Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Rabu 28 Januari 2026, Bacaan I 2 Samuel 7:4-17, Bacaan Injil Markus 4:1-20

Fandy Gerungan • Selasa, 20 Januari 2026 | 11:04 WIB
Photo
Photo

Perayaan Wajib St. Thomas Aquinas (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I 2 Samuel 7:4-17

Tetapi pada malam itu juga datanglah firman TUHAN kepada Natan, demikian:

"Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN: Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami?

Aku tidak pernah diam dalam rumah sejak Aku menuntun orang Israel dari Mesir sampai hari ini, tetapi Aku selalu mengembara dalam kemah sebagai kediaman.

Selama Aku mengembara bersama-sama seluruh orang Israel, pernahkah Aku mengucapkan firman kepada salah seorang hakim orang Israel, yang Kuperintahkan menggembalakan umat-Ku Israel, demikian: Mengapa kamu tidak mendirikan bagi-Ku rumah dari kayu aras?

Oleh sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel.

Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala musuhmu dari depanmu. Aku membuat besar namamu seperti nama orang-orang besar yang ada di bumi.

Aku menentukan tempat bagi umat-Ku Israel dan menanamkannya, sehingga ia dapat diam di tempatnya sendiri dengan tidak lagi dikejutkan dan tidak pula ditindas oleh orang-orang lalim seperti dahulu,

sejak Aku mengangkat hakim-hakim atas umat-Ku Israel. Aku mengaruniakan keamanan kepadamu dari pada semua musuhmu. Juga diberitahukan TUHAN kepadamu: TUHAN akan memberikan keturunan kepadamu.

Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya.

Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya.

Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia.

Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu.

Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya."

Tepat seperti perkataan ini dan tepat seperti penglihatan ini Natan berbicara kepada Daud.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 89:4-5,27-28,29-30

Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun." Sela

Sebab itu langit bersyukur karena keajaiban-keajaiban-Mu, ya TUHAN, bahkan karena kesetiaan-Mu di antara jemaah orang-orang kudus.

Akupun juga akan mengangkat dia menjadi anak sulung, menjadi yang mahatinggi di antara raja-raja bumi.

Aku akan memelihara kasih setia-Ku bagi dia untuk selama-lamanya, dan perjanjian-Ku teguh bagi dia.

Aku menjamin akan adanya anak cucunya sampai selama-lamanya, dan takhtanya seumur langit.

Jika anak-anaknya meninggalkan Taurat-Ku dan mereka tidak hidup menurut hukum-Ku,

Bacaan Injil Markus 4:1-20

Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu.

Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka:

"Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.

Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.

Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.

Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.

Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah.

Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat."

Dan kata-Nya: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"

Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu.

Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan,

supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun."

Lalu Ia berkata kepada mereka: "Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain?

Penabur itu menaburkan firman.

Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka.

Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira,

tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.

Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu,

lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.

Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i sering kali dalam hidup, kita datang kepada Tuhan dengan niat yang kelihatan sangat baik. Kita ingin melakukan sesuatu yang besar bagi-Nya, mempersembahkan karya terbaik, bahkan membangun “rumah” bagi Tuhan melalui pelayanan, jabatan, atau rencana hidup yang menurut kita mulia.

Namun bacaan hari ini mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah Tuhan sungguh membutuhkan rencana kita, atau justru kitalah yang perlu dibentuk oleh rencana-Nya?

Daud memiliki keinginan tulus untuk membangun tempat tinggal yang megah bagi Tuhan. Tetapi Tuhan menyingkapkan sesuatu yang lebih dalam: sejak awal Ia tidak pernah terikat pada bangunan. Ia berjalan bersama umat-Nya, hadir dalam perjalanan, perjuangan, dan ketidakpastian hidup. Tuhan tidak mencari kemegahan lahiriah, melainkan kesetiaan hati.

Lebih dari itu, Tuhan mengingatkan Daud akan perjalanan hidupnya sendiri. Dari seorang gembala kecil hingga menjadi pemimpin umat, semua itu bukan hasil kehebatan pribadi, melainkan buah penyertaan Tuhan.

Di sinilah kita belajar bahwa sebelum kita sibuk membangun sesuatu untuk Tuhan, sering kali Tuhanlah yang lebih dahulu membangun hidup kita, pelan-pelan, melalui proses yang tidak selalu mudah.

Janji yang diberikan Tuhan kepada Daud juga penuh makna: sebuah keturunan, kerajaan yang kokoh, dan relasi seperti ayah dan anak. Ini menunjukkan bahwa Tuhan setia, bahkan ketika manusia kelak jatuh dan keliru. Kasih-Nya tidak mudah ditarik kembali. Ia mendidik, menegur, tetapi tidak meninggalkan.

Nada yang sama kita temukan dalam Injil hari ini. Yesus berbicara tentang benih yang ditaburkan ke berbagai jenis tanah. Benih itu sama, tetapi hasilnya berbeda-beda.

Masalahnya bukan pada benih, melainkan pada kesiapan tanah. Firman Tuhan selalu penuh daya hidup, namun pertumbuhannya sangat bergantung pada bagaimana hati kita menerimanya.

Ada hati yang keras karena terlalu sibuk, terlalu penuh oleh kebisingan dunia, sehingga firman hanya lewat begitu saja. Ada hati yang antusias sesaat, tetapi tidak siap bertahan ketika iman menuntut pengorbanan.

Ada pula hati yang dipenuhi kekhawatiran, ambisi, dan kelekatan, sehingga firman terhimpit dan tak sempat berbuah. Namun ada juga hati yang terbuka, rendah, dan setia di sanalah firman bertumbuh melimpah.

Jika kita satukan kedua bacaan ini, kita disadarkan bahwa Tuhan tidak pertama-tama mencari bangunan yang megah atau reaksi iman yang sesaat. Ia mencari hati yang mau dibentuk, hati yang bersedia menjadi “tanah yang baik”. Hati seperti inilah yang kelak menjadi tempat tinggal Tuhan yang sejati.

Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur pada diri sendiri:
Apakah aku sedang sibuk membangun sesuatu untuk Tuhan, tetapi lupa mempersiapkan hatiku bagi-Nya?. Apakah firman Tuhan sungguh berakar dalam hidupku, atau hanya singgah sebentar?.

Semoga kita diberi kerendahan hati untuk membiarkan Tuhan bekerja dalam hidup kita, membangun iman kita dari dalam, dan menjadikan hati kita tempat yang subur bagi kasih, pengharapan, dan kesetiaan-Nya. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan