Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, Hari Jumat 27 Maret 2026, Bacaan I Yeremia 20:10-13, Bacaan Injil Yohanes 10:31-42

Fandy Gerungan • Jumat, 20 Maret 2026 | 11:24 WIB


Photo
Photo


Pekan Prapaskah V (Warna Liturgi Ungu)

Bacaan I Yeremia 20:10-13

Aku telah mendengar bisikan banyak orang: "Kegentaran datang dari segala jurusan! Adukanlah dia! Kita mau mengadukan dia!" Semua orang sahabat karibku mengintai apakah aku tersandung jatuh: "Barangkali ia membiarkan dirinya dibujuk, sehingga kita dapat mengalahkan dia dan dapat melakukan pembalasan kita terhadap dia!"

Tetapi TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka akan menjadi malu sekali, sebab mereka tidak berhasil, suatu noda yang selama-lamanya tidak terlupakan!

Ya TUHAN semesta alam, yang menguji orang benar, yang melihat batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.

Menyanyilah untuk TUHAN, pujilah TUHAN! Sebab ia telah melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orang-orang yang berbuat jahat.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 18:2-3a,3bc-4,5-6,7

Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!

Terpujilah TUHAN, seruku; maka akupun selamat dari pada musuhku.

Terpujilah TUHAN, seruku; maka akupun selamat dari pada musuhku.

Tali-tali maut telah meliliti aku, dan banjir-banjir jahanam telah menimpa aku,

tali-tali dunia orang mati telah membelit aku, perangkap-perangkap maut terpasang di depanku.

Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya.

Lalu goyang dan goncanglah bumi, dan dasar-dasar gunung gemetar dan goyang, oleh karena menyala-nyala murka-Nya.

Bacaan Injil Yohanes 10:31-42

Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus.

Kata Yesus kepada mereka: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?"

Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah."

Kata Yesus kepada mereka: "Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah?

Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah?sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan?,

masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?

Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku,

tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa."

Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka.

Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ.

Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: "Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar."

Dan banyak orang di situ percaya kepada-Nya.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i Pernahkah kamu merasa sendirian saat berusaha melakukan yang benar?. Bukan karena kamu salah, tapi justru karena kamu memilih untuk tidak ikut arus.

Itulah yang dialami oleh Nabi Yeremia. Ia tidak sedang melawan musuh dari luar saja, tetapi juga menghadapi tekanan dari orang-orang terdekatnya sendiri.

Bisikan, fitnah, bahkan harapan agar ia jatuh semuanya datang dari sekitar hidupnya. Situasi seperti ini sangat manusiawi: ketika kebenaran yang kita pegang justru membuat kita dijauhi.

Namun di tengah semua itu, ada satu hal yang tidak berubah: Tuhan tetap menyertai. Bukan sekadar hadir, tetapi hadir sebagai kekuatan yang nyata.

Saat manusia merancang kejatuhan, Tuhan justru menjadi perlindungan. Saat dunia menekan, Tuhan menguatkan dari dalam.

Injil hari ini menunjukkan gambaran yang lebih tajam lagi. Yesus sendiri mengalami penolakan, bahkan dari mereka yang melihat langsung kebaikan-Nya. Ia tidak ditolak karena melakukan kejahatan, tetapi justru karena kebenaran yang Ia bawa terlalu sulit diterima.

Kadang, terang memang menyakitkan bagi mata yang terbiasa dengan gelap.
Yesus tidak membalas dengan kemarahan atau kekerasan. Ia tetap tenang, tetap setia pada misi-Nya.

Ia tidak memaksakan orang untuk percaya, tetapi mengundang mereka untuk melihat, memahami, dan akhirnya memilih dengan hati yang terbuka.

Di sini kita belajar satu hal penting: menjadi benar tidak selalu membuat kita diterima. Akan ada saat di mana kita disalahpahami. Akan ada momen ketika niat baik kita dipelintir. Bahkan mungkin, orang yang dulu dekat justru menjadi yang paling keras mengkritik.

Tapi renungan ini mengingatkan kita: jangan menyerahkan hidupmu pada penilaian manusia, serahkan pada Tuhan.

Seperti Yeremia yang memilih untuk tetap percaya meski dikelilingi ancaman, dan seperti Yesus yang tetap berjalan meski tahu risiko yang dihadapi, kita pun dipanggil untuk setia bukan karena jalan ini mudah, tetapi karena ini benar.

Menariknya, di akhir kisah Injil, justru ada orang-orang sederhana yang akhirnya percaya. Mereka tidak terjebak dalam ego atau prasangka. Mereka melihat dengan hati.

Artinya, kebenaran tidak pernah benar-benar sia-sia. Akan selalu ada hati yang terbuka untuk menerimanya.

Hari ini, kita diajak untuk merenung. Apakah kita berani tetap benar, meski harus sendirian?. Apakah kita tetap percaya, meski keadaan seolah melawan?.

Karena pada akhirnya, yang menentukan bukan seberapa banyak orang yang setuju dengan kita, tetapi apakah kita tetap berjalan bersama Tuhan. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan