Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik Rabu 5 November 2025, Bacaan I Roma 13:8-10, Bacaan Injil Lukas 14:25-33

Fandy Gerungan • Selasa, 4 November 2025 | 09:06 WIB
Photo
Photo

 

Minggu Biasa Ke XXXI (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Roma 13:8-10

Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.

Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!

Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

Mzm. 112:1-2,4-5,9

Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.

Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati.Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil.

Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya.

Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan.

Bacaan Injil Lukas 14:25-33

Pada suatu ketika orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?

Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?

Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan

Saudara-saudari terkasih, setiap dari kita pasti ingin menjadi pengikut Kristus. Tetapi menjadi murid-Nya bukan sekadar soal ikut misa, berdoa, atau berbuat baik. Menjadi murid Kristus berarti hidup dalam kasih. Kasih yang tidak setengah-setengah, dan kesetiaan yang berani berkorban.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengingatkan bahwa seluruh hukum dan aturan iman sejatinya bermuara pada satu hal: kasih. Bukan kasih yang hanya diucapkan, tetapi kasih yang hidup dalam tindakan nyata.

Kasih yang tidak menyakiti, tidak menuntut balas, dan tidak berhenti hanya pada mereka yang mudah dikasihi. Kasih sejati tidak pernah menjadi beban, melainkan menjadi kekuatan yang memampukan kita untuk melayani dengan tulus.

Namun Yesus hari ini mengajak kita melangkah lebih jauh. Ia menantang kita untuk melihat seberapa besar kesediaan kita dalam mengikuti-Nya. Mengasihi Kristus berarti berani melepaskan segala sesuatu yang dapat menghalangi hubungan kita dengan-Nya bahkan hal-hal yang paling kita cintai.

Itu bukan berarti kita harus menolak keluarga atau meninggalkan dunia, tetapi kita diajak menempatkan Tuhan sebagai pusat dan prioritas tertinggi dalam hidup.

Mengikuti Kristus adalah keputusan sadar yang menuntut perhitungan dan komitmen. Seperti seseorang yang hendak membangun menara, kita diminta untuk sungguh menimbang kesiapan hati kita.

Apakah kita siap menanggung salib setiap hari?. Apakah kita siap tetap mengasihi meski dunia membalas dengan kebencian?

Sering kali kasih terasa indah di awal, tapi menjadi berat ketika harus disertai pengorbanan. Kita mungkin merasa letih ketika kasih tidak dihargai, atau kecewa ketika kebaikan kita dibalas dengan kecurigaan.

Tetapi di situlah kasih sejati diuji. Kasih yang berakar dalam Kristus tidak bergantung pada balasan manusia, melainkan pada kesetiaan kepada Tuhan yang telah lebih dahulu mengasihi kita.

Maka hari ini, marilah kita bertanya dalam hati:
Apakah aku mengasihi dengan tulus, tanpa pamrih dan tanpa batas?
Apakah aku bersedia menanggung salib kasih itu dengan setia setiap hari?

Mengasihi memang tidak mudah. Tapi hanya dengan kasihlah kita sungguh menjadi murid Kristus. Karena di dalam kasih, seluruh hukum digenapi dan seluruh hidup menemukan maknanya. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan