tuhan Allah) bukan tempat untuk memamerkan kemuliaan diri sendiri dengan segala kepemilikan dan kuasanya.
Saat ini konsep dunia sebagai Teater Kemuliaan Tuhan Allah, sebagai alamat pengutusan gereja, mulai terkikis dengan pola hidup yang berorientasi kepada diri sendiri dengan segala kepentingannya.
Banyak kebaikan yang dilakukan tidak lagi diabdikan untuk kemuliaan Tuhan Allah, tetapi diabdikan untuk popularitas dan pujian, juga untuk mendapatkan imbalan. "Allah adalah Pokok Puji-Pujian" adalah tema perenungan minggu ini yang hendak mengantar kita pada kesadaran bahwa segala aktifitas orang percaya adalah bentuk pujian dan hormat kepada Tuhan Allah atas segala kemurahan dan cinta kasih-Nya bagi kita.
Baca Juga: Materi Khotbah Ulangan 10:12–22, Allah adalah Pokok Pujian
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese)
Kitab Ulangan (Yun: Deuteronomion; Ibrani: 'êlleh hadde b arim ("these are the words").
Judul ini, sesuai dengan kebiasaan kuno, terdiri dari kata-kata pertama dari baris pertama teks buku.
Pasal 1:1 "Inilah perkataan-perkataan yang diucapkan Musa kepada seluruh orang Israel di seberang sungai Yordan, di padang gurun, di Araba-Yordan, di tentangan Suf, antara Paran dengan Tofel, Laban, Hazerot dan Di-Zahab." Ini adalah judul yang lebih baik karena menggambarkan isi kitab dengan lebih akurat.
Bagian utama dari kitab ini terdiri dari kata-kata Musa yang ditujukan kepada bangsa Israel sebelum masuk ke tanah perjanjian. Ini adalah bagian penting untuk pemahaman yang tepat tentang kitab Ulangan.
Ungkapan pokok puji-pujian "tehillatecha" 'pujian bagi-Mu' dari kata dasar "Tehillah" yang berarti pujian, menunjuk pada ekspresi pengagungan, pemujaan dan penghormatan yang diberikan kepada Allah sebagai Tuhan.
Hal tersebut dilakukan secara terus menerus dengan hati yang tulus dan didasarkan pada rasa syukur, pengakuan akan kebesaran dan kuasa serta kasih Tuhan Allah dalam sejarah perjalanan Israel.
Tindakan menjadikan Tuhan Allah sebagai Pokok Pujian bagi bangsa Israel merupakan bagian penting dari kehidupan religius sebagai umat-Nya.
Tindakan tersebut merupakan perwujudan dari takut akan Tuhan Allah dan mengasihi-Nya.
Frasa "Takut akan Tuhan" (leyir'ah dari kata yara) memberi penekanan pada sikap takut, hormat, pengagungan dan ketaatan kepada Tuhan Allah. Hal ini menunjukkan kerendahan hati dan pengakuan atas kekuasaan serta kebesaran Yang Mahakuasa.
Rasa dan sikap tersebut muncul dari kesadaran akan kebesaran kuasa Tuhan Allah sebagai satusatunya Allah yang berkuasa dan berdaulat atas alam semesta dengan segala isinya (14), yang telah melakukan perbuatan-perbuatan besar dan dahsyat, yang disaksikan dan dialami oleh mereka (17).
Frasa "mengasihi Dia" (ule'ahabah berasal dari kata 'ahab) dalam hal ini Tuhan Allah, menekankan pada kasih dan kecintaan kepada-Nya yang harus ditunjukkan dengan penyembahan, ketaatan dan penyerahan diri.
Sikap ini didasarkan pada perbuatan besar Tuhan Allah yang terpikat sehingga mengasihi Israel dan memilih mereka menjadi kepunyaan-Nya dari segala bangsa yang ada (15), yang membela hak anak Yatim dan janda serta kasih-Nya kepada orang asing, sebagaimana dialami oleh orang Israel saat di Mesir sebagai orang asing (18-19).
Tuhan Allah mengikat perjanjian dengan mereka yang dimulai dari janji-Nya kepada Abraham dan para leluhur (1:8). Tuhan Allah menunjukkan kasih dan kesetiaan-Nya kepada mereka sejak mereka sebagai orang asing di Mesir, peristiwa eksodus hingga mereka bisa berada di dataran Moab untuk memasuki tanah perjanjian.
Sikap takut (hormat dan kagum) dan mengasihi Tuhan Allah menjadi dasar bagi umat Israel dalam menaati kehendak dan perintah-Nya yang disampaikan melalui Musa, berisi peraturan dan ketetapan tentang relasi antara bangsa Israel dengan Tuhan Allah, Ulangan 10:12-13,20,21, yaitu: Takut akan Tuhan, Allahmu (12,20), berjalanlah di segala jalan-Nya (12), Kasihilah Tuhan Allahmu (12), Beribadahlah kepada Tuhan, Allahmu (12,20) dan menaati perintah-perintah-Nya
(13), menjadikan Tuhan Allah sebagai pokok pujian (21).
Kesetiaan menjaga relasi ini dengan sunguh-sungguh dan ketulusan akan mengantar umat untuk tetap ada dalam perlindungan dan pemeliharaan Tuhan Allah.
Sejarah perjalan bangsa Israel telah menunjukkan bahwa mereka yang tidak menjaga relasi dengan Tuhan Allah karena kekerasan hati dan tegar tengkuk sebagaimana diperbuat oleh generasi awal peristiwa eksodus, membuat mereka tidak diperkenankan memasuki di tanah perjanjian.
Karena itu, umat diminta untuk tetap menjaga relasi dengan Tuhan Allah dan tetap menjadikan Dia sebagai pusat kehidupan mereka.
Sikap takut (hormat dan kagum) dan mengasihi Tuhan Allah juga menjadi dasar bagi umat untuk tidak hanya berorientasi pada diri sendiri, tetapi juga kepada sesama, untuk tidak hanya mengandalkan diri dan kemampuan sendiri, melainkan berpusat kepada Tuhan Allah sebagai satu-satunya yang berdaulat dan berkuasa atas kehidupan mereka.
Demikian juga dengan sikap takut akan Tuhan Allah, bahwa orang Isarel yang pernah mengalami keadaan sebagai orang asing di Mesir dengan segala penindasan dan penderitaan yang dialami dan mendapatkan pertolongan Tuhan Allah karena kasih-Nya, maka kasih-Nya itupun diperintahkan untuk diwujudkan kepada sesama, yakni anak yatim, janda serta orang asing yang mewakili kelompok terpinggirkan dan hidup dalam kesulitan serta penderitaan.
Makna dari tindakan tersebut dipahami sebagai kesaksian bangsa Israel tentang sifat kasih Tuhan Allah kepada semua orang dan mengingatkan bangsa Israel tentang janji-Nya bahwa melalui mereka semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat (Kej.12:3).
Jadi, Takut dan mengasihi Tuhan Allah karena kuasa dan kedaulatan-Nya merupakan dasar dan alasan umat menjadikan Tuhan Allah sebagai pokok puji-pujian, termasuk taat terhadap hukum dan ketetapan-Nya dalam kerelaan dan ketulusan.
MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN
Adapun makna dan implikasi berdasarkan uraian dalam kitab Ulangan 10:12-22, di antaranya:
1. Menjadikan Tuhan Allah sebagai pusat kehidupan umat Israel, berarti umat Israel harus sepenuhnya memuliakan, mengasihi dan taat kepada-Nya dalam ketulusan dan kesetiaan. Hal ini mengingatkan kepada kita sebagai umat-Nya bahwa dalam hidup yang menjadikan Tuhan Allah sebagai pusat kehidupan, bukanlah hidup yang hanya berorientasi pada diri sendiri, mencari pemuliaan diri dengan memuja dan memuji diri sendiri secara berlebihan.
2. Tuhan Allah sebagai pusat dan pokok pujian serta ketaatan umat Israel. Hubungan yang benar dengan Tuhan Allah sebagai pusat kehidupan dan pokok puji-pujian menjadi dasar bagi umat untuk menerima berkat dan janji-Nya saat mereka akan memasuki dan ketika mereka menduduki tanah yang dijanjikan. Hal tersebut mengingatkan kita sebagai umat-Nya yang hidup pada masa kini untuk tetap memiliki komitmen yang tulus menjadikan Tuhan Allah sebagai pusat kehidupan dan terus menjadikan Dia sebagai pokok pujian sebagai dasar untuk menikmati berkat dan janji-Nya bagi pribadi kita, keluarga, jemaat, dan masyarakat.
3. Makna perintah, hukum dan ketentuan Tuhan Allah bukan semata-mata untuk membebani umat, tetapi sebagai cara Tuhan Allah mengingatkan umat-Nya agar selalu tunduk kepada kuasa dan kasih-Nya yang akan mengantar mereka untuk menikmati berkat dan janji-Nya yang juga berdampak bagi sesama yang terpinggirkan, menderita dan hidup dalam kemiskinan. Demikian juga dengan kita pada masa kini. Ketetapan dan hukum Tuhan Allah dihadirkan bagi kita harus
dipahami sebagai bentuk kasih Tuhan Allah untuk kita agar menikmati janji dan berkat-Nya untuk diteruskan kepada sesama, sehingga hidup orang percaya akan selalu menjadi berkat.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:
1. Apa alasan menjadikan Tuhan Allah sebagai pokok puji-pujian menurut Ulangan 10:12-22?
2. Mengapa Tuhan Allah telah menjadi pokok pujian dalam kehidupan pribadi, keluarga dan jemaat saudara? Berikan alasannya!
3. Menurut saudara, bagaimana cara praktis mengaplikasikan pemahaman "ALLAH SEBAGAI POKOK PUJIAN" dalam kehidupan sehari-hari?
NAS PEMBIMBING: Mazmur 145:1-2
POKOK — POKOK DOA :
1. Kiranya Tuhan Allah akan selalu memampukan gereja dan umat-Nya untuk tetap menjadikan Tuhan Allah sebagai pusat
pelayanan dan pokok pujiannya;
2. Kiranya komitmen untuk taat dan setia terhadap hukum dan ketetapan Tuhan Allah akan menjadi dasar bagi gereja dalam menjalankan panggilannya di tengah dunia milik Allah;
3. Kiranya melalui pelayanan gereja banyak keluarga akan diberkati dan menjadi berkat bagi sesama
TATA IBADAH YANG DIUSULKAN
HARI MINGGU BENTUK III
NYANYIAN YANG DIUSULKAN:
Panggilan Beribadah: NKB No.1:1-2 Hai Kristen, Nyanyilah!
Ses. Nas Pemb: NNBT No.19 Allah Besar Agung Nama-Nya
Pengakuan Dosa: NKB No.10 "Dari Kungkungan Malam Gelap"
Pemberitaan Anugerah Allah: NKB No.19 Dalam Lautan Yang Kelam
Ses Pemb. Alkitab: KJ. No. 50a "Sabda-Mu Abadi"
Persembahan: NKB. No. 133 "Syukur Pada-Mu, Ya Allah"
Nyanyian Penutup: NKB. No.211 "Pakailah Waktu Anug'rah Tuhanku"
ATRIBUT
Warna Dasar Hijau dengan Simbol Salib dan Perahu di atas Gelombang.