Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Upus Ni Mama GMIM 23-29 November 2025, Amsal 31:10-31 Istri Yang Takut Akan Tuhan

Aprilia Sahari • Jumat, 21 November 2025 | 11:28 WIB
LOGO WKI GMIM
LOGO WKI GMIM

Upus Ni Mama GMIM 23-29 November 2025
Bacaan Alkitab: Amsal 31:10-31
Tema: "Istri Yang Takut Akan Tuhan"

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, hari ini kita bersyukur karena diberi kesempatan merayakan HUT Wanita Kaum Ibu GMIM.

Perayaan ini bukan sekadar pesta seremonial, melainkan momentum iman untuk kembali melihat panggilan kita sebagai perempuan Kristen yang hidup dalam kasih dan takut akan Tuhan.

Dalam perayaan ini kita diajak membaca dan merenungkan Firman Tuhan dari Amsal 31:10-31 dengan tema bacaan "Istri yang takut akan Tuhan."

Tema ini tidak hanya menunjuk pada perempuan di masa lampau, tetapi juga meneguhkan perempuan GMIM masa kini agar hidup dalam iman, melayani dengan kasih, serta menjadi teladan di tengah keluarga, jemaat, dan masyarakat.

Teks Amsal 31 menampilkan gambaran seorang perempuan cakap yang lebih berharga daripada permata.

Ia digambarkan sebagai pribadi yang rajin, penuh kasih, cerdas, kuat, dan takut akan Tuhan.

Singkatnya, ia adalah sosok yang hidup dalam ketulusan, kesetiaan, hikmat, keberanian, dan kasih.

Pertama, Amsal 31 memperlihatkan bahwa seorang perempuan berharga adalah perempuan yang tulus dan setia.

Ayat 10-12 mengatakan: "Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. Ia berbuat baik kepada suaminya dan bukan yang jahat, sepanjang umurnya."

Kesetiaan dan ketulusan hati adalah fondasi kehidupan perempuan yang berkenan di hadapan Allah.

Ini berarti setiap ibu, setiap perempuan Kristen, dipanggil untuk memancarkan kesetiaan kepada Tuhan, keluarga, dan pelayanan.

Kesetiaan itu tidak berhenti pada katakata, melainkan tampak dalam tindakan yang membawa damai dan penghiburan.

Kita dapat melihat, seorang ibu yang tulus dan setia menjadi tiang keluarga, menjaga anak-anak, menopang suami, dan menghadirkan keteduhan.

Namun realitas di sekitar kita menunjukkan sebaliknya, ada anak-anak yang ditelantarkan, keluarga yang retak karena ketidaksetiaan, bahkan perempuan yang diperlakukan tidak adil.

Karena itu, firman ini menegaskan kembali pentingnya ketulusan dan kesetiaan iman seorang perempuan beriman, sebab darinya lahir rasa aman dan damai.

Kedua, Amsal 31 menunjukkan sosok perempuan yang kuat dan cerdas.

Ayat 13-19 menggambarkan kerajinan dan keterampilan dalam mengatur rumah tangga, bahkan dalam mengelola usaha.

Ayat 25 menambahkan: "Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan."

Perempuan yang cakap bukan hanya kuat secara fisik, melainkan tangguh menghadapi kesulitan hidup.

Ia cerdas dalam mengambil keputusan, bijak mengelola sumber daya, dan mampu memandang masa depan dengan penuh pengharapan.

Hal ini juga menjadi panggilan bagi kita untuk terus belajar, mengembangkan potensi, dan mengambil bagian dalam membangun jemaat serta masyarakat dengan hikmat dan ketekunan.

Betapa sering kita jumpai para ibu yang harus berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya karena ditinggalkan suami, atau keluarganya menjadi korban ketidakadilan sosial dan kerusakan lingkungan.

Namun justru di tengah situasi sulit, banyak ibu yang bangkit, bekerja keras, mengelola yang ada, dan tetap bijak mencari jalan mempertahankan kehidupan.

Inilah kekuatan dan kecerdasan perempuan yang lahir dari iman kepada Tuhan.

Ketiga, perempuan dalam Amsal 31 adalah pribadi yang berani bertindak.

Ayat 20 menyatakan: "Ia membuka tangannya bagi yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin."

Keberanian bertindak bukan berarti melainkan keberanian yang lahir dari takut akan Tuhan.

Ia berani turun tangan menolong, membela yang lemah, mengajarkan kebaikan, dan menjaga keluarganya dengan disiplin.

Ayat 30 menegaskan: "Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi istri yang takut akan Tuhan dipuji-puji."

Inilah dasar dari segala keberanian-takut akan Tuhan.

Maka perempuan dipanggil untuk tidak tinggal diam di tengah ketidakadilan, melainkan hadir memberi pertolongan nyata, menyuarakan kebenaran, dan membangun kehidupan bersama.

Kita menyaksikan betapa banyak peristiwa tragis di sekitar kita.

Pembunuhan dengan senjata tajam, kekerasan dalam rumah tangga, penelantaran anak, hingga kejahatan lingkungan yang menghancurkan penghidupan masyarakat.

Dalam situasi perempuanlah yang paling merasakan dampak, sebagai sebagai ibu, sebagai penopang keluarga.

Tetapi justru di sanalah panggilan itu nyata, bahwa perempuan yang takut akan Tuhan, yang berani bertindak, dipuji-puji karena kehadirannya menjadi saluran berkat dan kekuatan yang mengubah keadaan.

Perempuan dipanggil untuk hadir sebagai penjaga kehidupan, pendidik nilai, penggerak solidaritas, suara keadilan, dan penjaga ciptaan.

Dengan hati yang tulus, perempuan menolak segala bentuk kekerasan, dengan pikiran yang cerdas, ia menanamkan nilai kasih dan damai dalam keluarga serta lingkungannya, dengan keberanian, ia bersuara lantang menegakkan martabat manusia dan memperjuangkan keadilan.

Saudara-saudara yang terkasih, perayaan HUT WKI GMIM mengingatkan kita untuk menghidupi motto: "Tulus dan Setia, Kuat dan Cerdas, Berani Bertindak."

Motto ini bukan hanya slogan, melainkan roh pelayanan yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah keluarga, WKI adalah penopang iman dan sumber kasih.

Di tengah jemaat, WKI adalah motor penggerak pelayanan yang membangun. Dan di tengah masyarakat, WKI dipanggil menjadi suara kenabian, memberi dampak positif, dan menghadirkan terang Kristus.

Amsal 31 ditutup dengan pujian, "Berikanlah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang" (ay. 31).

Inilah doa kita, doa istri yang takut akan Tuhan.

Kiranya setiap perempuan Kristen, khususnya Wanita/Kaum Ibu GMIM, hidupnya terus memancarkan kasih Kristus, menghadirkan sukacita, membangun keluarga, jemaat, dan bangsa.

Karena itu, Tuhan memanggil kita untuk menjadi pribadi yang menghadirkan syukur dan sukacita bagi orang lain melalui kehadiran yang meneguhkan, ucapan yang menghibur, dan tindakan yang membangun.

Hidup kita tidak dipanggil untuk menjadi batu sandungan, apalagi bagi sesama perempuan, melainkan untuk saling menopang agar kasih Kristus semakin nyata di tengah dunia.

Mari kita hidupi firman ini.

Melalui WKI GMIM, kasih Kristus dinyatakan dengan nyata.

Membangun, bukan merobohkan.

Menguatkan, bukan melemahkan.

Memberi harapan, bukan menambah luka. Amin.

Editor : Aprilia Sahari
#Upus Ni Mama GMIM #WKI GMIM #GMIM #Renungan GMIM