Pembacaan Alkitab: Yeremia 32:39–40
Tema: ALLAH YANG MEMULIHKAN
“…Aku akan memberi mereka satu hati dan satu tingkah laku, sehingga mereka takut kepada-Ku sepanjang masa, demi kebaikan mereka dan anak-anak mereka yang datang kemudian. Aku akan mengikat perjanjian kekal dengan mereka, bahwa Aku tidak akan membelakangi mereka, melainkan akan berbuat baik kepada mereka; dan Aku akan menaruh takut kepada-Ku dalam hati mereka, supaya mereka tidak menyimpang dari pada-Ku.” (ay. 39–40)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Pada suatu ibadah hari Minggu, terlihat seorang jemaat tetap duduk ketika yang lain berdiri untuk mengucapkan pengakuan iman.
Ketika ditanya alasannya, ia menjawab dengan jujur dan sederhana: “Saya tidak sanggup berdiri, karena merasa hidup saya penuh dosa.” Ia juga tidak mau mengucapkan Doa Bapa Kami, sebab menurutnya, ia belum layak menyebut Allah sebagai Bapanya.
Sikap ini mungkin belum sepenuhnya benar secara teologis, tetapi perasaan tidak layak itu menunjukkan satu hal: ada hati yang terluka dan merasa jauh dari Tuhan.
Perasaan seperti ini sering kita jumpai dalam kehidupan rohani. Ada orang yang merasa terlalu berdosa untuk datang kepada Tuhan. Ada yang merasa hidupnya sudah terlalu hancur untuk dipulihkan.
Ada pula yang berpikir bahwa Tuhan sudah muak dengan kegagalannya yang berulang-ulang. Akibatnya, ia memilih menjauh dari persekutuan, menjauh dari doa, bahkan menjauh dari firman Tuhan.
Kondisi seperti inilah yang dialami bangsa Israel pada zaman Yeremia. Mereka bukan sekadar jatuh dalam satu atau dua dosa, tetapi hidup dalam ketidaktaatan yang panjang. Mereka memberontak terhadap Tuhan, menyembah berhala, melakukan ketidakadilan, dan menolak peringatan para nabi.
Akibatnya, mereka mengalami penghukuman: negeri mereka jatuh ke tangan Babel dan mereka dibuang sebagai tawanan.
Namun yang mengherankan adalah: di tengah kondisi yang sangat gelap itu, Tuhan justru menyampaikan janji pemulihan. Melalui nabi Yeremia, Tuhan berkata bahwa Ia akan memberi mereka satu hati dan satu tingkah laku.
Tuhan berjanji tidak akan membelakangi mereka, melainkan akan berbuat baik kepada mereka. Inilah berita yang luar biasa: Allah yang menghukum karena dosa adalah Allah yang sama yang memulihkan karena kasih-Nya.
Saudara-saudari, Tema firman Tuhan hari ini adalah: “Allah yang Memulihkan.” Tema ini menegaskan bahwa hubungan kita dengan Tuhan tidak berhenti pada kegagalan. Tuhan tidak pernah menyerah terhadap umat-Nya, sekalipun umat-Nya sering menyerah terhadap Tuhan.
Ketika manusia jatuh dan hancur oleh dosa, Tuhan tidak tinggal diam. Ia datang untuk memperbaiki, menyembuhkan, dan memulihkan.
Dalam Yeremia 32:39–40, kita menemukan beberapa janji penting dari Tuhan.
Pertama, Tuhan berjanji memberi satu hati dan satu tingkah laku. Ini berarti Tuhan tidak hanya memulihkan keadaan luar bangsa Israel, tetapi juga memulihkan bagian dalam mereka. Masalah utama Israel bukan hanya penjajahan Babel, tetapi hati mereka yang menyimpang dari Tuhan.
Karena itu, pemulihan sejati harus dimulai dari dalam. Tuhan berjanji akan mengubah hati mereka supaya mereka tidak lagi mendua hati, tidak lagi hidup dalam kesetiaan yang setengah-setengah, tetapi sungguh-sungguh takut akan Tuhan.
Sering kali kita ingin Tuhan memulihkan keadaan kita: memulihkan ekonomi, memulihkan kesehatan, memulihkan relasi. Itu semua penting.
Tetapi firman Tuhan mengingatkan bahwa pemulihan sejati dimulai dari hati. Kalau hati kita tidak dipulihkan, maka keadaan luar yang baik pun tidak akan membawa kita semakin dekat kepada Tuhan. Tuhan ingin memulihkan arah hidup kita, bukan hanya situasi hidup kita.
Kedua, Tuhan berjanji: “Aku tidak akan membelakangi mereka.” Ini adalah ungkapan kasih yang sangat dalam. Membelakangi berarti meninggalkan, mengabaikan, tidak peduli lagi. Tuhan mengatakan bahwa Ia tidak akan melakukan itu kepada umat-Nya.
Sekalipun mereka telah membelakangi Tuhan, Tuhan tidak membelakangi mereka. Sekalipun mereka tidak setia, Tuhan tetap setia.
Dalam pemahaman iman Israel, wajah Tuhan yang menghadap kepada umat-Nya berarti berkat, perlindungan, dan keselamatan. Sebaliknya, ketika Tuhan membelakangi seseorang, maka orang itu menjadi sasaran kuasa jahat dan kehilangan arah hidup.
Karena itu, janji Tuhan untuk tidak membelakangi umat-Nya adalah janji pemeliharaan dan keselamatan.
Ketiga, Tuhan berjanji akan berbuat baik kepada mereka. Ini bukan kebaikan yang bersyarat pada kesempurnaan manusia, melainkan kebaikan yang lahir dari kasih karunia Allah.
Tuhan tahu bahwa umat-Nya lemah, tetapi Ia tetap memilih untuk berbuat baik kepada mereka. Pemulihan yang Tuhan berikan bukan karena Israel layak, tetapi karena Tuhan setia pada perjanjian-Nya.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Kisah bangsa Israel ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Kita pun sering mengalami jatuh bangun dalam iman. Kita tahu apa yang Tuhan kehendaki, tetapi kita memilih jalan sendiri.
Kita tahu mana yang benar, tetapi kita tergoda melakukan yang salah. Kadang kita berjanji untuk berubah, tetapi tidak lama kemudian kita kembali jatuh dalam dosa yang sama.
Dalam kondisi seperti itu, sering muncul perasaan malu dan tidak layak. Kita berpikir: “Tuhan pasti sudah bosan dengan saya.” “Tuhan pasti tidak mau lagi mendengar doa saya.” “Lebih baik saya menjauh dulu sampai hidup saya beres.” Tanpa sadar, kita menjauh justru dari satu-satunya Pribadi yang sanggup memulihkan kita.
Firman Tuhan hari ini menegaskan: Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna baru mau menerima kita. Tuhan datang kepada kita justru ketika kita hancur.
Ia tidak membelakangi kita, melainkan menghadap kepada kita dengan kasih dan pengampunan. Ia tidak hanya mengampuni, tetapi juga memulihkan arah hidup kita.
Namun kita juga perlu mengingat satu hal penting: kasih Tuhan bukan alasan untuk bermain-main dengan dosa. Pemulihan bukan berarti kebebasan untuk terus hidup dalam ketidaktaatan. Tuhan memulihkan supaya kita hidup dalam takut akan Dia.
Tuhan memberi satu hati dan satu tingkah laku supaya kita tidak lagi mendua hati. Artinya, pemulihan selalu diikuti dengan pembaruan hidup.
Sering kali manusia ingin pengampunan tanpa pertobatan, ingin dipulihkan tanpa mau berubah. Tetapi firman Tuhan mengajarkan bahwa pemulihan sejati selalu membawa kita kembali kepada jalan Tuhan. Tuhan menghendaki kita hidup dekat dengan-Nya, bukan sekadar bebas dari masalah.
Saudara-saudari, Tuhan selalu bersedia menerima kita setiap saat ketika kita datang kepada-Nya. Tidak peduli seberapa jauh kita telah melangkah, jalan pulang selalu terbuka.
Tidak peduli seberapa besar kegagalan kita, kasih Tuhan selalu lebih besar. Tuhan tidak pernah menutup pintu bagi orang yang mau kembali.
Yang sering menjadi penghalang justru bukan dosa itu sendiri, tetapi keengganan kita untuk datang kepada Tuhan. Kita merasa malu, takut, dan tidak layak. Padahal Tuhan tidak meminta kita datang dengan kesempurnaan, melainkan dengan kerendahan hati.
Tuhan tidak meminta kita datang dengan hidup yang sudah rapi, melainkan dengan hati yang mau dibentuk.
Yeremia menyampaikan janji Tuhan ini di tengah situasi yang sangat sulit. Bangsa itu masih berada di bawah ancaman pembuangan. Keadaan belum berubah. Tetapi firman Tuhan sudah lebih dahulu menyatakan pemulihan.
Ini mengajarkan kepada kita bahwa harapan tidak tergantung pada situasi, tetapi pada janji Tuhan. Sekalipun keadaan belum pulih, kita boleh percaya bahwa Tuhan sedang bekerja.
Dalam hidup kita pun demikian. Mungkin saat ini kita masih bergumul dengan dosa, masalah, dan kelemahan. Mungkin keadaan belum berubah. Tetapi firman Tuhan hari ini mengajak kita percaya bahwa Allah yang memulihkan sedang bekerja di dalam hidup kita. Ia tidak membelakangi kita. Ia menghadap kepada kita dengan kasih.
Saudara-saudari yang terkasih, Marilah kita menyambut firman Tuhan ini dengan sikap yang benar.
Pertama, datanglah kepada Tuhan dengan jujur. Jangan menutup-nutupi keadaan kita. Tuhan tidak membutuhkan kepura-puraan kita, tetapi kejujuran kita.
Kedua, izinkan Tuhan mengubah hati kita. Jangan hanya meminta Tuhan mengubah keadaan, tetapi mintalah Tuhan mengubah sikap dan arah hidup kita.
Ketiga, hiduplah dalam syukur dan ketaatan. Pemulihan Tuhan adalah anugerah, tetapi anugerah itu harus dihidupi dalam ketaatan.
Allah yang kita sembah bukan Allah yang membuang orang berdosa, tetapi Allah yang memanggil orang berdosa untuk kembali. Ia bukan Allah yang senang menghukum, tetapi Allah yang rindu memulihkan.
Ia bukan Allah yang membelakangi umat-Nya, tetapi Allah yang menghadapkan wajah-Nya untuk menyelamatkan.
Kiranya firman Tuhan hari ini meneguhkan kita bahwa seberat apa pun kegagalan kita, selalu ada pengharapan di dalam Tuhan. Marilah kita hidup dalam percaya dan mengandalkan kebaikan-Nya di setiap pergumulan yang kita hadapi. Amin.
Doa : Ya Tuhan, kami bersyukur atas kasih dan pemulihan yang Engkau nyatakan melalui firman-Mu. Ampunilah kelemahan dan dosa kami, serta pulihkan hati dan hidup kami agar tetap setia kepada-Mu. Ajarlah kami selalu datang kepada-Mu dengan rendah hati dan hidup dalam ketaatan setiap hari. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.