Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Jumat 30 Januari 2026, Bacaan I 2 Samuel 11:1-4a,5-10a,13-17, Bacaan Injil Markus 4:26-34

Fandy Gerungan • Senin, 26 Januari 2026 | 09:55 WIB
Photo
Photo

Hari Minggu Biasa ke III (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 2 Samuel 11:1-4a,5-10a,13-17

Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang, maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel. Mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba, sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem.

Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya.

Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata: "Itu adalah Batsyeba binti Eliam, isteri Uria orang Het itu."

Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia. Perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia. Perempuan itu baru selesai membersihkan diri dari kenajisannya. Kemudian pulanglah perempuan itu ke rumahnya.

Lalu mengandunglah perempuan itu dan disuruhnya orang memberitahukan kepada Daud, demikian: "Aku mengandung."

Lalu Daud menyuruh orang kepada Yoab mengatakan: "Suruhlah Uria, orang Het itu, datang kepadaku." Maka Yoab menyuruh Uria menghadap Daud.

Ketika Uria masuk menghadap dia, bertanyalah Daud tentang keadaan Yoab dan tentara dan keadaan perang.

Kemudian berkatalah Daud kepada Uria: "Pergilah ke rumahmu dan basuhlah kakimu." Ketika Uria keluar dari istana, maka orang menyusul dia dengan membawa hadiah raja.

Tetapi Uria membaringkan diri di depan pintu istana bersama-sama hamba tuannya dan tidak pergi ke rumahnya.

Diberitahukan kepada Daud, demikian: "Uria tidak pergi ke rumahnya." Lalu berkatalah Daud kepada Uria: "Bukankah engkau baru pulang dari perjalanan? Mengapa engkau tidak pergi ke rumahmu?"

Daud memanggil dia untuk makan dan minum dengan dia, dan Daud membuatnya mabuk. Pada waktu malam keluarlah Uria untuk berbaring tidur di tempat tidurnya, bersama-sama hamba-hamba tuannya. Ia tidak pergi ke rumahnya.

Paginya Daud menulis surat kepada Yoab dan mengirimkannya dengan perantaraan Uria.

Ditulisnya dalam surat itu, demikian: "Tempatkanlah Uria di barisan depan dalam pertempuran yang paling hebat, kemudian kamu mengundurkan diri dari padanya, supaya ia terbunuh mati."

Pada waktu Yoab mengepung kota Raba, ia menyuruh Uria pergi ke tempat yang diketahuinya ada lawan yang gagah perkasa.

Ketika orang-orang kota itu keluar menyerang dan berperang melawan Yoab, maka gugurlah beberapa orang dari tentara, dari anak buah Daud; juga Uria, orang Het itu, mati.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 51:3-4,5-6a,6bc-7,10-11

Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.

Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.

Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.

Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.

Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.

Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!

Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!

Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!

Bacaan Injil Markus 4:26-34

Lalu kata Yesus: "Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah,

lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.

Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu.

Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba."

Kata-Nya lagi: "Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya?

Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi.

Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya."

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka,

dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i ada satu ironi yang kuat dalam bacaan hari ini. Di satu sisi, kita melihat kisah seorang raja besar yang jatuh bukan di medan perang, tetapi di saat ia memilih diam, nyaman, dan lengah. Di sisi lain, kita mendengar gambaran tentang Kerajaan Allah yang justru bertumbuh secara diam-diam, perlahan, dan sering kali tak disadari.

Daud berada di puncak kekuasaan. Ia punya segalanya: wibawa, tentara, dan kepercayaan rakyat. Namun kejatuhannya dimulai dari hal yang tampak sepele: memilih tidak pergi berperang seperti biasanya, membiarkan diri larut dalam kenyamanan, lalu membiarkan pandangan dan keinginan menguasai hati.

Dari satu pilihan kecil yang tidak dijaga, lahirlah rangkaian keputusan yang semakin gelap penyalahgunaan kuasa, manipulasi, hingga hilangnya nyawa orang tak bersalah. Dosa tidak pernah berdiri sendirian; ia tumbuh, saling menutupi, dan menuntut korban yang lebih besar.

Berhadapan dengan itu, Injil justru mengajak kita menengok cara kerja Allah yang sangat berbeda. Kerajaan-Nya tidak dibangun dengan paksaan, intrik, atau ambisi. Ia tumbuh seperti benih yang ditaburkan ke tanah: sunyi, sederhana, bahkan nyaris tak terlihat.

Tidak ada sensasi instan. Tidak ada kendali penuh dari manusia. Namun justru di sanalah kehidupan berkembang, hingga pada waktunya menghasilkan buah yang matang.

Dua bacaan ini seakan mempertemukan dua jenis “benih”. Yang pertama adalah benih dosa: kecil di awal, tetapi jika dibiarkan, ia tumbuh liar dan merusak.

Yang kedua adalah benih Kerajaan Allah: tampak kecil dan lemah, tetapi jika setia dirawat, ia memberi kehidupan dan naungan bagi banyak orang. Pertanyaannya bukan benih mana yang lebih cepat tumbuh, melainkan benih mana yang kita izinkan tinggal di hati kita.

Renungan ini mengajak kita jujur pada diri sendiri. Dalam keseharian, benih apa yang sedang kita rawat?. Apakah kebiasaan kecil yang kita anggap sepele, tetapi sebenarnya menjauhkan kita dari kebenaran?.

Atau justru kesetiaan sederhana doa yang mungkin terasa kering, kejujuran yang tidak dipuji orang, kebaikan kecil yang tak terlihat yang perlahan membentuk hidup kita?

Allah bekerja dengan kesabaran. Ia memberi waktu untuk bertumbuh, sekaligus mempercayakan tanggung jawab kepada kita untuk menjaga ladang hati. Jangan remehkan pilihan kecil hari ini, karena di situlah masa depan iman sedang dibentuk.

Semoga kita belajar untuk lebih waspada terhadap benih yang menyesatkan, dan dengan setia menaburkan benih kebaikan. Sebab pada waktunya, Tuhan sendirilah yang akan membuatnya bertumbuh dan berbuah. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan