Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Teruna, GPIB, Jumat, 16 Januari 2026, Hakim-Hakim 8:4-9 Jangan Lelah Berbuat Baik

Alfianne Lumantow • Rabu, 14 Januari 2026 | 11:28 WIB

Logo GPIB.
Logo GPIB.

Bacaan Alkitab: Hakim-hakim 8:4–9
Tema: Jangan Lelah Berbuat Baik

Sobat Teruna yang terkasih dalam Tuhan, pernahkah kita merasa sangat lelah karena terus berbuat baik, tetapi hasilnya tidak seperti yang kita harapkan? Kita sudah menolong teman, namun dianggap biasa saja.

Kita sudah berusaha sabar, tetapi justru disalahpahami. Kita sudah berkorban waktu dan tenaga, tetapi tidak dihargai. Pada titik tertentu, muncul pertanyaan di hati: “Untuk apa aku terus melakukan ini?”

Kelelahan seperti ini bukan hanya soal fisik, tetapi juga kelelahan hati. Hati yang capek karena merasa sendirian. Hati yang lelah karena kebaikan seolah tidak pernah cukup. Hati yang ingin berhenti, ingin mundur, ingin berkata, “Cukup sampai di sini.”

Firman Tuhan hari ini berbicara sangat jujur tentang kondisi seperti itu. Dalam Hakim-hakim 8:4 dikatakan, “Ketika Gideon sampai ke Sungai Yordan, menyeberanglah ia dan ketiga ratus orang yang bersama dia. Meskipun sudah lelah, mereka terus mengejar.” Perhatikan kalimat ini baik-baik: mereka lelah, tetapi mereka tidak berhenti.

Gideon dan 300 orang pasukannya sedang berada di fase yang sangat melelahkan. Mereka baru saja mengalami peperangan besar. Jumlah mereka sedikit. Musuh mereka jauh lebih banyak.

Secara manusiawi, masuk akal jika mereka ingin berhenti, beristirahat, dan menyerah. Namun mereka memilih untuk terus mengejar, karena mereka tahu bahwa perjuangan ini belum selesai.

Sobat Teruna, yang menarik dari kisah ini bukan hanya kelelahan mereka, tetapi juga penolakan yang mereka alami. Ketika Gideon meminta makanan kepada orang-orang Sukot dan Pnuel, permintaan itu ditolak.

Padahal orang-orang ini adalah sesama bangsa Israel. Seharusnya mereka membantu. Seharusnya mereka mengerti. Namun yang terjadi justru sebaliknya: Gideon dan pasukannya tidak didukung, malah diremehkan.

Bayangkan bagaimana perasaan mereka. Sudah lelah, lapar, dikejar waktu, tetapi malah ditolak oleh orang-orang yang seharusnya menjadi saudara. Penolakan seperti ini sering kali lebih menyakitkan daripada serangan musuh. Musuh kita harapkan menyerang, tetapi saudara? Teman? Orang dekat? Itu yang membuat hati semakin lelah.

Sobat Teruna, bukankah ini juga yang sering kita alami? Ketika kita berbuat baik, kita berharap setidaknya dimengerti. Tetapi justru orang-orang terdekatlah yang kadang tidak mendukung. Kita berharap ada apresiasi, tetapi yang datang justru kritik. Kita berharap ada penguatan, tetapi yang muncul malah ejekan.

Dalam situasi seperti ini, godaan terbesar adalah berhenti berbuat baik.
Namun firman Tuhan hari ini mengajak kita belajar dari Gideon: berbuat baik bukan bergantung pada respon orang lain, tetapi pada ketaatan kita kepada Tuhan.

Gideon tidak berhenti karena ditolak. Ia tidak berkata, “Kalau begitu, aku juga berhenti.” Ia tetap melanjutkan apa yang benar. Bukan karena ia kuat, tetapi karena ia tahu Tuhan yang memanggilnya juga menyertainya.

Sobat Teruna, sering kali kita berpikir bahwa orang yang setia itu adalah orang yang selalu kuat. Padahal kenyataannya, orang yang setia adalah orang yang tetap melangkah meski sedang lemah. Gideon dan pasukannya tidak dipuji karena tidak lelah. Mereka dipuji karena tetap maju meski lelah.

Ini penting sekali untuk kita pahami: Tuhan tidak menuntut kita selalu bersemangat, tetapi Tuhan memanggil kita untuk tetap setia.

Dalam kehidupan sehari-hari, kebaikan sering terasa melelahkan. Jujur itu melelahkan. Setia itu melelahkan. Mengampuni itu melelahkan. Menolong tanpa pamrih itu melelahkan. Karena kebaikan sering tidak langsung berbuah. Bahkan kadang disalahartikan.

Namun firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kebaikan yang dilakukan dengan setia tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan. Mungkin manusia tidak melihat. Mungkin tidak ada sorakan. Mungkin tidak ada ucapan terima kasih. Tetapi Tuhan melihat semuanya.

Lagu “You Make Me Stronger” dari Kevin Downswell menggambarkan dengan indah pergumulan ini:
You are my creator, Lord You know my times
Seasons of breakthrough, my seasons of trials
So I will seek you, and you I will find
You're my strong tower, in you I will hide

Sobat Teruna, lagu ini mengingatkan kita bahwa Tuhan mengenal setiap musim hidup kita. Ada musim kemenangan, tetapi ada juga musim kelelahan. Ada musim semangat, tetapi ada juga musim hampir menyerah. Dan di semua musim itu, Tuhan tetap hadir.

Gideon bisa terus maju bukan karena ia memiliki energi tanpa batas, tetapi karena ia tahu kepada siapa ia bersandar. Tuhan adalah sumber kekuatannya. Tuhanlah yang menopang langkahnya.

Demikian juga dengan kita. Tuhan tidak pernah berkata bahwa hidup sebagai orang benar itu mudah. Tuhan tidak menjanjikan jalan yang selalu mulus. Tetapi Tuhan berjanji untuk menyertai. Ketika kita lelah, Tuhan menjadi kekuatan. Ketika kita hampir berhenti, Tuhan memberi pengharapan baru.

Sobat Teruna, jangan menilai kebaikan hanya dari hasil yang langsung terlihat. Banyak kebaikan bekerja dalam diam. Banyak kesetiaan yang buahnya baru terlihat di kemudian hari. Bahkan kadang buahnya tidak kita lihat sendiri, tetapi dinikmati oleh orang lain.

Yang Tuhan minta dari kita bukan hasil instan, tetapi hati yang tetap taat.
Mungkin hari ini ada Sobat Teruna yang sedang lelah. Lelah menjadi orang baik. Lelah menjadi jujur. Lelah menjadi setia. Firman Tuhan hari ini tidak menegur, tetapi menguatkan: jangan lelah berbuat baik.

Bukan karena kita kuat, tetapi karena Tuhan setia. Bukan karena kita sanggup, tetapi karena Tuhan memampukan. Seperti Gideon, Tuhan memanggil kita untuk tetap melangkah, meski langkah itu terasa berat.

Sobat Teruna, jika hari ini engkau merasa lemah, datanglah kepada Tuhan. Tidak apa-apa mengakui kelelahan. Tuhan tidak menolak hati yang jujur.

Namun setelah datang kepada-Nya, bangkitlah kembali. Lanjutkan kebaikan itu. Lanjutkan kesetiaan itu. Karena di dalam ketaatan yang lelah sekalipun, Tuhan sedang bekerja.

Kiranya kita menjadi generasi muda yang tidak cepat menyerah dalam melakukan yang benar. Generasi yang setia bukan karena ingin dipuji, tetapi karena ingin memuliakan Tuhan.
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” Amin.

Doa : Tuhan yang setia, terima kasih atas firman-Mu yang menguatkan kami saat lelah. Ketika hati kami hampir menyerah, ingatkan kami untuk tetap setia berbuat baik. Jadilah kekuatan kami dalam setiap langkah kecil ketaatan. Mampukan kami terus berjalan bersama-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB