Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

MTPJ GMIM 26 April-2 Mei 2026, 1 Yohanes 3:11-18 Mengasihi Dengan Perbuatan Dan Dalam Kebenaran

Aprilia Sahari • Selasa, 14 April 2026 - 14:23 WIB
Logo GMIM
Logo GMIM

 

MTPJ GMIM 26 April-2 Mei 2026

Tema Bulanan: "Spiritualitas Kebangkitan Yesus Kristus Menggerakkan Gereja Untuk Melayani Mewujudkan Tanda-Tanda Kerajaan Allah"
Tema Mingguan: "Mengasihi Dengan Perbuatan Dan Dalam Kebenaran"
Bacaan Alkitab: 1 Yohanes 3:11-18

ALASAN PEMILIHAN TEMA
Dunia modern dipenuhi kasih yang dangkal dan bersyarat. 

Banyak kasih di saat ini bersifat selektif, manipulatif dan hanya muncul jika menguntungkan. 

Kita hidup di zaman dimana orang mudah menuliskan kata-kata kasih tetapi sering tidak disertai tindakan nyata. 

Di dunia yang semakin menormalisasi kebencian, polarisasi, dan kekerasan, kasih yang nyata menjadi tanda pembeda anak-anak Allah.

Realitas ini mengajak jemaat untuk kembali pada jati diri sejati yakni hidup dalam kasih yang memuliakan Tuhan Allah.

Karena gereja bukan sekadar tempat ibadah, tetapi komunitas yang menghadirkan kasih Tuhan Yesus Kristus bagi dunia.

Kasih Yesus Kristus adalah kasih sejati yang aktif, tulus dan tanpa pamrih.

1 Yohanes 3:11-18 di bawah tema: "MENGASIHI DENGAN PERBUATAN DAN DALAM KEBENARAN" sangat relevan untuk menantang pola kasih yang palsu dalam masyarakat di saat ini. 

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese) 
Menurut Sitompul dan Beyer, dalam Perjanjian Baru ada tiga jenis sastra besar (genre), yaitu naratif, tulisan/surat, dan wahyu. 

1 Yohanes termasuk dalam kategori tulisan/surat (epistle). 

Beberapa ahli PB memperdebatkan bahwa 1 Yohanes tidak dapat dikatakan sebagai suatu surat, karena strukturnya hampir tidak memenuhi unsur-unsur sebuah surat.

Dalam PB, hanya 1 Yohanes dan Ibrani yang tidak mencantumkan nama pengarangnya.

Hingga kini, tidak ada kesatuan pendapat dari para ahli PB tentang siapa pengarangnya. 

Latar belakang penulisan adalah adanya ajaran sesat yang dilawan yakni Gnostikisme awal, terutama Doketisme.

Ciri utamanya adalah penyangkalan bahwa Tuhan Yesus itu adalah Kristus (1 Yoh. 2:22). 

Dalam situasi merebaknya keinginan untuk mencampuradukkan kekristenan dengan paganisme (agama yang menyembah banyak dewa), maka usaha yang dilakukan penulis adalah dengan menampilkan kekristenan yang benar untuk mencela kekeliruan ajaran sesat itu. 

1 Yohanes ditulis untuk sekelompok orang kristen yang kemungkinan tidak hanya berasal dari komunitas Asia Kecil. 

Teks 1 Yohanes 3:11-18 adalah gagasan mengenai tingkah laku seseorang harus sesuai dengan imannya (1 Yoh. 2:3). 

Ayat 11-12 menjelaskan bahwa orang kristen di Asia Kecil telah mendengar sejak awal kalau mereka harus saling mengasihi (Yun. agapõmen), artinya mengasihi dengan kasih yang tulus, tanpa pamrih dan penuh pengorbanan.

Kasih yang tidak bergantung pada keadaan atau perbuatan orang yang dikasihi, kasih tanpa syarat, atau kasih Tuhan Allah dalam Yesus Kristus.

Jemaat harus secara aktif melakukan perbuatan mengasihi satu sama lain.

Penulis menekankan "kembali ke awal," artinya jika pengalaman rohani berasal dari Tuhan Allah, jemaat dituntut untuk saling mengasihi tetapi jika berasal dari iblis, mereka akan saling membenci. 

Kain adalah contoh kehidupan yang dipenuhi kebencian (Kej. 4:1-16).

Kain dan Habel adalah dua bersaudara dan keduanya mempersembahkan kurban kepada Tuhan Allah.
 
Perbedaan persembahan mereka adalah iman (Ibr. 11:4), dan iman selalu didasarkan pada firman yang Tuhan Allah berikan (Rm. 10:17). 

Jelas bahwa Tuhan Allah telah memberikan petunjuk tentang bagaimana Dia harus disembah. 

Kain menolak dan memutuskan untuk beribadah dengan caranya sendiri. 

Tuhan Allah menerima persembahan Habel dan menolak persembahan Kain.

Habel meninggalkan mezbah dengan kesaksian penerimaan Tuhan Allah di dalam hatinya, tetapi Kain pergi dengan amarah dan kekecewaan (Kej. 4:4-6).

Rasa dengki telah berubah menjadi amarah dan kebencian.

Kain tahu bahwa dirinya jahat dan saudaranya benar, bukannya bertobat seperti yang diperintahkan Tuhan Allah, ia justru memutuskan untuk membunuh saudaranya. 

Seperti Kain, orang-orang di dunia mencoba menutupi sifat asli mereka dengan ritual keagamaan tetapi mereka justru takluk pada Iblis. 

Ayat 13-15, bagian ini mencatat bahwa kebencian sama dengan pembunuhan. 

Satu-satunya perbedaan adalah tindakan lahiriah untuk mengambil nyawa namun tindakan batiniahnya sama. 

Di mata Tuhan Allah kebencian setara dengan pembunuhan secara moral dan jika dibiarkan tak terkendali maka kebencian mengarah pada pembunuhan.

Seorang kristen telah berpindah dari maut ke hidup (Yoh. 5:24) dan buktinya adalah ia mengasihi saudara-saudaranya.

Ketika ia menjadi bagian dari dunia, ia membenci umat Tuhan Allah.

Tetapi setelah ia menjadi milik Tuhan Allah, ia mengasihi mereka. 

Ayat 16-18 menjelaskan bahwa satu-satunya cara hidup yang bahagia dan kudus adalah mengasihi dengan kasih Yesus Kristus. 

Kasih adalah kodrat Tuhan Allah bukan sekadar respons yang dipaksakan melainkan respons yang alami.

Dalam Perjanjian Lama, kata kasih memiliki banyak arti. 

Kata kasih berarti perasaan yang sangat kuat antara laki-laki dan perempuan (Kej. 24:67). 

Sejumlah teks PL melukiskan kasih yang terjalin di antara anggota keluarga (Kej. 25:27-28), antara sahabat (2 Sam. 1:26), juga antara tuan dan budak-budaknya (Ul. 15:16-17). 

Di atas segalanya, umat Israel harus mengasihi Tuhan Allah (Ul. 6:5), sesamanya (Im. 19:18), juga orang asing yang ada di negeri mereka (Ul. 10:17-19). 

Dalam kitab-kitab Injil, Tuhan Yesus mengajar para murid-Nya untuk menaati perintah yang paling utama, yaitu mengasihi Tuhan Allah dan sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri (Mrk. 12:28-33).

Injil Yohanes menekankan besarnya kasih Tuhan Allah kepada dunia (Yoh. 3:16) dan Tuhan Yesus mengajak murid-muridNya untuk saling mengasihi (Yoh. 13:34-35). 

Ketika berkhotbah di bukit, Tuhan Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya untuk mengasihi musuh-musuh mereka karena Tuhan Allah juga berbuat demikian (Mat. 5:43-48). 

Dalam PB, salah satu kata Yunani yang sering dipakai untuk kasih adalah "agape" yakni kasih yang rela berkorban bagi kepentingan orang lain, seperti kasih Tuhan Allah dalam Yesus Kristus. 

Menurut Rasul Paulus, kasih bukanlah sekadar perasaan melainkan bagaimana kita bersikap terhadap orang lain (1 Kor. 13:1-13). 

Di ayat 18, Kata Yunani agapõmen berarti orang kristen dituntut untuk melakukan tindakan mengasihi bukan hanya menerima kasih, di saat ini dan di masa yang akan datang. 

Menyatakan kasih bukan dengan perkataan atau dengan lidah tetapi dengan perbuatan (Yun. ergõ) dan dalam kebenaran (Yun. alétheia). 

Kata Yunani ergõ menjelaskan bahwa mengasihi adalah cara atau alat yang digunakan untuk melakukan sesuatu, misalnya: menolong saudara yang menderita kekurangan (ay. 17).

Kata Yunani alëtheia artinya sebuah konsep yang menyatakan bahwa hal itu sungguh benar dan tulus atau tidak munafik.

Maka, tindakan mengasihi melalui pemberian diri (waktu, tenaga, perhatian, materi) tanpa mengharapkan imbalan bagi mereka yang membutuhkan adalah hal yang benar-benar sesuai dengan firman Tuhan Allah.

Makna dan Implikasi Firman 
1. Kasih adalah perintah utama dari Tuhan Allah dan Dia sendiri telah menunjukkannya melalui karya Yesus Kristus.

Bagi orang percaya, saling mengasihi bukanlah pilihan melainkan perintah yang harus diwujudkan dalam hidup sehari-hari. 

Kasih adalah ciri khas anak-anak Tuhan Allah, sedangkan kebencian adalah ciri dunia (Iblis). 

Warga jemaat GMIM bersama para pelayan khusus (Diaken, Penatua, Guru Agama dan Pendeta) harus hidup dalam kasih Tuhan Allah, bukan dalam kebencian atau iri hati. 

2. Tindakan mengasihi sesama adalah bukti bahwa seseorang telah berpindah dari kematian kepada hidup.

Tanpa kasih, umat Tuhan Allah tetap tinggal dalam kematian rohani. 

Kasih yang sejati tidak hanya aktif tetapi juga dilakukan dalam kebenaran artinya sesuai dengan firman Tuhan Allah, bukan sekadar baik menurut manusia. 

Penting untuk menyeimbangkan antara kasih yang tulus dan hidup yang benar di hadapan Tuhan Allah. 

3. Warga jemaat agar menyadari bahwa kasih sejati bukan hanya berupa perkataan namun harus ditunjukkan melalui tindakan nyata terhadap sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan.

Jemaat diajak untuk menerapkan kasih secara konkrit (nyata) bukan hanya secara teori atau emosi. 

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
1. Apa arti mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran menurut 1 Yohanes 3:11-18? 
2. Pernahkah saudara merasa sulit untuk mengasihi seseorang? Hal apa saja yang menjadi faktor penghambat? 
3. Bagaimana saudara bisa menerapkan kasih dalam tindakan nyata di lingkungan keluarga, gereja atau pekerjaan? 

NAS PEMBIMBING: Matius 22:37-40

POKOK-POKOK DOA: 
1. Agar jemaat bersyukur atas kasih Allah yang lebih dahulu mengasihi lewat pengorbanan Yesus di kayu salib. 
2. Memohon agar jemaat dijauhkan dari iri hati, kebencian dan roh seperti Kain. 
3. Supaya warga jemaat sungguh-sungguh menghidupi kasih sebagai perintah utama dalam kehidupan sehari-hari, sehingga banyak orang tertarik untuk mengenal Tuhan Yesus. 

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN:
HARI MINGGU BENTUK IV 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN :
Nyanyian Pembukaan: NNBT No. 7 "Mari Puji Tuhan Yesus." 
Nas Pembimbing: PKJ No. 128 "Kasih Tuhan Yesus Bertepi."
Pengakuan Dosa & Pengampunan: KJ No. 29 "Di Muka Tuhan Yesus." 
Persembahan: KJ No.287a "Sekarang B'ri Syukur."
Nyanyian Penutup: PKJ No. 228 "Bapa Sorgawi." 

ATRIBUT:
Warna Dasar Putih dengan Lambang Bunga Bakung dengan Salib Berwarna Kuning 

Editor : Aprilia Sahari
#MTPJ #GMIM #Renungan GMIM