Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan untuk Umat Katolik, HARI MINGGU PALMA MENGENANG SENGSARA TUHAN, Hari Minggu 29 Maret 2026

Fandy Gerungan • Sabtu, 21 Maret 2026 | 09:00 WIB

Photo
Photo

HARI MINGGU PALMA (Warna Liturgi Merah)

Bacaan I Yesaya 50:4-7

Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.

Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.

Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.

Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 22:8-9,17-18a,19-20,23-24

"Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?"

Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan; Engkau yang membuat aku aman pada dada ibuku.

Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku.

Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.

Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku!

Lepaskanlah aku dari pedang, dan nyawaku dari cengkeraman anjing.

kamu yang takut akan TUHAN, pujilah Dia, hai segenap anak cucu Yakub, muliakanlah Dia, dan gentarlah terhadap Dia, hai segenap anak cucu Israel!

Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya.

Bacaan II Filipi 2:6-11

yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,

supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,

dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Bacaan Injil Matius 27:11-54

Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya."

Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apapun.

Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?"

Tetapi Ia tidak menjawab suatu katapun, sehingga wali negeri itu sangat heran.

Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak.

Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas.

Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?"

Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.

Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: "Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam."

Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati.

Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: "Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?" Kata mereka: "Barabas."

Kata Pilatus kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!"

Katanya: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Ia harus disalibkan!"

Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!"

Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!"

Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus.

Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya.

Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!"

Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya.

Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan.

Ketika mereka berjalan ke luar kota, mereka berjumpa dengan seorang dari Kirene yang bernama Simon. Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.

Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak.

Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya.

Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi.

Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia.

Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: "Inilah Yesus Raja orang Yahudi."

Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya.

Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala,

mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!"

Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata:

"Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.

Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah."

Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga.

Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga.

Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: "Ia memanggil Elia."

Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum.

Tetapi orang-orang lain berkata: "Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia."

Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.

Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah,

dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.

Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.

Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i Hari Minggu Palma selalu terasa unik. Di satu sisi, kita membayangkan suasana penuh sukacita orang-orang menyambut Yesus dengan penuh semangat.

Tetapi di sisi lain, kita langsung dihadapkan pada kisah penderitaan yang begitu dalam. Seolah-olah Gereja ingin berkata: hidup ini tidak selalu tentang sorak-sorai, kadang justru berakhir di salib.

Yesus masuk sebagai Raja tetapi bukan raja seperti yang dibayangkan manusia. Ia tidak datang dengan kekuatan, melainkan dengan kerendahan. Ia tidak mempertahankan kemuliaan-Nya, tetapi justru mengosongkan diri dan memilih jalan sebagai hamba.

Dan di situlah letak misterinya: kemenangan sejati justru lahir dari kerendahan hati dan ketaatan. Dalam bacaan pertama, kita melihat sosok yang tetap setia meskipun harus menghadapi penghinaan, penderitaan, dan penolakan.

Ia tidak lari. Ia tidak mundur. Ia tetap berjalan, karena ia tahu siapa yang menyertainya. Dalam Injil, gambaran itu menjadi nyata dalam diri Yesus. Ia diadili tanpa membela diri.

Ia dihina tanpa melawan. Ia disiksa tanpa membalas. Bahkan ketika orang banyak diberi pilihan, mereka justru memilih membebaskan seorang penjahat dan menyerahkan Dia untuk disalibkan.

Ini bukan hanya kisah masa lalu. Ini cermin hidup kita hari ini. Bukankah kita juga sering seperti orang banyak itu?. Hari ini memuji, besok menghakimi.
Hari ini dekat, besok menjauh. Hari ini percaya, besok ragu.

Kita mudah terbawa arus. Mudah ikut suara terbanyak. Bahkan kadang kita tahu mana yang benar, tetapi tetap memilih yang populer. Ada juga sisi lain yang lebih dalam. kita ingin Yesus hadir dalam hidup kita tetapi sering dengan syarat.

Kita ingin Dia menolong, memberkati, menyelesaikan masalah. Tetapi ketika jalan-Nya tidak sesuai harapan kita, kita mulai kecewa. Kita mulai bertanya, bahkan mungkin mulai menjauh.

Yesus hari ini menunjukkan bahwa jalan Tuhan tidak selalu nyaman.
Kadang sunyi. Kadang menyakitkan. Kadang terasa tidak adil. Tetapi justru di sanalah kasih-Nya paling nyata.

Ia tidak turun dari salib untuk membuktikan siapa diri-Nya. Ia tetap tinggal di sana, karena kasih-Nya kepada kita. Dan mungkin, inilah pertanyaan terbesar untuk kita hari ini: Apakah kita tetap mau mengikuti-Nya bahkan sampai ke salib?.

Bukan salib besar yang dramatis, tetapi salib kecil setiap hari:mengampuni saat disakiti, tetap jujur saat ada kesempatan untuk curang, tetap setia saat keadaan tidak mendukung.

Hari Minggu Palma bukan hanya tentang melambaikan daun palma, tetapi tentang kesiapan hati: apakah kita hanya mau ikut saat suasana meriah, atau juga setia saat jalan menjadi berat?. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan