Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Senin 15 Desember 2025, Bacaan I Bilangan 24:2-7.15-17a, Bacaan Injil Matius 21:23-27

Fandy Gerungan • Senin, 8 Desember 2025 | 15:35 WIB
Photo
Photo

Pekan ke III Masa Adven (Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Bilangan 24:2-7.15-17a

Ketika Bileam memandang ke depan dan melihat orang Israel berkemah menurut suku mereka, maka Roh Allah menghinggapi dia.

Lalu diucapkannyalah sanjaknya, katanya: "Tutur kata Bileam bin Beor, tutur kata orang yang terbuka matanya;

tutur kata orang yang mendengar firman Allah, yang melihat penglihatan dari Yang Mahakuasa sambil rebah, namun dengan mata tersingkap.

Alangkah indahnya kemah-kemahmu, hai Yakub, dan tempat-tempat kediamanmu, hai Israel!

Sebagai lembah yang membentang semuanya; sebagai taman di tepi sungai; sebagai pohon gaharu yang ditanam TUHAN; sebagai pohon aras di tepi air.

Air mengalir dari timbanya, dan benihnya mendapat air banyak-banyak. Rajanya akan naik tinggi melebihi Agag, dan kerajaannya akan dimuliakan.

Lalu diucapkannyalah sanjaknya, katanya: "Tutur kata Bileam bin Beor, tutur kata orang yang terbuka matanya;

tutur kata orang yang mendengar firman Allah, dan yang beroleh pengenalan akan Yang Mahatinggi, yang melihat penglihatan dari Yang Mahakuasa, sambil rebah, namun dengan mata tersingkap.

Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel, dan meremukkan pelipis-pelipis Moab, dan menghancurkan semua anak Set.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 25:4bc-5ab.6-7bc.8-9

Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku.

Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.

Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala.

Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN.

TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.

Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.

Bacaan Injil Matius 21:23-27

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?"

Jawab Yesus kepada mereka: "Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.

Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?" Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya?

Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi."

Lalu mereka menjawab Yesus: "Kami tidak tahu." Dan Yesuspun berkata kepada mereka: "Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i ada saat-saat dalam hidup ketika seseorang tiba-tiba melihat sesuatu dengan lebih jelas. Bukan karena cahaya bertambah terang, tetapi karena hatinya menjadi lebih peka. Itulah yang terjadi pada seorang tokoh dalam bacaan pertama.

Ia melihat umat Allah bukan sekadar sebagai kelompok besar di padang gurun, tetapi sebagai sebuah bangsa yang memiliki masa depan yang dijaga dan dipimpin Tuhan. Ia melihat keindahan yang sebelumnya tidak terlihat keindahan yang muncul karena Allah sendiri menata perjalanan mereka.

Gambaran yang ia lihat begitu hidup: bangsa itu bagaikan taman yang subur, pohon-pohon yang bertumbuh di dekat air, dan kehidupan yang terus mengalir tanpa henti. Semua itu melambangkan bahwa ketika Allah berada di tengah umat-Nya, hal-hal yang tampaknya biasa dapat berubah menjadi sumber harapan.

Bahkan masa depan yang masih jauh pun bisa tampak jelas: sebuah cahaya yang akan muncul, seorang pemimpin yang akan bangkit, dan kehidupan baru yang akan terbentuk.

Melihat seperti ini tidak membutuhkan mata fisik semata, tetapi hati yang terbuka. Hati yang mau menerima bahwa Tuhan bekerja bukan hanya pada saat-saat spektakuler, tetapi juga dalam perjalanan panjang yang mungkin melelahkan. Dalam hati yang terbuka, masa depan yang penuh sukacita bisa dirasakan bahkan sebelum benar-benar tiba.

Namun, bacaan Injil membawa kita pada sebuah kontras: sementara ada yang matanya terbuka, ada pula yang sengaja menutupinya. Ketika Yesus hadir dan mengajar dengan wibawa yang begitu jelas, para pemimpin agama justru mempertanyakan dari mana kuasa itu berasal.

Mereka tidak bertanya untuk mencari kebenaran, melainkan untuk menjebak. Fokus mereka bukan pada kasih Allah yang sedang dikerjakan di depan mata mereka, tetapi pada bagaimana menjaga posisi, pengaruh, dan kepentingan mereka.

Ketika Yesus balik bertanya kepada mereka tentang asal mula pelayanan Yohanes Pembaptis, kebingungan mereka tampak jelas. Mereka tidak mencari jawaban sejati, melainkan jawaban aman.

Mereka takut pada reaksi orang-orang, takut kehilangan gengsi, dan akhirnya memilih untuk tidak menjawab apa pun. Sikap itu mencerminkan hati yang tertutup: hati yang lebih peduli pada kenyamanan diri daripada kebenaran.

Kedua bacaan ini mengajak kita bercermin:

Apakah kita lebih seperti orang yang matanya terbuka yang mampu melihat kehadiran Tuhan meski dalam perjalanan panjang dan melelahkan?.

Atau apakah kita seperti mereka yang memilih tidak tahu, karena menerima kebenaran berarti harus berubah, harus melangkah keluar dari kenyamanan, dan harus membuka diri pada cara Tuhan yang sering kali tak terduga?.

Sering kali, kita tidak menolak Tuhan secara terang-terangan. Kita hanya memberikan jawaban yang aman, seperti para pemimpin itu: “Saya tidak tahu.” Kita menunda, menolak secara halus, atau pura-pura bingung agar kita tidak perlu keluar dari zona nyaman.

Padahal, Tuhan selalu menawarkan penglihatan baru bahkan pada hal yang tampaknya sederhana. Ia mengajak kita melihat hidup dengan perspektif-Nya: melihat keluarga sebagai berkat, pekerjaan sebagai panggilan, tantangan sebagai ladang pertumbuhan, dan masa depan sebagai janji yang sudah dijaga.

Dan seperti gambaran indah di padang gurun, Tuhan mau agar hidup kita menjadi taman yang subur kembali. Ia mau mengalirkan air segar ke bagian hati yang kering, dan Ia ingin menuntun kita sampai kita mampu melihat cahaya harapan yang mungkin kini masih terasa jauh. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan