Pembacaan Alkitab: Matius 5:43–48
Tema: SEMPURNA
"Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna." (ayat 48)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, setelah melewati berbagai aktivitas sepanjang hari, kita tentu merasakan banyak hal dalam hidup ini. Ada peristiwa yang menyenangkan hati, ada pula yang mungkin membuat kita lelah, kecewa, bahkan marah.
Dalam perjalanan hidup sehari-hari, kita berjumpa dengan banyak orang: ada yang membawa sukacita, tetapi ada juga yang mungkin membuat kita kesal atau terluka.
Mungkin hari ini kita sempat bertemu dengan seseorang yang bersikap tidak menyenangkan. Mungkin ada kata-kata yang melukai hati kita, atau sikap seseorang yang membuat kita merasa tidak dihargai. Dalam situasi seperti itu, tidak jarang hati kita dipenuhi rasa kesal, kecewa, bahkan kemarahan yang masih tersimpan sampai malam hari.
Namun firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk melihat sesuatu yang lebih dalam tentang kehidupan sebagai pengikut Kristus. Yesus mengajarkan sebuah standar hidup yang sangat tinggi, bahkan mungkin terasa sulit bagi manusia. Ia berkata, “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.”
Ketika kita mendengar kata “sempurna”, mungkin kita langsung merasa tidak mampu. Kita tahu bahwa sebagai manusia kita memiliki banyak kelemahan dan keterbatasan. Kita sering melakukan kesalahan, kita mudah marah, kita kadang sulit mengampuni orang lain. Lalu bagaimana mungkin Tuhan meminta kita menjadi sempurna seperti Allah?
Untuk memahami firman ini, kita perlu melihat konteks pengajaran Yesus dalam bagian ini. Sebelum mengatakan ayat tersebut, Yesus berbicara tentang kasih kepada musuh. Ia berkata bahwa banyak orang hanya mengasihi orang yang mengasihi mereka.
Bahkan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan pun bisa melakukan hal itu. Tetapi Yesus mengajak para murid-Nya untuk melakukan sesuatu yang lebih besar: mengasihi musuh dan mendoakan mereka yang menganiaya kita.
Pengajaran ini sangat radikal. Secara manusiawi, kita cenderung membalas kebaikan dengan kebaikan dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Jika seseorang berbuat baik kepada kita, kita merasa mudah untuk mengasihinya. Tetapi jika seseorang menyakiti kita, kita sering merasa sulit untuk tetap mengasihinya.
Namun Yesus menunjukkan bahwa kasih Allah jauh melampaui cara berpikir manusia. Allah tidak hanya mengasihi orang-orang yang baik. Allah juga tetap menunjukkan kebaikan-Nya kepada mereka yang jahat.
Yesus berkata bahwa Allah menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
Artinya, kasih Allah tidak terbatas. Kasih-Nya tidak bersyarat. Ia tetap memberikan kebaikan kepada semua orang.
Pemazmur menggambarkan Allah sebagai Tuhan yang pengasih dan penyayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia. Allah tidak cepat marah dan tidak terus-menerus menuntut kesalahan manusia. Bahkan ketika manusia berdosa, Allah tetap membuka pintu pengampunan.
Rasul Paulus juga mengingatkan hal yang sama ketika ia berkata bahwa Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa. Itu berarti kasih Allah tidak menunggu manusia menjadi baik terlebih dahulu. Justru ketika manusia berada dalam keadaan berdosa, Allah menunjukkan kasih-Nya yang besar.
Saudara-saudari, kasih seperti inilah yang menjadi dasar pengajaran Yesus tentang kesempurnaan. Kesempurnaan yang dimaksud Yesus bukanlah kesempurnaan dalam arti tidak pernah melakukan kesalahan. Kesempurnaan yang dimaksud adalah kesempurnaan kasih.
Yesus mengajak para murid untuk meneladani kasih Allah yang sempurna. Kasih yang tidak terbatas pada kelompok tertentu, tetapi kasih yang mampu merangkul semua orang.
Menjadi sempurna seperti Bapa di surga berarti belajar mengasihi seperti Allah mengasihi. Itu berarti kita belajar mengampuni, belajar bersabar, dan belajar memberi kebaikan bahkan kepada orang yang tidak memperlakukan kita dengan baik.
Saudara-saudari, apakah hal ini mudah? Tentu tidak. Mengasihi orang yang menyenangkan kita mungkin mudah. Tetapi mengasihi orang yang menyakiti kita membutuhkan hati yang benar-benar dipenuhi oleh kasih Tuhan.
Namun Yesus tetap berkata, “Haruslah kamu sempurna.” Mengapa harus? Karena kita adalah ciptaan Allah yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya. Artinya, dalam diri kita terdapat potensi untuk mencerminkan sifat-sifat Allah.
Kita bukanlah ciptaan yang rusak atau gagal. Kita bukan manusia yang salah cipta. Allah menciptakan manusia dengan sangat baik. Dalam Kejadian dikatakan bahwa setelah menciptakan manusia, Allah melihat bahwa semuanya itu sungguh amat baik.
Karena itu, panggilan untuk menjadi sempurna bukanlah sesuatu yang mustahil. Tuhan tidak meminta sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia. Ia justru mengingatkan kita untuk kembali hidup sesuai dengan tujuan penciptaan kita.
Seperti sebuah buku yang dicetak dengan baik oleh percetakan, setiap halaman memiliki maksud dan tujuan tertentu. Jika ada halaman yang salah cetak, maka itu adalah kesalahan yang perlu diperbaiki. Namun manusia bukanlah hasil ciptaan yang salah. Kita adalah ciptaan yang memiliki nilai dan tujuan yang mulia.
Kesempurnaan yang Tuhan kehendaki terjadi ketika kita terus belajar menghidupi kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari. Kesempurnaan itu terlihat ketika kita mampu memberi pengampunan kepada orang yang bersalah kepada kita. Kesempurnaan itu terlihat ketika kita tetap menunjukkan kebaikan kepada orang lain tanpa memandang siapa mereka.
Kesempurnaan juga terlihat ketika kita tidak menyimpan dendam, tetapi memilih untuk membawa damai dalam relasi kita dengan sesama.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, dunia saat ini sangat membutuhkan kasih seperti itu. Banyak konflik terjadi karena manusia sulit mengampuni. Banyak hubungan hancur karena manusia lebih memilih membalas daripada berdamai.
Namun sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menghadirkan kasih yang berbeda. Kasih yang tidak dibatasi oleh kebencian, tetapi kasih yang membawa pengampunan dan pemulihan.
Ketika kita mempraktikkan kasih seperti ini, kita sebenarnya sedang menunjukkan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Orang lain akan melihat bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam hidup kita.
Mungkin kita tidak selalu berhasil. Ada kalanya kita masih jatuh dalam kemarahan atau kesalahan. Tetapi yang penting adalah kita terus belajar untuk bertumbuh dalam kasih.
Kesempurnaan dalam kehidupan Kristen bukanlah keadaan yang langsung tercapai dalam satu hari. Kesempurnaan adalah perjalanan hidup bersama Tuhan. Setiap hari kita belajar untuk semakin menyerupai karakter Kristus.
Setiap kali kita memilih mengampuni daripada membalas, kita sedang melangkah menuju kesempurnaan kasih. Setiap kali kita memilih melakukan kebaikan kepada orang lain, kita sedang mencerminkan sifat Allah dalam hidup kita.
Saudara-saudari, setelah menjalani berbagai aktivitas sepanjang hari ini, mungkin ada perasaan yang masih tersisa dalam hati kita. Mungkin ada kekecewaan, kemarahan, atau luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Firman Tuhan malam ini mengajak kita untuk meletakkan semua perasaan itu di hadapan Tuhan. Marilah kita memohon agar Tuhan memurnikan hati kita dan memenuhi kita dengan kasih-Nya.
Biarlah Roh Kudus menolong kita untuk mengampuni orang yang telah menyakiti kita. Biarlah Tuhan memberi kita kekuatan untuk tetap melakukan kebaikan kepada siapa pun.
Ketika kita hidup seperti itu, kita sedang memelihara kesempurnaan yang telah Tuhan tanamkan dalam diri kita sebagai ciptaan-Nya.
Kiranya setiap hari hidup kita semakin mencerminkan kasih Allah yang sempurna. Kasih yang mengampuni, kasih yang merangkul, dan kasih yang membawa damai bagi semua orang.
Dengan demikian, melalui kehidupan kita, dunia dapat melihat gambaran kasih Allah yang hidup dan bekerja di tengah manusia.
Marilah kita terus memelihara kesempurnaan diri kita sebagai buah ciptaan Tuhan, dengan menghidupi kasih-Nya dalam setiap langkah kehidupan kita. Amin.
Doa : Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Ajarlah kami hidup dalam kasih yang sempurna seperti kasih-Mu. Tolong kami mengampuni, mengasihi, dan melakukan kebaikan kepada semua orang. Penuhi hati kami dengan damai dan kerendahan hati agar hidup kami memuliakan nama-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Clavel Lukas