Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Pemuda, GPIB, Minggu, 22 Februari 2026, Mazmur 8:1-5 Kagum Atas Karya Agung-Nya

Alfianne Lumantow • Minggu, 22 Februari 2026 | 10:51 WIB

Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab: Mazmur 8:1–5
Tema: KAGUM ATAS KARYA AGUNG-NYA

“Jadilah pengagum setia ciptaan Tuhan, dan biarkan hati kita dipenuhi dengan rasa syukur atas segala karunia-Nya.”

“Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.” (Mazmur 8:2)

Sobat muda yang dikasihi Tuhan, pernahkah kalian berhenti sejenak di malam hari lalu menatap langit? Melihat bulan yang bersinar, bintang-bintang yang bertaburan, dan awan yang perlahan bergerak?

Atau saat pagi hari menikmati matahari terbit dengan warna jingga yang indah? Kadang kita melihat semua itu setiap hari, tetapi jarang benar-benar mengaguminya.

Kita terlalu sibuk dengan layar ponsel, tugas sekolah, pekerjaan, dan media sosial, sehingga lupa memperhatikan karya Tuhan yang begitu agung di sekitar kita.

Ada sebuah kutipan terkenal dari Oprah Winfrey yang berkata, “Semakin sering Anda bersyukur dan merayakan hidup Anda, semakin banyak hal yang bisa Anda syukuri dalam hidup.”

Pertanyaannya, sobat muda: pernahkah kita sungguh-sungguh bersyukur? Apa yang biasanya membuat kita bersyukur kepada Allah? Prestasi? Kelulusan? Pekerjaan? Kesembuhan?


Sebagian besar rasa syukur kita muncul saat kita berhasil atau menerima sesuatu yang menyenangkan. Namun, pernahkah rasa syukur kita lahir dari kekaguman terhadap karya Allah melalui alam ciptaan-Nya?

Mazmur 8 adalah mazmur yang lahir dari kekaguman. Pemazmur tidak sedang membahas penderitaan, tidak sedang mengeluh, tetapi sedang terpukau oleh karya Allah.

Ia memandang langit, bulan, dan bintang, lalu hatinya dipenuhi rasa kagum. Dari kekaguman itu lahirlah pujian: “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!”

Artinya, kemuliaan Tuhan tidak hanya tampak di surga, tetapi juga nyata di bumi, di dalam ciptaan-Nya. Langit bukan sekadar ruang kosong, melainkan panggung yang menampilkan kebesaran Allah. Alam semesta menjadi “nyanyian tanpa suara” yang terus-menerus memuliakan Tuhan.

Sobat muda, pemazmur menyadari bahwa Tuhan bekerja dalam dua cara: Pertama, melalui kehadiran-Nya dalam kehidupan manusia. Kedua, melalui keajaiban kosmik di alam semesta.

Ketika pemazmur memandang langit, ia tidak hanya melihat benda-benda astronomi, tetapi ia melihat tanda tangan Allah. Ia melihat bukti bahwa Tuhan itu besar, kreatif, dan penuh kuasa. Kekaguman itu membuatnya bertanya: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?”
“Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?”

Di sinilah keindahan Mazmur 8. Di tengah kebesaran alam semesta, manusia justru tampak kecil. Kita bukan pusat alam semesta. Kita bukan penguasa mutlak. Kita hanyalah bagian kecil dari ciptaan Tuhan. Namun justru di situlah keajaibannya: Allah yang Mahabesar itu peduli kepada manusia yang kecil ini.

Sobat muda, ini adalah pelajaran penting bagi kita. Dunia hari ini sering mengajarkan dua hal yang ekstrem: Ada yang berkata, “Manusia itu segalanya.” Ada juga yang berkata, “Manusia itu tidak ada artinya.”

Mazmur 8 menunjukkan jalan tengah yang benar: Manusia bukan segalanya, karena Allah jauh lebih besar. Tetapi manusia juga tidak tidak berarti, karena Allah menciptakan manusia segambar dan serupa dengan-Nya.

Pemazmur berkata bahwa manusia dibuat “hampir sama seperti Allah” dan dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Artinya, setiap manusia memiliki nilai. Bukan karena kekayaan, bukan karena kepintaran, bukan karena popularitas, tetapi karena ia adalah ciptaan Allah.

Sobat muda, di zaman media sosial, banyak orang mengukur nilai diri dari jumlah like, jumlah follower, atau komentar orang. Jika dipuji, kita merasa berharga. Jika dikritik, kita merasa tidak berguna. Tetapi Mazmur 8 mengingatkan kita bahwa nilai kita tidak ditentukan oleh manusia, melainkan oleh Allah.

Engkau berharga karena Tuhan menciptakanmu. Engkau bermakna karena Tuhan mempercayakan tugas kepadamu. Engkau penting karena Tuhan mengasihimu.

Lalu, tugas apakah yang Tuhan berikan kepada manusia? Pemazmur berkata bahwa manusia diberi kuasa untuk memerintah atas ciptaan Tuhan: binatang, tumbuhan, dan seluruh alam. Ini bukan berarti manusia bebas merusak alam, melainkan manusia dipanggil menjadi mitra Allah dalam memelihara ciptaan-Nya.

Sobat muda, inilah poin penting: kekaguman kepada Tuhan harus menghasilkan tanggung jawab kepada ciptaan.

Jika kita sungguh kagum pada karya Tuhan, maka kita tidak akan sembarangan merusaknya. Jika kita sungguh mengasihi Tuhan, maka kita akan menjaga apa yang Ia ciptakan. Kekaguman tanpa tanggung jawab hanyalah emosi sesaat. Tetapi kekaguman yang sejati akan melahirkan sikap hidup yang peduli.

Hari ini kita melihat banyak kerusakan lingkungan: hutan gundul, sungai tercemar, laut penuh sampah, udara kotor. Itu bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah rohani. Itu menunjukkan bahwa manusia lupa bahwa alam adalah ciptaan Tuhan, bukan sekadar sumber keuntungan.

Mazmur 8 mengajak kita untuk kembali kagum. Kagum bukan hanya karena alam itu indah, tetapi karena alam itu adalah karya Tuhan. Saat kita kagum, kita akan bersyukur. Saat kita bersyukur, kita akan lebih berhati-hati dalam bertindak.

Sobat muda, kekaguman juga mengajar kita kerendahan hati. Ketika kita melihat luasnya langit dan bintang, kita sadar bahwa kita bukan pusat segalanya. Kita belajar untuk tidak sombong. Kita belajar bahwa hidup ini bukan hanya tentang ambisi pribadi, tetapi tentang bagaimana kita hidup sesuai kehendak Sang Pencipta.

Pemazmur tidak berhenti pada pujian, tetapi mengajak kita merenung: Tuhan yang Mahabesar itu mau mempercayakan ciptaan-Nya kepada manusia yang kecil.
Ini menunjukkan bahwa Allah bukan hanya berkuasa, tetapi juga penuh kasih dan kepercayaan.

Sobat muda, hidup yang kagum pada Tuhan adalah hidup yang tidak mudah mengeluh. Orang yang kagum pada karya Tuhan akan lebih mudah melihat hal-hal baik di sekitarnya. Ia tidak hanya fokus pada kekurangan, tetapi juga pada anugerah. Ia tidak hanya melihat masalah, tetapi juga melihat keindahan.

Kekaguman juga menolong kita untuk tidak kehilangan iman. Ketika hidup terasa berat, ketika doa belum dijawab, kita bisa kembali menatap karya Tuhan: langit, bumi, alam, dan hidup kita sendiri. Dari sana kita diingatkan bahwa Tuhan yang menciptakan alam semesta juga sanggup memegang hidup kita.

Maka, sobat muda, Mazmur 8 mengajarkan dua hal utama:
1. Allah Maha Agung dan berdaulat atas seluruh ciptaan.
2. Manusia memiliki nilai dan tanggung jawab di tengah ciptaan itu.

Kekaguman kita kepada Tuhan harus terlihat dalam tiga hal:
Pertama, dalam pujian. Kita memuliakan Tuhan lewat doa, nyanyian, dan hidup kita.

Kedua, dalam rasa syukur. Kita belajar bersyukur bukan hanya saat berhasil, tetapi juga saat melihat karya Tuhan di sekitar kita.

Ketiga, dalam tanggung jawab. Kita menjaga alam, menghargai sesama, dan hidup sesuai kehendak Tuhan.

Sobat muda, hari ini kita diajak menjadi generasi yang bukan hanya pintar, tetapi juga peka. Bukan hanya kuat, tetapi juga peduli. Bukan hanya menikmati ciptaan, tetapi juga merawatnya.

Mari kita belajar kagum lagi: Kagum pada langit yang Tuhan bentangkan. Kagum pada hidup yang Tuhan anugerahkan. Kagum pada kasih Tuhan yang tidak pernah habis.

Dan dari kekaguman itu, biarlah lahir rasa syukur yang nyata dalam sikap hidup kita. Kita menjaga lingkungan, menghormati sesama, dan hidup rendah hati di hadapan Tuhan.

Kiranya kita menjadi pemuda-pemudi yang tidak kehilangan rasa kagum kepada Tuhan. Sebab orang yang masih bisa kagum, adalah orang yang masih bisa bersyukur. Dan orang yang bisa bersyukur, adalah orang yang imannya masih hidup. Amin.

Doa : Ya Tuhan yang Mahabesar, kami bersyukur atas karya agung-Mu yang kami lihat di langit dan bumi. Ajarlah kami hidup sebagai pemuda yang kagum, rendah hati, dan bertanggung jawab menjaga ciptaan-Mu. Penuhi hati kami dengan syukur, dan pakailah hidup kami memuliakan nama-Mu setiap hari. Biarlah iman kami bertumbuh dan kasih kami nyata bagi sesama serta alam sekitar di hidup ini. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB