Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Teruna GPIB, Jumat, 30 Januari 2026, Habakuk 3:1-4 Allah Sebagai Satu-Satunya Jawaban

Alfianne Lumantow • Kamis, 29 Januari 2026 | 16:27 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab: Habakuk 3:1–4
Tema: Allah Sebagai Satu-Satunya Jawaban

Sobat Teruna yang dikasihi Tuhan, Dalam hidup ini, kita semua pasti pernah bergumul. Ada yang bergumul dengan keluarga: orang tua yang bertengkar, ekonomi yang sulit, atau merasa kurang diperhatikan.

Ada yang bergumul dengan sekolah: nilai yang tidak sesuai harapan, tekanan tugas, atau bingung menentukan masa depan. Ada juga yang bergumul dengan hubungan: dikhianati teman, patah hati, atau merasa sendirian.

Bahkan tidak sedikit dari kita yang bergumul dengan pertanyaan besar: “Tuhan, sebenarnya Engkau ada di mana dalam hidupku?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak asing. Kita sering merasa Tuhan diam, seolah-olah doa kita tidak didengar. Kita sudah berdoa, sudah berharap, tetapi keadaan tidak berubah. Dalam situasi seperti itu, iman kita diuji. Apakah kita masih percaya kepada Tuhan, atau justru mulai mengandalkan diri sendiri?

Nabi Habakuk juga mengalami pergumulan yang serupa. Ia hidup di masa bangsa Israel penuh ketidakadilan, kekerasan, dan kejahatan. Orang jahat tampak menang, sementara orang benar menderita.

Habakuk berseru kepada Tuhan: “Berapa lama lagi, Tuhan, aku harus berseru, tetapi Engkau tidak mendengar?” (Hab. 1:2). Ini adalah teriakan hati seorang hamba Tuhan yang jujur. Ia tidak menutupi kekecewaannya. Ia datang kepada Tuhan dengan segala kebingungannya.

Namun yang menarik, kitab Habakuk tidak berhenti pada keluhan. Kitab ini menunjukkan perjalanan iman: dari bertanya, menjadi percaya; dari mengeluh, menjadi menyembah.

Bacaan kita hari ini, Habakuk 3:1–4, adalah doa sekaligus pujian. Di sini kita melihat perubahan besar dalam diri Habakuk. Ia tidak lagi fokus pada masalah bangsanya, tetapi pada siapa Allah itu. Ia tidak lagi sibuk mempertanyakan keadilan Tuhan, tetapi memandang kebesaran Tuhan.

Habakuk berkata, “Ya TUHAN, telah kudengar kabar tentang Engkau, dan aku takut. Ya TUHAN, hidupkanlah perbuatan-Mu dalam zaman kami” (ay.2). Ini adalah doa seorang yang mengenal Allah.

Ia mengingat kembali karya Tuhan di masa lalu: bagaimana Tuhan membebaskan Israel dari Mesir, memimpin mereka dengan tiang awan dan tiang api, serta menyatakan kemuliaan-Nya di gunung Sinai. Habakuk sadar bahwa Allah yang dahulu berkarya, adalah Allah yang sama hari ini.

Sobat teruna, sering kali masalah kita menjadi begitu besar karena kita lupa siapa Allah kita. Kita melihat masalah lebih besar daripada Tuhan. Kita lebih ingat kegagalan daripada janji Tuhan. Kita lebih fokus pada ketakutan daripada kuasa Allah.

Padahal, jika kita mengenal Allah dengan benar, kita akan sadar bahwa tidak ada masalah yang lebih besar dari Dia.

Dalam ayat 3 dan 4 dikatakan bahwa kemuliaan Allah memenuhi langit dan bumi, cahaya-Nya seperti terang matahari, dan dari tangan-Nya terpancar kuasa. Ini gambaran bahwa Allah itu kudus, mulia, dan berkuasa.

Habakuk ingin menegaskan: Tuhan bukan Allah yang lemah, bukan Allah yang tidak peduli. Ia adalah Allah yang aktif bekerja dalam sejarah dan dalam hidup manusia.

Sobat teruna, di sinilah kita belajar bahwa Allah adalah satu-satunya jawaban. Bukan jawaban instan, bukan jawaban instan seperti mie instan, tetapi jawaban sejati yang memberi kekuatan di tengah pergumulan.

Allah tidak selalu mengubah keadaan dengan cepat, tetapi Ia selalu mengubah hati orang yang percaya kepada-Nya.

Habakuk tidak langsung melihat bangsanya dipulihkan. Keadaan tidak langsung membaik. Tetapi yang berubah adalah sikap hatinya. Ia belajar berserah. Ia belajar percaya. Ia belajar melihat dunia dari sudut pandang Allah, bukan dari sudut pandang manusia.

Dalam rangka HUT ke-43 Pelkat Persekutuan Teruna GPIB, firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa perjalanan persekutuan teruna bukan hanya tentang kegiatan, lomba, atau perayaan.

Lebih dari itu, persekutuan ini adalah tempat kita belajar mengenal Allah dan bersandar kepada-Nya. Kita sedang dibentuk menjadi generasi yang tidak hanya kuat secara fisik dan intelektual, tetapi juga kuat secara iman.

Sobat teruna, dunia hari ini menawarkan banyak “jawaban palsu”. Ketika kita stres, dunia berkata: cari hiburan. Ketika kita sedih, dunia berkata: lari ke media sosial.

Ketika kita takut masa depan, dunia berkata: andalkan uang dan kekuasaan. Tetapi semua itu tidak pernah benar-benar memuaskan. Hiburan hanya sementara. Popularitas cepat hilang. Uang tidak bisa membeli damai sejahtera.

Habakuk menunjukkan kepada kita jawaban yang sejati: kembali kepada Tuhan. Ia tidak lari dari Tuhan, tetapi datang kepada Tuhan. Ia tidak memendam kekecewaan, tetapi menuangkannya dalam doa. Ia tidak berhenti percaya, tetapi justru semakin mengenal Allah.

Bersandar kepada kedaulatan Tuhan bukan berarti kita menjadi pasif dan menyerah begitu saja. Bersandar kepada Tuhan berarti kita tetap berusaha, tetapi dengan sikap hati yang percaya bahwa Tuhan memegang kendali. Kita belajar berkata: “Tuhan, aku tidak mengerti jalan-Mu, tetapi aku percaya Engkau baik.”

Martin Luther pernah berkata, “Faith is a living, daring confidence in God's grace, so sure and certain that a man could stake his life on it a thousand times.” Iman adalah keberanian untuk mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan.

Iman bukan hanya untuk hari Minggu, tetapi untuk setiap hari. Bukan hanya saat ibadah, tetapi juga saat ujian sekolah, konflik keluarga, dan kegagalan hidup.

Sobat teruna, mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang lelah. Ada yang sedang kecewa. Ada yang sedang takut menghadapi masa depan. Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan memandang Allah. Allah tidak berubah. Kasih-Nya tidak berkurang. Kuasa-Nya tidak melemah.

Habakuk mengajarkan bahwa doa bukan hanya tentang meminta, tetapi juga tentang mengingat siapa Allah itu. Saat kita berdoa, kita tidak hanya berkata, “Tuhan, tolong aku,” tetapi juga, “Tuhan, Engkau adalah Allah yang setia.” Dari situlah kekuatan kita lahir.

Sebagai teruna, kita sedang berada di masa transisi: dari remaja menuju dewasa, dari ketergantungan menuju kemandirian. Ini masa yang indah, tetapi juga penuh tantangan. Kita mudah ragu, mudah takut, dan mudah goyah.

Namun firman Tuhan hari ini berkata: jangan jadikan dunia sebagai sandaranmu. Jangan jadikan dirimu sendiri sebagai jawaban. Jadikan Allah sebagai satu-satunya jawaban.

Jika Tuhan adalah jawaban, maka kita tidak perlu putus asa. Jika Tuhan adalah jawaban, maka kita bisa melangkah dengan iman. Jika Tuhan adalah jawaban, maka kita bisa berkata seperti Habakuk di akhir kitabnya: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga… namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN” (Hab. 3:17–18).

Sobat teruna, iman bukan berarti tidak pernah takut. Iman berarti tetap melangkah walau takut. Iman bukan berarti tidak pernah jatuh. Iman berarti bangkit kembali karena percaya kepada Tuhan.

Dan iman bukan berarti selalu mengerti jalan Tuhan. Iman berarti tetap percaya walau tidak mengerti.

Kiranya dalam perayaan HUT ke-43 Pelkat Teruna GPIB ini, kita diteguhkan untuk menjadi generasi yang tidak hanya cerdas dan aktif, tetapi juga berakar dalam Tuhan.

Generasi yang tidak mudah menyerah. Generasi yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya jawaban dalam setiap persoalan hidup.

Biarlah seperti Habakuk, kita belajar berkata:
Tuhan, aku tidak selalu mengerti jalan-Mu, tetapi aku percaya kepada-Mu. Aku tidak selalu melihat solusi, tetapi aku percaya Engkau adalah jawabanku. Amin.

Doa : Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu yang menguatkan iman kami. Ajarlah kami untuk selalu bersandar kepada-Mu dan menjadikan Engkau satu-satunya jawaban dalam setiap pergumulan hidup kami. Kuatkan langkah kami sebagai teruna agar setia mengikut Engkau dan menjadi berkat bagi sesama. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB