Pembacaan Alkitab: Kolose 1:27–29
Tema: HIKMAT KRISTUS YANG MEMIMPIN
“Dialah yang kami beritakan bilamana tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus” (ay. 28).
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Cara untuk melestarikan alam dan menjaga lingkungan sering kali tidak populer. Misalnya: memilah sampah, menolak kemasan plastik sekali pakai, membawa botol minum sendiri, atau memilih berjalan kaki daripada naik kendaraan.
Hal-hal ini tampak sepele, tetapi justru sering membuat kita terlihat “berbeda” dibandingkan kebiasaan banyak orang. Bahkan kadang kita dicemooh: dianggap ribet, sok peduli, atau terlalu idealis.
Namun, hidup benar memang sering berarti hidup berbeda. Hidup dalam terang Kristus tidak selalu sejalan dengan arus dunia. Rasul Paulus sangat memahami hal ini. Ia tahu bahwa mengikut dan melayani Kristus bukanlah jalan yang mulus. Ia mengalami penderitaan, penolakan, bahkan pemenjaraan. Tetapi Paulus tetap maju dan tidak menyerah, karena ia memiliki keyakinan yang kuat: “Kristus ada di dalam kamu, pengharapan akan kemuliaan” (ay. 27).
Inilah dasar iman kita: bukan kekuatan kita yang membuat kita bertahan, melainkan Kristus yang hidup di dalam kita. Hikmat Kristus tidak hanya memberi kita pengertian, tetapi juga memimpin langkah kita dan memberi kekuatan untuk terus berjalan setia, bahkan dalam hal-hal yang tampaknya kecil dan tidak penting.
Paulus berkata bahwa ia memberitakan Kristus dengan menasihati dan mengajar setiap orang “dalam segala hikmat”. Tujuannya jelas: “memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” Kesempurnaan di sini bukan berarti tanpa cacat atau tanpa salah, tetapi hidup yang semakin serupa dengan Kristus—dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak.
Hikmat Kristus bukan sekadar pengetahuan di kepala, tetapi tuntunan hidup sehari-hari. Hikmat itu membentuk cara kita memperlakukan sesama dan juga cara kita memperlakukan alam ciptaan Tuhan. Jika Kristus sungguh hidup di dalam kita, maka seluruh hidup kita—termasuk kebiasaan kecil—akan diarahkan oleh kasih dan tanggung jawab.
Saudara-saudari, Ketika kita memilih hidup lebih ramah lingkungan—misalnya menanam sendiri, memilah sampah, membawa wadah makan, atau mengurangi plastik—itu bisa saja terlihat aneh atau berlebihan.
Dunia mungkin berkata: “Apa gunanya? Toh satu orang tidak mengubah apa-apa.” Namun firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita tidak berjalan sendiri. Kuasa Kristus bekerja di dalam diri kita memberi ketekunan.
Kita melangkah bukan karena ingin dipuji, tetapi karena dipimpin oleh Kristus yang hidup di dalam kita.
Paulus sendiri memberi teladan tentang perjuangan yang tidak terlihat besar, tetapi setia. Ia berkata, “Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga menurut kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku” (ay. 29).
Perjuangan Paulus bukan hanya berkhotbah di depan banyak orang, tetapi juga bertahan dalam penderitaan, tetap mengasihi jemaat, dan terus mengajar meski hasilnya tidak selalu langsung terlihat.
Demikian juga dengan kita. Kesetiaan dalam hal-hal kecil adalah bagian dari kesaksian iman. Ia tidak selalu spektakuler, tidak selalu disorot, tidak selalu dihargai.
Tetapi di situlah iman diuji: apakah kita tetap setia walau tidak ada yang memuji? Apakah kita tetap peduli walau tidak ada yang memperhatikan?
Setiap tindakan menjaga dan merawat ciptaan adalah bentuk pengharapan. Kita percaya bahwa dunia ini bukan milik manusia semata, tetapi milik Allah. Kita percaya bahwa ciptaan Tuhan sedang menantikan pemulihan.
Maka, ketika kita merawat bumi, kita sedang mengambil bagian dalam karya Allah yang memulihkan dunia. Ini bukan sekadar gerakan sosial atau tren lingkungan, melainkan ekspresi iman yang dijiwai oleh hikmat Kristus.
Hikmat Kristus mengajar kita melihat lebih jauh daripada kepentingan sesaat. Dunia sering mengajarkan kenyamanan: pakai sekali buang, cepat dan praktis. Hikmat Kristus mengajarkan tanggung jawab: pikirkan dampaknya, pikirkan generasi berikutnya, pikirkan ciptaan yang rusak karena keserakahan manusia. Hikmat dunia berkata: “Yang penting aku nyaman.” Hikmat Kristus berkata: “Yang penting aku setia.”
Saudara-saudari, Kristus yang tinggal di dalam kita adalah pengharapan akan kemuliaan. Itu berarti hidup kita diarahkan pada masa depan Allah, bukan hanya pada hari ini. Kita hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk menyatakan kemuliaan Allah melalui cara hidup kita.
Maka, pilihan-pilihan kecil—seperti mengurangi sampah, merawat tanaman, tidak boros sumber daya—menjadi bagian dari kesaksian bahwa kita percaya pada masa depan yang Allah janjikan.
Mungkin kita bertanya: apakah tindakan kecil ini sungguh berarti? Firman Tuhan menjawab: ya. Dalam hikmat-Nya, Allah sering bekerja melalui hal-hal kecil. Lima roti dan dua ikan tampak tidak berarti, tetapi di tangan Yesus menjadi berkat bagi ribuan orang.
Air biasa di Kana menjadi anggur yang baik. Demikian juga langkah kecil kita, bila dilakukan dalam ketaatan, dipakai Tuhan untuk tujuan yang lebih besar.
Kesetiaan dalam hal kecil adalah latihan rohani. Ia melatih kita untuk tidak hanya taat dalam perkara besar, tetapi juga dalam kebiasaan sehari-hari. Ia melatih kita untuk mengasihi bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan nyata.
Ia melatih kita untuk percaya bahwa Kristus sungguh memimpin hidup kita, bukan hanya di gereja, tetapi juga di rumah, di pasar, di jalan, dan di tempat kerja.
Sebelum tidur malam ini, berhentilah sejenak. Lihat kembali hari yang sudah kita jalani. Bersyukurlah bukan karena kita kuat, tetapi karena Kristus memimpin dan menopang. Bila hari ini kita gagal, mari kita datang kepada-Nya. Bila hari ini kita setia dalam hal kecil, mari kita ucapkan syukur.
Esok hari, teruskan langkah kecilmu dalam terang hikmat-Nya yang tak terbatas. Jangan tunggu kesempatan besar untuk taat. Mulailah dari yang sederhana: dari kebiasaan membuang sampah, dari cara kita memakai air, dari cara kita memperlakukan lingkungan sekitar. Karena dari ketekunan kecil itu, kita sedang mengerjakan karya besar Allah untuk pemulihan ciptaan.
Jangan remehkan satu langkah kecilmu. Jangan remehkan satu keputusan baik yang kau ambil. Sebab dalam hikmat-Nya, Kristus bekerja melalui mereka yang setia, bahkan dalam hal-hal yang tampaknya paling sederhana.
Kristus di dalam kita adalah pengharapan akan kemuliaan. Hikmat-Nya memimpin langkah kita. Dan melalui hidup yang setia, dunia dapat melihat tanda-tanda pemulihan yang Allah sedang kerjakan.
Kiranya hikmat Kristus terus memimpin kita, bukan hanya dalam kata, tetapi dalam perbuatan. Kiranya hidup kita menjadi kesaksian bahwa Kristus sungguh hidup di dalam kita dan sedang membarui dunia ini melalui kasih dan kesetiaan umat-Nya. Amin.
Doa : Ya Tuhan, kami bersyukur karena Kristus hidup di dalam kami dan memimpin langkah kami. Ajarlah kami setia dalam hal-hal kecil, merawat ciptaan-Mu dengan hikmat dan kasih. Kuatkan kami untuk berjalan berbeda demi kebenaran-Mu, dan pakailah hidup kami sebagai tanda pengharapan bagi dunia. Biarlah setiap pilihan sederhana kami memuliakan Engkau dan membawa berkat bagi sesama. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin