Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, KAMIS PUTIH, Hari Kamis 2 April 2026

Fandy Gerungan • Selasa, 24 Maret 2026 | 14:51 WIB

Photo
Photo

KAMIS PUTIH (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Keluaran 12:1-8,11-14

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun di tanah Mesir:

"Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun.

Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga.

Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang.

Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing.

Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja.

Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya.

Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit.

Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN.

Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN.

Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir.

Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 116:12-13,15-16bc,17-18

Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?

Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN,

Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya.

Ya TUHAN, aku hamba-Mu! Aku hamba-Mu, anak dari hamba-Mu perempuan! Engkau telah membuka ikatan-ikatanku!

Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama TUHAN,

akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya,

Bacaan II 1 Korintus 11:23-26

Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti

dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!"

Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!"

Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Bacaan Injil Yohanes 13:1-15

Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.

Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.

Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.

Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya,

kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.

Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?"

Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak."

Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku."

Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!"

Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua."

Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih."

Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu?

Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.

Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu;

sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i ada satu benang merah yang sangat kuat dalam bacaan hari ini "kasih yang nyata dalam tindakan". Dalam kisah awal, kita melihat sebuah peristiwa penting: sebuah keluarga diminta untuk bersiap, makan dengan cepat, dan percaya bahwa Tuhan sedang bekerja menyelamatkan mereka.

Ada tanda yang diberikan, ada pengorbanan yang dilakukan, dan ada harapan akan pembebasan. Ini bukan sekadar ritual, tetapi momen di mana hidup manusia benar-benar bergantung pada ketaatan dan iman.

Lalu, kita dibawa ke sebuah malam yang sunyi namun penuh makna. Sebuah perjamuan sederhana berubah menjadi tanda kasih yang kekal. Roti dan anggur bukan lagi sekadar makanan.

Tetapi Itu menjadi lambang penyerahan diri total. Di sini kita melihat bahwa kasih sejati selalu melibatkan pengorbanan memberi diri, bukan sekadar memberi sesuatu.

Namun yang paling mengejutkan justru terjadi bukan di meja makan, tetapi di lantai. Seorang Guru, yang seharusnya dilayani, justru berlutut dan melakukan pekerjaan seorang hamba.

Ia tidak hanya berbicara tentang kasih Ia menunjukkannya dengan cara yang sangat nyata dan bahkan “tidak nyaman”.

Di sinilah kita sering tersentuh, sekaligus tertantang. Karena jujur saja, kita lebih mudah mengasihi dalam kata-kata daripada dalam tindakan. Kita lebih nyaman dihormati daripada merendahkan diri. Kita ingin dilayani, bukan melayani.

Padahal, inti dari iman kita bukan hanya tentang percaya, tetapi menjadi seperti Dia. Kasih yang sejati:bukan hanya memberi saat kita mampu,tetapi juga saat itu terasa berat.

Bukan hanya mengasihi yang baik kepada kita, tetapi juga mereka yang mungkin melukai kita.Hari ini kita diajak untuk melihat kembali hidup kita.

Apakah kita sudah menjadi pribadi yang berani berkorban?.
Apakah kita mau merendahkan diri untuk melayani orang lain?.
Atau jangan-jangan kita masih sibuk menjaga gengsi dan kenyamanan?.

Tuhan tidak hanya ingin kita mengenang peristiwa besar itu. Ia ingin kita menghidupinya setiap hari. Karena setiap kali kita memilih untuk mengasihi, mengampuni, dan melayani dengan tulus di situlah kita sedang menghadirkan kembali makna perjamuan itu dalam hidup kita.

Hari ini, mari kita belajar satu hal sederhana, tidak perlu melakukan hal besar untuk mengasihi. Cukup mulai dari hal kecil tapi dilakukan dengan hati yang tulus.

Karena kasih yang sejati selalu terlihat bukan dari seberapa besar kata-kata kita, tetapi dari seberapa dalam kita mau merendahkan diri untuk orang lain. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan