Pembacaan Alkitab: Markus 12:10–11
Tema: “PERBUATAN AJAIB TUHAN”
“Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru; hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan yang ajaib di mata kita.” (ayat 10–11)
Saudara-saudari muda yang terkasih dalam Tuhan, Siapa di antara kita yang tidak ingin hidupnya berarti? Siapa yang tidak ingin diterima, dihargai, dan diakui? Sejak kecil sampai dewasa, manusia selalu rindu diakui: di rumah ingin diterima keluarga, di sekolah ingin diakui teman dan guru, di lingkungan sosial ingin dianggap penting, bahkan di gereja ingin dihargai pelayanannya.
Namun realitasnya, hidup sering tidak seindah yang kita harapkan. Ada kalanya kita justru mengalami penolakan, direndahkan, diremehkan, bahkan disingkirkan.
Kita mengenal kisah seorang tokoh dunia bernama Thomas Alva Edison. Ia dikenal sebagai penemu lampu pijar yang mengubah peradaban manusia. Namun sebelum dikenal sebagai ilmuwan besar, Edison adalah seorang anak yang dianggap bodoh oleh gurunya.
Ia dikeluarkan dari sekolah karena dianggap tidak mampu mengikuti pelajaran. Dalam perjalanan hidupnya, ia mengalami kegagalan berkali-kali—lebih dari seribu kali eksperimen gagal sebelum akhirnya berhasil menemukan bola lampu.
Banyak orang menertawakannya. Banyak yang menganggapnya tidak berguna. Tetapi justru dari orang yang “dibuang” itulah lahir penemuan besar yang menerangi dunia. Kisah Edison menolong kita memahami satu kebenaran: kegagalan dan penolakan tidak selalu berarti akhir. Kadang justru itu menjadi pintu menuju karya besar.
Pertanyaannya bagi kita: Apakah kita pernah mengalami seperti Edison? Pernah merasa tidak dianggap? Pernah diremehkan karena kemampuan kita? Pernah ditolak dalam pergaulan?
Pernah merasa tidak penting?
Firman Tuhan hari ini berbicara tentang hal yang sama, tetapi dalam makna yang jauh lebih dalam dan rohani. Yesus berkata: “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.”
Yesus mengutip ayat ini untuk menjelaskan siapa diri-Nya dan apa yang akan terjadi pada-Nya. Batu yang dibuang itu melambangkan diri-Nya sendiri. Tukang-tukang bangunan melambangkan para pemimpin agama Yahudi.
Mereka menilai Yesus tidak layak: ajaran-Nya dianggap berbahaya, kehadiran-Nya dianggap mengancam kekuasaan mereka. Maka mereka menolak Yesus, bahkan merencanakan kematian-Nya.
Namun Allah mempunyai rencana yang berbeda. Yesus yang dibuang justru dijadikan batu penjuru. Yang ditolak justru dijadikan dasar keselamatan. Yang dianggap gagal justru menjadi pusat kehidupan manusia.
Di sinilah kita melihat “perbuatan ajaib Tuhan”. Tuhan sanggup membalikkan keadaan. Apa yang dianggap tidak berguna oleh manusia, dipakai Tuhan untuk sesuatu yang besar. Apa yang diremehkan dunia, ditinggikan oleh Allah.
Bagi pemuda, pesan ini sangat penting. Masa muda adalah masa pencarian jati diri. Banyak pemuda bergumul dengan pertanyaan: “Siapa aku?” “Apakah aku berharga?” “Apakah hidupku berarti?”
Ketika kita gagal ujian, kita merasa tidak pintar. Ketika kita ditolak dalam pergaulan, kita merasa tidak layak. Ketika kita tidak dipilih dalam pelayanan, kita merasa tidak berguna.
Ketika kita tidak sepintar orang lain, tidak sekaya orang lain, tidak sepopuler orang lain, kita mulai membandingkan diri dan merasa rendah diri.
Firman Tuhan hari ini berkata: jangan ukur nilai dirimu dari penilaian manusia. Manusia melihat penampilan luar. Manusia melihat prestasi. Manusia melihat hasil. Tetapi Tuhan melihat hati dan potensi yang Ia tanamkan.
Yesus sendiri adalah contoh terbesar. Ia ditolak oleh bangsanya sendiri. Ia tidak lahir di istana, tetapi di kandang. Ia tidak memiliki jabatan politik. Ia tidak punya tentara. Ia tidak kaya secara materi. Ia bahkan disalibkan seperti penjahat. Di mata dunia, hidup Yesus tampak gagal. Tetapi di mata Allah, justru di situlah keselamatan dunia dikerjakan.
“Batu yang dibuang telah menjadi batu penjuru.” Artinya: yang tidak dianggap penting justru menjadi yang paling penting.
Ini juga bisa terjadi dalam hidup kita.
Mungkin hari ini kita merasa:
– Tidak sepintar teman-teman.
– Tidak seberbakat orang lain.
– Tidak sehebat orang lain.
– Tidak sepenting orang lain.
Tetapi Tuhan bisa memakai hidup kita untuk sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan.
Yang penting bukan bagaimana orang melihat kita, tetapi bagaimana kita menyerahkan diri kepada Tuhan.
Sering kali penolakan membuat pemuda kecewa dan putus asa. Ada yang menjadi marah kepada dunia. Ada yang menjadi minder dan menarik diri. Ada yang mencari pelarian dalam pergaulan bebas, alkohol, atau dosa lainnya. Ada juga yang berhenti berharap karena merasa hidupnya tidak akan berubah.
Tetapi firman Tuhan mengajak kita melihat dari sudut pandang iman: penolakan bukan akhir, melainkan bisa menjadi proses. Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan penderitaan orang yang percaya kepada-Nya.
Yesus tidak menghindari penolakan. Ia tidak lari dari salib. Ia taat sampai mati. Dari ketaatan itulah lahir keselamatan. Dari salib lahir kebangkitan. Dari kematian lahir hidup baru.
Ini juga menjadi pelajaran bagi kita: jangan menyerah ketika hidup terasa berat. Jangan berhenti berharap ketika ditolak. Jangan berhenti berbuat baik ketika diremehkan.
Tema kita hari ini adalah: Perbuatan Ajaib Tuhan.
Perbuatan ajaib Tuhan bukan hanya terjadi di Alkitab, tetapi juga bisa terjadi dalam hidup kita.
Tuhan sanggup mengubah:
– Luka menjadi kesaksian.
– Kegagalan menjadi pelajaran.
– Penolakan menjadi jalan berkat.
– Air mata menjadi sukacita.
Namun satu hal penting: kita tidak boleh berhenti di rasa sakit. Kita harus terus berjalan bersama Tuhan. Kita harus terus percaya bahwa hidup kita ada dalam tangan-Nya.
Yesus berkata bahwa batu penjuru itu dijadikan oleh Tuhan, bukan oleh manusia. Artinya: nilai hidup kita tidak ditentukan oleh komentar orang, melainkan oleh keputusan Allah.
Pemuda sering terjebak pada “standar dunia”:
Harus terkenal.
Harus sukses cepat.
Harus punya banyak pengikut.
Harus kelihatan hebat.
Tetapi Tuhan punya standar lain:
Setia.
Rendah hati.
Mau dibentuk.
Mau taat.
Mungkin kita belum berhasil hari ini.
Mungkin kita masih jatuh bangun.
Mungkin kita masih belajar.
Itu bukan masalah bagi Tuhan. Yang Tuhan lihat adalah apakah kita mau dibentuk.
Yesus yang ditolak tidak membalas dengan kebencian. Ia tidak menyerah pada keputusasaan. Ia tetap mengasihi. Ia tetap melayani. Ia tetap melakukan kehendak Bapa.
Inilah teladan bagi pemuda Kristen:
Ketika ditolak → tetap mengasihi.
Ketika diremehkan → tetap berbuat baik.
Ketika gagal → tetap bangkit.
Ketika jatuh → tetap datang kepada Tuhan.
Perbuatan ajaib Tuhan sering kali tidak instan.
Ia bekerja lewat proses.
Ia bekerja lewat waktu.
Ia bekerja lewat kesetiaan.
Edison tidak berhasil dalam satu hari. Yesus tidak dimuliakan tanpa salib. Kita pun tidak dibentuk tanpa proses.
Pertanyaannya sekarang:
Apa yang sedang kita alami hari ini? Apakah kita sedang merasa dibuang? Apakah kita sedang merasa gagal? Apakah kita sedang merasa tidak berguna?
Firman Tuhan berkata: “Batu yang dibuang… telah menjadi batu penjuru.” Artinya: Tuhan belum selesai dengan hidup kita.
Jangan menyerah pada masa lalu. Jangan terikat pada kegagalan. Jangan hidup dalam luka.
Serahkan semuanya kepada Tuhan.
Tuhan sanggup menjadikan hidup kita berarti, bukan karena kita hebat, tetapi karena Ia ajaib.
Bukan karena kita kuat, tetapi karena Ia berkuasa. Bukan karena kita layak, tetapi karena Ia mengasihi.
Akhirnya, bagi kita semua sebagai pemuda: Teruslah maju. Teruslah belajar. Teruslah melayani. Teruslah berharap.
Walau hari ini engkau merasa seperti “batu yang dibuang”, percayalah: di tangan Tuhan, engkau bisa menjadi “batu penjuru”. Bukan untuk kemuliaan diri sendiri, tetapi untuk kemuliaan Tuhan.
Kiranya firman Tuhan hari ini menguatkan setiap pemuda yang lelah, menghibur yang terluka, dan meneguhkan yang hampir menyerah. Sebab Tuhan kita adalah Tuhan yang sanggup melakukan perbuatan ajaib dalam hidup siapa pun yang mau percaya kepada-Nya. Amin.
Doa : Tuhan yang ajaib, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Saat kami merasa ditolak dan diremehkan, ajari kami tetap percaya pada rencana-Mu. Bentuklah hidup kami menjadi alat kemuliaan-Mu, seperti batu yang Kau jadikan penjuru. Kuatkan iman kami untuk terus maju, berbuat baik, dan setia mengikuti kehendak-Mu setiap hari. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Clavel Lukas