Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Selasa 3 Maret 2026, Bacaan I Yesaya 1:10,16-20, Bacaan Injil Matius 23:1-12

Fandy Gerungan • Jumat, 27 Februari 2026 | 10:35 WIB

Photo
Photo

Pekan Prapaskah II (Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Yesaya 1:10,16-20

Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora!

Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!

Marilah, baiklah kita berperkara! firman TUHAN?Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.

Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu.

Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang.” Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

Mzm. 50:8-9,16bc-17,21,23

Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku? Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu,

Tetapi kepada orang fasik Allah berfirman: “Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku?

Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri; engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau. Aku akan menghukum engkau dan membawa perkara ini ke hadapanmu.

Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya.”

Bacaan Injil Matius 23:1-12

Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.

Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.

Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.

Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.

Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.

Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i sering kali manusia merasa sudah dekat dengan Tuhan hanya karena rajin menjalankan ritual, aktif dalam kegiatan keagamaan, atau memegang peran tertentu dalam komunitas iman.

Namun bacaan hari ini mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur: apakah hidup kita sungguh mencerminkan hati yang diperbarui, atau hanya tampilan luar yang tampak saleh?

Melalui nabi, Tuhan menegur umat yang merasa benar, tetapi hidupnya jauh dari nilai kebaikan. Ibadah dan kata-kata rohani ternyata kehilangan makna ketika keadilan diabaikan, ketika yang lemah tidak dibela, dan ketika kejahatan dibiarkan terus berlangsung.

Tuhan menghendaki pertobatan yang nyata, bukan sekadar penyesalan di bibir, melainkan perubahan arah hidup. Ia menawarkan pemulihan yang radikal: hidup yang kotor dapat dipulihkan, masa lalu yang kelam dapat diperbarui, asalkan ada kerendahan hati untuk mendengar dan kehendak untuk berubah.

Dalam Injil, Yesus melanjutkan pesan yang sama dengan cara yang sangat tegas. Ia menyingkap bahaya iman yang berhenti pada pengajaran, tetapi tidak menjelma menjadi teladan hidup. Pengetahuan agama, jabatan rohani, dan penghormatan dari sesama bisa menjadi jebakan ketika semuanya dipakai untuk meninggikan diri.

Yesus tidak menolak aturan atau pengajaran, tetapi Ia menolak kemunafikan ketika kata-kata tidak sejalan dengan perbuatan, dan ketika orang lain dibebani tuntutan yang tidak pernah mau dipikul sendiri.

Yesus lalu membalik cara pandang dunia tentang kebesaran. Dalam Kerajaan Allah, yang terbesar bukanlah yang paling dihormati, melainkan yang paling mau melayani. Bukan yang paling tinggi posisinya, tetapi yang paling rendah hatinya.

Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri secara palsu, melainkan kesediaan untuk tidak menjadikan diri pusat segalanya, dan membiarkan Tuhan bekerja melalui kesederhanaan hidup kita.

Renungan ini mengajak kita bercermin. Apakah iman kita sudah membersihkan cara kita bersikap?.

Apakah doa dan pelayanan kita membuat kita semakin peka terhadap keadilan, semakin peduli pada yang kecil dan tersisih?. Atau jangan-jangan kita lebih sibuk menjaga citra rohani daripada membiarkan Tuhan mengubah hati?.

Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk datang dengan jujur apa adanya. Ia tidak menuntut kesempurnaan, tetapi hati yang mau dibentuk. Ia tidak mencari penampilan yang mengesankan, melainkan hidup yang setia.

Ketika kita mau merendahkan diri, belajar berbuat baik, dan melayani dengan tulus, di situlah iman menjadi hidup, dan di situlah Tuhan dimuliakan. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan