MANADOPOST.ID - Ada masa dalam sejarah Israel ketika takhta tampak kokoh dari kejauhan, namun sesungguhnya telah retak di dalam.
Mahkota masih berada di kepala Raja Saul, istana tetap dipenuhi musik dan perayaan, tetapi Roh Tuhan tidak lagi menyertainya.
Kerajaan masih berdiri, namun arah rohaninya telah hilang.
Saul pernah menjadi harapan bangsa.
Ia diurapi dan dipilih Tuhan.
Namun perlahan, rasa takut kepada manusia menggantikan takut akan Allah.
Ia mempersembahkan korban tanpa menunggu Samuel.
Ia menyisakan apa yang seharusnya dimusnahkan demi menyenangkan rakyat.
Ketaatan yang setengah hati itu berujung pada teguran ilahi:
"Engkau telah menolak firman Tuhan, maka Tuhan pun telah menolak engkau sebagai raja."
Sejak saat itu, meskipun mahkota masih melekat, secara rohani takhta itu telah kosong.
Israel melihat seorang raja, tetapi surga telah menentukan yang lain.
Samuel berduka. Ia menangisi Saul sebagai raja dan sebagai manusia.
Namun Tuhan berkata kepadanya:
"Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Aku telah menolaknya. Isilah tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau ke Betlehem kepada Isai orang Betlehem itu. Sebab di antara anak-anaknya aku telah menyediakan seorang raja bagiku."
Baca Juga: Cerita Alkitab, Kisah Hana, Iman, dan Penyerahan
Betlehem hanyalah desa kecil. Tidak terkenal, tidak megah. Samuel pun takut:
"Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku."
Namun Tuhan memberi jalan.
Pengurapan di Betlehem
"Apakah kedatanganmu membawa damai?"
Samuel menjawab,
"Damai, aku datang untuk kembalikan korban kepada Tuhan. Kuduskanlah dirimu dan datanglah bersama aku."
Isai memanggil anak-anaknya. Eliab yang tinggi dan gagah berdiri pertama. Samuel sempat berpikir:
"Sungguh di hadapan Tuhan ada orang yang diurapinya."
Namun Tuhan berfirman:
"Jangan pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi, sebab aku telah menolaknya."
Tujuh anak lewat. Tidak ada yang dipilih. Samuel bertanya:
"Apakah semua anakmu sudah datang?"
Isai menjawab,
"Masih tinggal yang bungsu, tetapi ia sedang menggembalakan domba."
Samuel berkata tegas:
"Suruhlah orang memanggilnya, sebab kita tidak akan duduk sebelum ia datang."
Anak itu datang—Daud. Seorang gembala dengan hati yang dikenali surga.
Dan Tuhan berkata:
"Bangkitlah. Urapilah dia sebab inilah dia."
Sejak hari itu Roh Tuhan berkuasa atas Daud.
Lembah Elah dan Raksasa Filistin
"Pilihlah seorang dari antara kamu untuk melawan Aku. Jika ia sanggup mengalahkan aku, kami akan menjadi hamba tetapi jika Aku mengalahkannya, kamulah yang akan menjadi hamba kami."
Ketakutan melumpuhkan Israel.
Daud datang membawa bekal, bukan pedang. Mendengar ejekan itu ia berkata:
"Siapakah orang yang tak bersunat ini?"
Di hadapan Saul ia menyatakan:
"Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia. Kamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu."
Dan dengan iman ia berseru:
"Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah barisan Israel yang kau cela."
"Hari ini Tuhan akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku supaya seluruh bumi tahu bahwa Israel mempunyai Allah."
Satu batu meluncur. Goliat jatuh. Israel bersorak.
Persahabatan dan Kecemburuan
Namun lagu rakyat memicu kecemburuan Saul:
"Saul mengalahkan beribu-ribu, tetapi Daud berlaksa-laksa."
Saul melempar tombak. Daud menghindar. Pengejaran dimulai.
Yonatan membela sahabatnya:
"Bukankah Daud telah setia kepadamu ia mempertaruhkan nyawanya demi Israel? Mengapa engkau hendak berdosa? dengan membunuh orang yang tidak bersalah."
Saul sempat berkata:"Demi Tuhan yang hidup,"
Namun kecemburuan kembali membara.
Gua-Gua dan Pembentukan Hati
Daud menjadi buronan. Di gua Adulam ia menangis, menulis mazmur, dan memimpin orang-orang terbuang.Di sebuah gua ia berkesempatan membunuh Saul. Namun ia berkata:
"Jangan aku mengulurkan tanganku kepada orang yang diurapi Tuhan."
Ia memilih menunggu waktu Tuhan.
Dosa dan Pertobatan
"Engkaulah orang itu."
Daud menjawab:
"Aku telah berdosa kepada Tuhan."
Anak itu mati. Daud berkata:
"Aku akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku."
Dari kedalaman itu lahir doa pertobatan:
"Kasihanilah aku ya Tuhan menurut kasih setiu."
Baca Juga: Cerita Alkitab, Kisah Hadasa yang Menjadi Ratu Ester
Pemberontakan Absalom
Tentang anaknya ia berkata:
"Perlakukanlah Absalom dengan lunak demi aku."
Namun Absalom mati. Dan Daud meratap:
"Anakku Absalom, anakku, anakku, sekiranya aku mati menggantikan engkau."
Perjanjian dan Warisan
"Engkaukah yang akan membangun rumah bagiku?"
Sebaliknya, Tuhan memberi janji kekal.
Di masa tua ia berkata kepada Salomo:
"Berpeganglah pada Tuhan Allahmu."
Dan menjelang akhir hidupnya:
"Aku akan menempuh jalan semua orang di bumi."
Akhir Perjalanan
Daud wafat setelah memerintah 40 tahun—7 tahun di Hebron dan 33 tahun di Yerusalem.
Ia bukan raja tanpa cela. Ia jatuh, ia gagal, ia berdosa.
Namun ia selalu kembali.
Ia dikenal sebagai raja berhati Allah, bukan karena ia sempurna, tetapi karena hatinya mau dibentuk.
Kisahnya mengajarkan satu kebenaran abadi: Tuhan tidak mencari manusia yang tanpa dosa.
Ia mencari hati yang mau bertobat.
Dan Daud beristirahat—bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia percaya kepada Tuhan yang sempurna. (FTHI YTB)