Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Sabtu 22 November 2025, Bacaan I 1 Makabe 6:1-13, Bacaan Injil Lukas 20:27-40

Fandy Gerungan • Selasa, 18 November 2025 | 09:56 WIB
Photo
Photo

Peringatan Wajib St. Sesilia (Warna Liturgi Merah)

Bacaan I 1 Makabe 6:1-13

Dalam pada itu raja Antiokhus menjelajahi wilayah pegunungan. Didengarnya kabar bahwa Elimais, sebuah kota di negeri Persia, adalah termasyhur karena kekayaan perak dan emas

dan lagi bahwa kuil di kota itu sangat kaya pula oleh karena di sana ada alat-alat perang emas, lemena serta senjata yang ditinggalkan Aleksander bin Filipus, raja Makedonia, yang mula-mula merajai orang-orang Yunani.

Maka datanglah ia ke sana dan berusaha merebut kota itu serta menjarahinya. Tetapi ia tidak berhasil oleh karena maksudnya ketahuan oleh penduduk kota itu.

Mereka memberikan perlawanan kepada raja, sehingga ia lari serta berangkat dari situ dengan sesal hati yang besar hendak kembali ke Babel.

Kemudian datanglah seseorang ke daerah Persia memberitahu raja bahwa bala tentaranya yang memasuki negeri Yudea sudah dipukul mundur

dan khususnya bahwa Lisias yang maju perang dengan bala tentara yang kuat telah dipukul mundur oleh orang-orang Yahudi yang bertambah kuat karena senjata, pasukan dan banyak barang rampasan yang diperoleh mereka dengan diambil dari tentara yang telah mereka kalahkan.

Orang-orang Yahudi juga telah membongkar Kekejian yang telah ditegakkan raja di atas mezbah di Yerusalem. Bait Suci telah dipagari oleh mereka dengan tembok-tembok yang tinggi seperti dahulu dan demikianpun halnya dengan Bet-Zur, salah satu kota raja.

Mendengar berita itu maka tercenganglah raja dan sangat tergeraklah hatinya. Ia merebahkan diri di ranjang dan jatuh sakit karena sakit hati. Sebab semuanya tidak terjadi sebagaimana diinginkannya.

Berhari-hari raja berbaring di ranjangnya sedang terus-menerus dihinggapi kemurungan besar. Ketika merasa akan meninggal

dipanggilnya semua sahabatnya lalu dikatakannya kepada mereka: "Tidur sudah lenyap dari mataku dan hatiku hancur karena kemasygulan.

Maka dalam hati aku berkata: Kepada keimpitan dan kemalangan manakah aku sampai sekarang ini? Aku ini yang murah hati dan tercinta dalam kekuasaanku!

Tetapi teringatlah aku sekarang kepada segala kejahatan yang telah kuperbuat kepada Yerusalem dengan mengambil perkakas perak dan emas yang ada di kota itu dan dengan menyuruh bahwa penduduk Yehuda harus ditumpas dengan sewenang-wenang.

Aku sudah menjadi insaf bahwa oleh karena semuanya itulah maka aku didatangi malapetaka ini. Sungguh aku jatuh binasa dengan sangat sedih hati di negeri yang asing."

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 9:2-3,4,6,16b,19

aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi,

sebab musuhku mundur, tersandung jatuh dan binasa di hadapan-Mu.

Sebab Engkau membela perkaraku dan hakku, sebagai Hakim yang adil Engkau duduk di atas takhta.

musuh telah habis binasa, menjadi timbunan puing senantiasa: kota-kota telah Kauruntuhkan; lenyaplah ingatan kepadanya.

TUHAN telah memperkenalkan diri-Nya, Ia menjalankan penghakiman; orang fasik terjerat dalam perbuatan tangannya sendiri. Higayon. Sela

Bangkitlah, TUHAN, janganlah manusia merajalela; biarlah bangsa-bangsa dihakimi di hadapan-Mu!

Bacaan Injil Lukas 20:27-40

Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya:

"Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu.

Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak.

Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua,

dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak.

Akhirnya perempuan itupun mati.

Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia."

Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan,

tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan.

Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i kadang manusia itu seperti Raja Antiokhus dalam kisah hari ini: merasa kuat, punya kuasa, merasa bisa mengambil apa saja yang bukan miliknya. Ia mengejar harta, mengincar kejayaan, dan yakin hidup berjalan sesuai rencananya.

Tapi begitu rencananya gagal, ia harus berhadapan dengan kenyataan pahit: bahwa kekuasaan tidak bisa menjamin keberhasilan, apalagi kedamaian hati.

Raja itu akhirnya menyerah bukan karena perang, tapi karena penyesalan yang menggerogoti batinnya. Ia mulai teringat pada semua tindakan semena-mena yang pernah ia lakukan, terutama terhadap umat Tuhan.

Dan di sanalah ia sadar—kadang hukuman terbesar bukan pukulan dari luar, tapi kegelisahan yang muncul dari dalam hati sendiri ketika kita sadar sudah melukai kehendak Tuhan.

Penyesalan sebenarnya bisa menjadi awal pertobatan, tapi hanya jika kita berani menghadapi kebenaran dalam diri sendiri. Hidup mengingatkan kita bahwa kesombongan akan runtuh cepat atau lambat, dan yang bertahan hanyalah hati yang mau kembali ke jalan Tuhan.

Sementara itu, Injil hari ini membawa kita ke suasana berbeda: Yesus sedang berhadapan dengan kelompok yang mencoba menjebak-Nya dengan pertanyaan rumit. Mereka membahas soal kehidupan setelah kematian seolah itu hanya teka-teki logika. Tapi Yesus mengajak mereka melihat sesuatu yang jauh lebih dalam:

Bahwa hidup setelah kebangkitan bukan kelanjutan dari pola hidup dunia, melainkan kehidupan baru yang kualitasnya tidak terbatas oleh aturan duniawi.

Di dunia ini, hubungan manusia dibangun dengan pola sosial tertentu menikah, membangun keluarga, meneruskan keturunan. Tapi kelak, Tuhan memanggil kita ke kehidupan yang tidak lagi dibatasi oleh kematian, keterikatan, atau kebutuhan biologis. Kita dipanggil menjadi anak-anak-Nya, hidup penuh dalam kasih-Nya yang sempurna.

Dengan kata lain, Yesus mengingatkan bahwa kebangkitan itu nyata, dan kehidupan kekal itu lebih besar daripada apa yang bisa kita bayangkan.

Apa yang bisa kita pelajari dari bacaan bacaan kitab suci di atas?.

1. Kesombongan selalu berakhir dengan kehancuran batin.
Ketika kita mengejar kekuasaan atau kemuliaan dengan cara yang tidak sesuai kehendak Tuhan, hati kita sendiri yang akhirnya menjadi medan pertempuran.

2. Pertobatan dimulai ketika kita berani mengakui kesalahan.
Bahkan seorang raja yang keras kepala sekalipun akhirnya bisa tersentuh oleh suara hatinya—betapa lebih mudahnya bagi kita untuk kembali kepada Tuhan.

3. Hidup kekal bukan kelanjutan dari kesibukan dunia, tetapi pemenuhan janji Tuhan.
Itu sebabnya kita diajak mempersiapkan diri bukan hanya dengan perbuatan lahiriah, tetapi dengan hati yang terus dibentuk oleh kasih.

Kiranya hari ini kita boleh belajar merendahkan diri, memperbaiki niat, dan terus mengarahkan hidup pada janji kebangkitan yang Tuhan sediakan. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan