Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Cerita Alkitab,Kisah Hancurnya Kota Sodom dan Gomora, Kisah Penghakiman Tuhan

Deiby Rotinsulu • Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54 WIB

Ilustrasi (YTB)
Ilustrasi (YTB)

MANADOPOST.ID - Di sebuah lembah yang subur di dekat Laut Asin berdirilah dua kota yang sangat terkenal karena kemakmurannya: Sodom dan Gomora.

Kota-kota ini tampak seperti permata yang bersinar di tengah hamparan padang gurun.

Sungai-sungai mengalir jernih, ladang-ladang menghasilkan panen melimpah, dan pasar mereka dipenuhi barang-barang berharga seperti kain ungu, rempah-rempah langka, serta emas dari negeri yang jauh.

Orang-orang dari berbagai bangsa datang untuk berdagang, menetap, dan mencari kehidupan yang lebih baik di sana.

Namun kemakmuran yang mereka nikmati perlahan mengubah hati mereka. Kekayaan membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan siapa pun, bahkan Tuhan.

Anak-anak tumbuh dalam kemewahan tanpa bimbingan rohani. Para pemimpin kota tenggelam dalam pesta dan kesenangan.

Generasi muda mengejar kebebasan tanpa batas. Ketika orang miskin datang memohon bantuan, mereka tidak disambut dengan belas kasihan, melainkan dengan ejekan.

Sodom bukan hanya kota kaya; kota itu telah kehilangan kepekaan terhadap kebenaran.

Di setiap sudut kota, kejahatan menjadi pemandangan biasa.

Pergaulan bebas, kekerasan, pencurian, serta penghinaan terhadap Tuhan dianggap hal yang wajar.

Tidak ada lagi rasa malu. Perbuatan yang dahulu dianggap najis kini justru dirayakan dalam berbagai perayaan.

Orang asing yang datang tidak disambut dengan keramahan, tetapi dengan niat jahat untuk mencemari mereka.

Anak-anak yang bermain di jalan meniru perilaku buruk orang dewasa.

Mereka diajarkan bahwa tubuh hanyalah alat hiburan, bukan karunia suci.

Tidak ada nabi yang didengarkan. Setiap suara yang menegur dianggap sebagai ancaman bagi masyarakat.

Beberapa mil dari kota itu, Abraham tinggal bersama istrinya Sarah di dalam kemah.

Pada suatu siang yang sangat panas, Abraham duduk di pintu kemahnya.

Dari kejauhan ia melihat tiga orang pria berjalan mendekat.

Ia segera bangkit dan berlari menyambut mereka. Dengan penuh hormat ia membasuh kaki mereka dan menyediakan makanan bagi mereka.

Baca Juga: Cerita Alkitab, Kisah Nabi Yeremia, Panggilan, Air Mata, dan Pengharapan

Ternyata mereka bukan tamu biasa.

Dua di antaranya adalah malaikat, dan satu lagi adalah Tuhan yang menampakkan diri dalam wujud manusia.

Tuhan menyampaikan maksud-Nya kepada Abraham.

Jeritan penderitaan yang berasal dari Sodom dan Gomora telah sampai ke hadapan-Nya, dan dosa kota itu sangat besar.

"Aku akan turun untuk melihat apakah benar demikian."

Abraham terkejut mendengar hal itu. Ia teringat bahwa keponakannya, Lot, tinggal di Sodom. Dengan hati penuh kegelisahan ia bersujud dan memohon kepada Tuhan,

"Tuhan, apakah Engkau akan membinasakan orang benar bersama orang fasik? Bagaimana jika ada 50 orang benar?"

Tuhan menjawab,

"Jika aku mendapati 50 orang benar di kota itu, aku tidak akan membinasakannya."

Abraham terus memohon. Jumlah itu diturunkan sedikit demi sedikit. Empat puluh, tiga puluh, dua puluh, hingga sepuluh orang.

Ketika sampai pada angka sepuluh, Abraham berhenti.

Ia berharap setidaknya masih ada sepuluh orang benar yang dapat menyelamatkan kota itu.

Pada waktu senja, kedua malaikat tiba di Sodom.

Lot sedang duduk di pintu gerbang kota.

Ketika melihat mereka, ia segera berdiri, bersujud, dan memohon agar mereka tinggal di rumahnya.

Ia mengetahui betul bahwa Sodom bukan tempat yang aman bagi orang asing.

Awalnya kedua malaikat itu menolak dan mengatakan bahwa mereka akan bermalam di lapangan kota.

Namun Lot terus mendesak mereka hingga akhirnya mereka setuju dan masuk ke rumahnya. Lot menyiapkan jamuan malam bagi mereka.

Tetapi malam itu belum lama berlalu ketika keributan terdengar dari luar rumah.

Penduduk kota, baik tua maupun muda, berkumpul mengelilingi rumah Lot. Mereka berteriak,

"Di mana pria-pria yang datang kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar supaya kami bisa menyetubuhi mereka."

Lot sangat ketakutan. Ia keluar dan menutup pintu di belakangnya. Dengan putus asa ia berkata,

"Jangan lakukan kejahatan ini. Mereka tamuku."

Namun orang-orang itu justru semakin liar. Mereka mendorong Lot dan mencoba mendobrak pintu rumahnya.

Pada saat itulah para malaikat menarik Lot masuk kembali ke dalam rumah dan membuat orang-orang di luar menjadi buta sehingga mereka tidak dapat menemukan pintu.

Kemudian para malaikat berkata kepada Lot.

"Siapa lagi yang kau miliki di kota ini, menantu, anak, keluarga? Bawa mereka keluar dari tempat ini, sebab kami akan memusnahkan kota ini."

Lot segera pergi menemui calon menantu-menantunya dan berkata.

"Ayo keluarlah. Tuhan akan menghancurkan kota ini."

Tetapi mereka menganggap kata-kata Lot hanya sebagai lelucon. Mereka tertawa dan tidak percaya.

Ketika fajar mulai menyingsing, para malaikat mendesak Lot untuk segera pergi. Namun Lot masih ragu-ragu.

Akhirnya para malaikat memegang tangan Lot, istrinya, dan kedua anak perempuannya, lalu menarik mereka keluar dari kota.

Setelah mereka berada di luar, malaikat berkata,

"Larilah, jangan menoleh ke belakang. Jangan berhenti di lembah. Pergilah ke pegunungan agar kalian selamat."

Lot memohon agar ia diizinkan melarikan diri ke kota kecil bernama Zoar, dan permintaannya dikabulkan. Namun satu perintah tetap ditegaskan: jangan menoleh ke belakang.

Mereka pun berlari meninggalkan kota.

Langkah kaki mereka semakin cepat, tetapi napas mereka terasa berat.

Angin mulai membawa bau belerang. Tanah perlahan bergetar.

Kedua anak perempuan Lot menangis.

"Ayah, Ibu, apakah kita akan mati?"

Lot tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan mereka semakin erat.

Langit berubah warna. Awan hitam bergulung seperti kain besar yang dicelup darah. Burung-burung menghilang, binatang-binatang melolong. Suara dentuman mulai terdengar dari arah kota.

Lot hanya berkata,

"Terus lari, jangan berhenti, jangan menoleh ke belakang."

Namun sesuatu yang jauh lebih dahsyat sedang terjadi di belakang mereka.

Saat Lot dan kedua anaknya terus berlari menuju Zoar, istrinya mulai tertinggal beberapa langkah.

Hatinyapun terasa berat. Pikirannya dipenuhi kenangan tentang rumahnya, dapurnya, tempat tidurnya, dan semua harta yang ia miliki.

Akhirnya ia menoleh ke belakang.

Dalam sekejap tubuhnya menjadi kaku. Ia tidak dapat bergerak lagi. Wajahnya membeku, dan matanya masih menghadap ke arah kota yang sedang binasa.

Ia berubah menjadi pilar garam.

Lot menyadari istrinya tidak lagi ada di sampingnya. Ia menahan tangis, tetapi ia tidak dapat berhenti berlari. Murka Tuhan sedang turun.

Tiba-tiba langit seakan terbelah. Cahaya yang sangat terang menembus awan gelap. Lalu api dan belerang turun dari langit dan menghantam Sodom dan Gomora.

Bumi berguncang. Rumah-rumah runtuh. Teriakan manusia memenuhi udara.

Api itu melahap segala sesuatu: batu, pohon, manusia, dan hewan.

Bangunan hancur hingga ke fondasinya. Air sumur mendidih.

Sungai mengering dan menguap. Jalan-jalan retak sementara asap hitam naik ke langit.

Jeritan terakhir terdengar, lalu semuanya menjadi sunyi.

Setelah api itu padam, yang tersisa hanyalah debu dan asap. Lot memandang lembah itu dari kejauhan. Kota yang dahulu megah kini telah hilang.

Yang tersisa hanyalah puing-puing hitam dan bau belerang yang menyengat.

Di kejauhan berdiri sosok putih yang sunyi: istrinya yang telah menjadi pilar garam. Ia menjadi peringatan bagi siapa saja yang menyesal meninggalkan dosa.

Lot dan kedua anaknya menangis. Kini mereka bertiga sendirian.

Pada pagi hari berikutnya, Abraham berdiri di bukit tempat ia biasa berdoa. Ia memandang ke arah lembah Sodom dan melihat asap yang naik seperti asap dari tungku besar.

Ia terdiam. Doanya malam sebelumnya kembali terngiang di pikirannya.

Ia telah memohon belas kasihan, tetapi ternyata tidak ada sepuluh orang benar di kota itu.

Tuhan tetap benar, adil, dan suci.

Abraham menundukkan kepalanya dan menyembah Tuhan.

Baca Juga: Khotbah Pantekosta Roma 5:5 Pdt Miracle Awuy, Kasih Sejati yang Tidak Dapat Dipadamkan

Lot dan kedua anak perempuannya akhirnya tiba di Zoar. Kota kecil itu selamat dari kehancuran. Mereka tinggal di sana untuk sementara waktu.

Namun rasa takut terus menghantui mereka. Setiap suara petir atau getaran tanah mengingatkan mereka pada kehancuran Sodom.

Zoar aman, tetapi hati mereka tidak.

Trauma masih membayangi. Mereka tidur dengan bayangan api dan jeritan. Tangan mereka gemetar ketika makan.

Mereka berbicara dengan suara pelan seolah takut mengganggu langit.

Lot menyadari bahwa meskipun mereka selamat secara jasmani, jiwa mereka telah terluka.

Akhirnya Lot memutuskan meninggalkan Zoar dan pergi ke pegunungan. Mereka tinggal di sebuah gua yang sunyi.

Lot kini hidup sebagai seorang duda tua tanpa rumah, tanpa keluarga besar, hanya ditemani masa lalu yang kelam.

Di dalam kegelapan gua, kedua anak perempuan Lot merasa masa depan mereka terancam. Mereka takut garis keturunan keluarga mereka akan berakhir.

Maka si sulung berkata,

"Mari kita beri ayah kita anggur dan tidur dengannya."

Mereka mengira itu satu-satunya cara untuk mempertahankan keturunan mereka.

Pada malam itu mereka membuat ayah mereka mabuk. Anak yang sulung tidur dengannya. Malam berikutnya giliran anak yang bungsu.

Lot tidak menyadari apa yang terjadi karena ia hidup dalam kabut trauma.

Dari peristiwa itu lahirlah dua anak: Moab dari anak perempuan yang sulung, dan Ben-Ami dari yang bungsu. Mereka menjadi nenek moyang dua bangsa besar, Moab dan Amon.

Kedua bangsa ini kelak sering menjadi musuh Israel, tetapi mereka tetap bagian dari rencana besar Tuhan.

Dari bangsa Moab kelak lahir seorang perempuan bernama Rut. Ia dikenal karena kasih dan kesetiaannya, dan akhirnya menjadi nenek buyut dari Raja Daud.

Kisah ini menunjukkan bahwa Tuhan mampu mengubah aib menjadi kemuliaan.

Berita tentang kehancuran Sodom menyebar dari mulut ke mulut. Orang-orang juga bercerita tentang seorang wanita yang berubah menjadi batu karena menoleh ke belakang.

Pilar garam itu masih berdiri.

Orang-orang yang melewatinya sering berbisik,

"Itulah istri Lot."

Ia menjadi peringatan bahwa hati yang masih melekat pada dunia dapat membuat seseorang gagal mencapai tujuan.

Berabad-abad kemudian Yesus berkata,

"Ingatlah akan istri Lot."

Lukas 17 ayat 32.

Lembah yang dahulu hijau kini berubah menjadi lautan garam. Tidak ada lagi suara anak-anak, musik, atau perdagangan. Yang terdengar hanya hembusan angin dan langkah binatang gurun.

Namun jeritan para korban ketidakadilan yang dahulu tertindas masih seakan bergema di tempat itu.

Jeritan itulah yang naik kepada Tuhan dan menggerakkan keadilan-Nya.

Tuhan tidak buta. Ia melihat, Ia mendengar, dan Ia bertindak.

Abraham kembali mengingat percakapannya dengan Tuhan: 50, 40, 30, hingga 10. Ia menyesal tidak meminta lebih. Namun ia juga memahami bahwa kebenaran tidak dapat berdiri tanpa pertobatan.

Walaupun penghakiman datang, belas kasihan Tuhan tetap menyelamatkan Lot karena doa seorang benar.

Syafaat memiliki kuasa. Doa tidak pernah sia-sia.

Ribuan tahun telah berlalu, tetapi dunia sekarang sering kali tidak jauh berbeda dengan Sodom. Dosa dirayakan, kekudusan diejek, yang benar dianggap jahat, dan yang jahat dianggap wajar.

Banyak orang menertawakan firman Tuhan seperti menantu-menantu Lot dahulu.

Namun kisah Sodom bukan sekadar cerita lama. Ia adalah peringatan bagi setiap generasi.

Kisah ini tidak hanya berakhir dengan kehancuran, tetapi juga dengan harapan. Tuhan masih menyediakan jalan keselamatan.

Lot diselamatkan. Abraham tetap diberkati. Dan dari bangsa Moab akhirnya lahir garis yang menuju kepada Mesias.

Sodom dan Gomora mengingatkan kita bahwa Allah membenci dosa tetapi mengasihi manusia. Ia memberikan waktu bagi manusia untuk bertobat, tetapi waktu itu tidak berlangsung selamanya. (YTB)

Editor : Deiby Rotinsulu
#cerita alkitab #Murkah Tuhan #abraham #sodom dan gomora