Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Minggu, 28 Desember 2025, Mazmur 120:1-7 Seruan dari Tengah Kesesakan

Alfianne Lumantow • Minggu, 28 Desember 2025 | 10:25 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab : Mazmur 120:1-7
Tema : Seruan dari Tengah Kesesakan

Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, Firman Tuhan yang kita dengarkan hari ini diambil dari Mazmur 120 ayat 1 sampai 7.

Mazmur ini adalah bagian dari Nyanyian Ziarah, mazmur-mazmur yang dinyanyikan umat Israel ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem untuk beribadah.
Namun, Mazmur 120 tidak dimulai dengan sukacita perjalanan, melainkan dengan seruan dari dalam kesesakan. Pemazmur berseru kepada Tuhan karena hidup di tengah tekanan, kebohongan, dan permusuhan.

Mazmur ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Banyak dari kita datang beribadah bukan karena hidup sedang baik-baik saja, tetapi justru karena kita sedang lelah, tertekan, dan terluka.

Ada masalah keluarga, konflik pekerjaan, relasi yang tidak sehat, fitnah, kata-kata yang melukai, dan situasi hidup yang membuat kita merasa terjepit. Mazmur 120 mengajarkan kepada kita bagaimana bersikap ketika berada dalam kondisi seperti itu.

Mazmur ini dibuka dengan pengakuan iman yang sederhana tetapi sangat kuat: “Dalam kesesakanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku.” Pemazmur tidak menyangkal bahwa ia sedang berada dalam kesesakan. Ia jujur mengakui kondisi hidupnya.

Namun yang paling penting, ia tahu kepada siapa ia harus berseru. Ia tidak hanya mengeluh kepada manusia, tidak hanya memendam rasa sakit dalam diam, tetapi membawa kesesakannya kepada Tuhan.

Sering kali, ketika kita berada dalam kesulitan, reaksi pertama kita adalah mengeluh, menyalahkan orang lain, atau menyimpan kepahitan dalam hati.

Ada juga yang memilih menjauh dari Tuhan karena merasa Tuhan tidak adil. Namun pemazmur justru melakukan hal sebaliknya: ia berseru kepada Tuhan. Dan ia bersaksi bahwa Tuhan menjawab doanya.

Ini bukan berarti masalah langsung hilang, tetapi ada kelegaan karena Tuhan mendengar. Jawaban Tuhan sering kali bukan perubahan situasi secara instan, melainkan kekuatan untuk bertahan, ketenangan hati, dan pengharapan baru.

Mazmur ini mengingatkan kita bahwa doa bukanlah pelarian terakhir, tetapi seharusnya menjadi respons pertama kita dalam kesesakan.

Ayat-ayat berikutnya menunjukkan sumber penderitaan pemazmur: bibir dusta dan lidah penipu. Ia hidup di tengah orang-orang yang berkata tidak jujur, yang menggunakan kata-kata untuk melukai dan menjatuhkan.

Kata-kata memang memiliki kuasa besar. Kata-kata bisa membangun, tetapi juga bisa menghancurkan. Luka karena kata-kata sering kali lebih dalam dan lebih lama sembuh daripada luka fisik.

Berapa banyak orang hari ini terluka karena fitnah, gosip, ujaran kebencian, dan perkataan yang tidak benar? Di dunia yang dipenuhi media sosial, kata-kata menyebar dengan cepat dan sering tanpa tanggung jawab.

Pemazmur merasakan penderitaan ini jauh sebelum zaman modern, dan keluhannya tetap relevan sampai hari ini.

Pemazmur tidak membalas dengan kata-kata kasar atau kebohongan yang sama. Ia menyerahkan persoalan itu kepada Tuhan. Ia berkata bahwa Tuhan sendiri yang akan bertindak terhadap lidah yang menipu.

Ini mengajarkan kepada kita tentang kepercayaan kepada keadilan Tuhan. Ketika kita diperlakukan tidak adil, godaan terbesar adalah membalas dengan cara yang sama. Namun Firman Tuhan mengingatkan bahwa pembalasan adalah hak Tuhan.

Menyerahkan keadilan kepada Tuhan bukan berarti kita lemah, tetapi justru menunjukkan iman. Kita percaya bahwa Tuhan melihat, Tuhan tahu, dan Tuhan bertindak pada waktu-Nya.

Sikap ini menolong kita untuk tidak terjebak dalam lingkaran kebencian dan dendam yang hanya akan merusak diri kita sendiri.

Ayat 5 dan 6 menggambarkan perasaan keterasingan pemazmur: ia tinggal di Mesekh dan diam di kemah-kemah Kedar. Tempat-tempat ini melambangkan lingkungan yang asing, keras, dan tidak bersahabat.

Pemazmur merasa seperti orang asing di tengah-tengah orang yang tidak mengasihi damai. Ia merasa tidak sejalan dengan nilai-nilai di sekitarnya.

Pengalaman ini juga dialami banyak umat Tuhan saat ini. Ada orang percaya yang hidup di lingkungan kerja, keluarga, atau masyarakat yang nilai-nilainya bertentangan dengan iman.

Ketika kita memilih hidup jujur, damai, dan benar, sering kali kita justru disalahpahami, dicurigai, bahkan disingkirkan. Hidup benar tidak selalu membuat hidup menjadi mudah.

Pemazmur berkata bahwa ia sudah terlalu lama tinggal di tengah orang-orang yang membenci damai. Ini menunjukkan kelelahan batin.

Hidup dalam konflik yang terus-menerus, meski tidak kita ciptakan, dapat menguras kekuatan rohani dan emosional kita. Mazmur ini memberi ruang bagi kita untuk mengakui kelelahan itu di hadapan Tuhan.

Ayat terakhir menyatakan kontras yang sangat tajam: “Aku ini cinta damai, tetapi apabila aku berbicara, maka mereka menghendaki perang.” Pemazmur menegaskan identitasnya. Ia adalah orang yang mengasihi damai. Ia tidak mencari konflik. Namun niat baiknya disalahartikan dan ditolak.

Kalimat ini mengingatkan kita pada panggilan kita sebagai umat Tuhan: menjadi pembawa damai. Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang membawa damai.”

Namun Firman Tuhan juga realistis: tidak semua orang menyambut damai. Ada kalanya upaya kita untuk berdamai justru disalahpahami atau ditolak.

Mazmur 120 mengajarkan bahwa menjadi pembawa damai bukan berarti hidup tanpa konflik, tetapi tetap memilih sikap hati yang benar di tengah konflik.

Kita bertanggung jawab atas sikap dan tindakan kita, bukan atas respons orang lain. Tugas kita adalah setia hidup dalam kebenaran dan damai, hasilnya kita serahkan kepada Tuhan.

Saudara-saudari yang terkasih, Mazmur 120 mengajak kita untuk jujur di hadapan Tuhan. Tuhan tidak menuntut kita selalu kuat dan tersenyum. Ia mengizinkan kita berseru, mengeluh, dan mencurahkan isi hati kita kepada-Nya. Doa yang jujur adalah awal dari pemulihan.

Mazmur ini juga mengingatkan kita untuk berhati-hati dengan perkataan. Di tengah dunia yang penuh kebohongan dan ujaran yang melukai, umat Tuhan dipanggil untuk menggunakan kata-kata yang membangun, jujur, dan membawa damai. Perkataan kita seharusnya mencerminkan iman kita.

Selain itu, Firman ini meneguhkan kita yang merasa asing dan terasing karena iman. Tuhan melihat perjuangan kita.

Kita tidak sendirian. Perjalanan iman memang sering dimulai dari seruan dalam kesesakan, tetapi berakhir pada pengharapan dalam Tuhan.

Sebagai nyanyian ziarah, Mazmur 120 adalah lagu pertama dalam perjalanan menuju hadirat Tuhan. Ini mengajarkan bahwa perjalanan rohani sering kali dimulai dari luka, konflik, dan kesesakan.

Namun justru dari sanalah Tuhan menuntun kita selangkah demi selangkah menuju pemulihan dan damai sejati.

Kiranya melalui Firman Tuhan hari ini, kita belajar untuk berseru kepada Tuhan dalam setiap kesesakan, menyerahkan keadilan kepada-Nya, menjaga perkataan kita, dan tetap memilih jalan damai meski tidak selalu mudah.

Tuhan yang mendengar seruan pemazmur adalah Tuhan yang sama yang mendengar doa kita hari ini.

Kiranya Tuhan menguatkan hati kita, memulihkan luka kita, dan menuntun langkah kita dalam damai-Nya. Amin.

Doa : Tuhan Allah yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu yang menguatkan kami di tengah kesesakan. Ajarlah kami berseru kepada-Mu, menjaga perkataan kami, dan tetap hidup dalam damai. Pulihkan hati kami yang lelah dan bimbing langkah kami seturut kehendak-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB #SABDA BINA UMAT